Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 313


__ADS_3

"Nah! Itulah...!" seru Si Wanita pendeta palsu itu yang membenarkan jawaban Yui Lan.


"Tapi... tapi iblis itu belum tentu orang yang telah membunuh kedua orang tua angkatku." kata Yui Lan.


"Ya, benar. Tapi apa bedanya? Menjadi kewajiban kita untuk menyingkirkan para perusuh dan penjahat yang mengganggu rakyat. Seorang pendekar haruslah..." kata wanita pendeta palsu itu.


"Tapi aku bukanlah seorang pendekar, aku hanya seorang seniman!" seru Yui Lan yang memotong.


"Gila! Ya.. sudah! Sudah!" perempuan tua itu berseru kesal dan jengkel, lalu melangkahkan kakinya lebih cepat lagi sehingga gadis itu terpaksa berlari-lari kecil mengejarnya.


"Adik angkat.....!" serug hu ttt theerempuan tua itu berjalan terus tanpa mempedulikan panggilan adik angkatnya. Tapi langkahnya mendadak terhenti ketika dari arah depan muncul lima orang lelaki berjalan tergesa ke arahnya. Dan perempuan tua itu segera memegang lengan Yui Lan.


"Hati-hati!" perempuan tua itu memperingatkan adik angkatnya. Kelima orang lelaki itu dengan cepat telah berada di depan mereka. Langkah kaki kelima orang itu sungguh mantap dan gesit, dan hampir tidak menimbulkan debu sama sekali, sehingga sekali pandang saja setiap orang akan ,xtahu bahwa mereka adalah tokoh-tokoh persilatan tingkat tinggi.


"Ah, kiranya Lima Pendekar Dari Kong An yang datang..!" Pendeta Palsu dari Teluk Po-hai itu menyambut kedatangan orang-orang itu dengan gembira.


"Bagaimana khabarnya pertemuan di lembah itu tadi malam? Apakah kita telah mendapatkan cara untuk menangkap iblis itu?"tanya pendekar wanita.


"Hei! Rupanya pendeta wanita telah menemukan kembali anak gadis yang hilang itu!" orang tertua dari Kong-tong Ngo-hiap itu menyapa pula dengan ramahnya.


Matanya menatap Yui Lan dari ujung kepala sampai keujung kaki, seolah-olah ingin bertanya, kemana saja gadis itu tadi malam sehingga Saudarinya sampai kebingungan setengah mati.


Dia berada di dalam jurang dibawah bukit itu!" perempuan tua itu cepat menerangkan. Kong-tong Ngo-hiap itu saling berpandangan satu sama lain, kelihatannya ada sesuatu yang mereka pikirkan. Kelima orang itu adalah kakak beradik seperguruan dari Aliran kong An di Kong-An-san. Dan secara kebetulan pula mereka berlima adalah saudara sekandung.

__ADS_1


Masing-masing berusia antara tiga puluh lima sampai empat puluh lima tahun. Dan mereka itu adalah putera sekaligus murid-murid utama dari Ketua perguruan Kong-An sekarang.


"Jadi... jadi pendekar yang berada di jurang itu pagi tadi?"


"Eh... ataukah masih ada orang yang lain lagi di sana? Hmm... begini, lo-ni. Jangan kaget..! Tadi pagi salah seorang dari para pendekar telah mendengar suara letusan di dalam jurang itu. Ketika ia mencoba turun ke sana, dia melihat bayangan seseorang di tempat yang gelap itu. Dia tak berani melihat sendiri, oleh karena itu ia melaporkannya kepada Kang Lam Koai-hiap. Kemudian Kang Lam Koai-hiap memerintahkan ayahku untuk memeriksanya. Dan ayahpun lalu mengerahkan kami semua... Dan itulah sebabnya kami berada disini sekarang." Ji Tai, orang tertua dari Kong-tong Ngo-hiap itu berkata lagi.


"Kang Lam koai-hiap...? Dia memberi perintah kepada ketua perguruan Kong An...?" Si Pendeta Palsu dari Teluk po-hai memotong tak mengerti.


"Ah, maaf... kami belum memberitahukan hasil dari pertemuan kita tadi malam kepada pendekar." tiba-tiba Ji Tai Jiang, orang kedua yang bersuara lantang dan keras, menyela percakapan tersebut.


"Adik ketiga, coba kau ceritakan sekali lagi kepada lo-ni tentang pertemuan kita tadi malam agar beliau ini tidak bingung!" sambungnya lagi seraya menoleh ke arah Tai Song, pendekar yang paling pandai dan berbakat di dalam aliran Kong An. Tai Song, yang berusia empat-puluh tahun dan berbadan tegap itu tersenyum menganggukkan kepalanya.


"Pendekar....! Di dalam pertemuan malam tadi telah diputuskan untuk mengangkat Kang Lam Koai-hiap sebagai pemimpin umum di dalam perburuan ini. Meski Kang Lam Koai-hiap bukanlah orang terpandai atau yang tertua diantara kita, apalagi dia belum sembuh dari lukanya namun semua pendekar telah satu-padu dan bersepakat untuk mengangkatnya sebagai pemimpin. Hal itu kita lakukan demi untuk menghormatinya dan menghargainya sebagai tuan rumah yang paling berkepentingan di dalam urusan ini. Semula orang tua itu memang menolaknya. Tapi kami semua segera mendaulatnya, sehingga dengan berat hati dia terpaksa menerimanya pula," katanya dengan halus dan teratur.


"Tidak cuma ayahku yang harus tunduk oleh perintahnya. Masih ada ketua partai persilatan lagi yang bernasib sama dengan ayahku. Namun kami semua itu memang sudah kami kehendaki sendiri, semuanya tidak menjadi sakit hati karenanya..." Tai song tersenyum pula diikuti oleh saudara-saudaranya.


"Tiga ketua partai persilatan? Siapa sajakah mereka itu?" tanya Pendeta Palsu Dari Teluk po-hai menegaskan.


"Mereka itu adalah ketua-ketua partai persilatan perguruan Tai-khek, perguruan Ngo Bi dan prguruan Tiam-jong." jawab Tapi Song.


Hei? Ketua perguruan Tiam-jong, Si Kelelawar Hitam itu juga datang?" tanya Pendeta Palsu dari Teluk Po-hai itu berseru girang.


"Benar. Beliau datang bersama-sama dengan ketua perguruan Ngo-bi, Siu Li si Bidadari Berselendang Merah." jawab Tai Song.

__ADS_1


"Oh... dia juga datang?" tiba-tiba wajah Pendeta Palsu itu menjadi gelap kembali. Ketua aliran Kong-An merasa sangat heran melihat perubahan wajah lawannya. Tapi, mereka berlima tidak ingin mencampuri urusan pribadi orang lain. Oleh karena itu mereka berlima tidak mau menanyakan terlebih lanjut. Sebaliknya, Tai Song malah meneruskan ceritanya.


"Menurut pendekar Kang Lam, kita semua dibagi menjadi lima rombongan, agar supaya para pendekar yang banyak jumlahnya dan belum saling mengenal itu tidak menjadi ribut atau saling gasak sendiri di dalam menjalankan tugasnya nanti. Dan setiap rombongan itud juga telah memperoleh daerah-daerah sendiri dalam tugasnya. Sementara di dalam operasinya nanti, setiap rombongan itu masih dibagi-bagi lagi menjadi beberapa kelompok, dimana masing-masing pemimpin kelompok itu harus sudah saling mengenal satu sama lain." kata Tai Song


"Ah... begitu rapinya!" si Pendeta Palsu dari teluk Po-hai berdecak kagum.


"Tentu saja, pendekar. Selain itu setiap rombongan dan setiap kel mobilompok juga memiliki tanda pengenal dan kata-kata sandi tersendiri, sehingga bentrokan dan salah tangkap diantara kita sendiri dapat dihindari." jawab Tai Song.


"Wah...kalau begitu aku masuk rombongan yang mana?" Si Pendeta PaIsu ghaib dari Teluk Po-hai itu bertanya karena bingung.


   .


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2