Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 144


__ADS_3

Saudaraku Hek Bin, sekarang selagi kita mempunyai keberuntungan untuk saling bertemu, saya harap kau tidak pelit dan suka memberi penerangan kepada kami para pendekar yang bodoh." kata Pendekar tua Pek Ji yang merendah


"Kami bukannya memberontak pada pemerintahan kaisar, tapi kami membela rakyat kecil yang tertindas. Perguruan Elang Sakti mendukung adanya pembangunan di aliran sungai Kuning dan Sungai Yang Ce, dan kesemuanya itu menggunakan waktu dan tenaga rakyat kecil. Jadi kami mohon untuk pemerintah, tolong perhatikan kesejahteraan para pekerja. Mereka bekerja juga untuk menghidupi anak dan istri mereka. Kalau kesejahteraan mereka terjamin, maka mereka akan bekerja dengan penuh semangat dan pembangunan di sungai Kuning dan Sungai Yang Ce, akan cepat selesai." kata pendekar tua Hek Bin dengan panjang lebar


"Nah, Saudara-saudaraku apakah kalian sudah mendengar semua kebenaran yang keluar dari mulut wakil ketua perguruan Elang sakti tadi?" tanya pendekar tua Pek Ji seraya menatap para pendekar aliran hitam yang masih ada rasa marah di raut wajah mereka.


"Iya kami mendengarnya ketua." jawab para pendekar aliran hitam itu dengan serempak.


"Kalau sudah mendengar dan mengerti,kerjakanlah! Buang semua pertikaian dan permusuhan, lenyapkan kebencian dari dalam batin, dan kalau ada persoalan dengan pihak lain, rundingkanlah dengan damai dan musyawarah seperti yang sepatutnya dilakukan!" seru pendekar tua Pek Ji pada para pendekar aliran hitam itu.


"Kami mengerti ketua!" balas para pendekar aliran hitam itu serempak.


 "Bagus!" seru Pendekar tua Pek Ji seraya menganggukkan kepalanya dan kemudian dia menatap pendekar tua Hek Bin.


"Saudaraku Hek Bin! semua penjelasanmu itu memang tepat. Seorang bijaksana tidak akan membiarkan kepicikan pikiran menguasai dirinya, tidak membiarkan emosi merajalela karena selagi emosi merajalela, maka segala perbuatan pasti berpamrih demi kepentingan para pejabat. Dan seorang ksatria akan selalu waspada akan emosi dalam dirinya karena pikiran dan nafsu yang mencipta emosi itulah satu-satunya musuh berbahaya selama hidupnya. Bukankah demikian keadaannya, saudaraku Hek Bin?" jelas sekaligus tanya pendekar tua Pek Ji.


"Iya, benar sekali! mendengar engkau bicara seperti mendengar hati nurani kita sendiri yang bicara, saudaraku Pek Ji.' jawab pendekar tua Hek Bin.


Kakek bermuka hitam itu lalu menoleh kepada para murid perguruan Elang Sakti.


"Saudara-saudaraku dari perguruan Elang Sakti, kalian mendengar kata-kata yang keluar dari mulut pendekar Pek Ji tadi? Kita harus menyadari bahwa selama kita membiarkan emosi merajalela, maka hidup kita akan penuh keinginan. Keinginan-keinginan dari emosi dari diri kita ini akan terjadi bentrokan antara keinginan-keinginan yang saling bertentangan. Dan bentrokan ini menimbulkan permusuhan, dendam dan kebencian. Apakah kalian mau membiarkan diri kita bcrlepotan kotoran berupa benci, dendam dan permusnahan?" jelas sekalian tanya pendekar tua Hek Bin pada para murid perguruan Elang Sakti.

__ADS_1


Wakil ketua Thian Gi dan para mu perguruan Elang Sakti sangat terkejut dan mereka pun menggeleng kepala.


Percakapan antara kedua orang sakti itu menggugah kesadaran mereka yang selama ini dibutakan oleh nafsu kemarahan dan dendam.


"Pendekar berdua menggugah kesadaran kami," kata wakil ketua Thian Gi dengan suaranya yang lantang dan tegas, sesuai dengan tubuhnya yang tinggi besar.


"Kami menyadari kesalahan kami dan mulai detik ini akan berusaha kembali ke jalan benar yang terang. Akan tetapi, hendaknya para pendekar berdua melihat kenyataan bahwa para murid perguruan Elang Sakti menuruti bisikan jiwa untuk membela rakyat jelata yang tertindas oleh adanya kerja-paksa sehingga banyak jatuh korban." lanjut kata wakil ketua Thian Gi.


"Apakah menurut peendekar sekalian, kita harus tinggal diam saja melihat betapa rakyat jelata yang sudah serba kekurangan hidupnya itu kini diperas, ditekan dan dijadikan korban kekejaman para petugas? Melihat orang lain menderita dan kita diam berpangku tangan saja bukankah itu merupakan suatu dosa yang besar pula? Apalagi bagi seorang pendekar, pantaskah dia disebut pendekar kalau tidak turun tangan menolong?" lanjut tanya wakil ketua Thian Gi secara beruntun.


Mendengar ucapan wakil ketua Thian Gi itu, para murid perguruan Elang Sakti menganggukkan kepala tanda setuju karena mereka pun menjadi bingung dan sangsi karena adanya kenyataan itu.


"Ha...ha...ha...bukan maksud saya untuk membantah siapa pun. Saya dan para murid juga mengerti akan kebenar-kebenaran yang tadi diucapkan oleh pendekar sekalian. Akan tetapi, ada kenyataan lain yang membuat kami merasa bingung. Bagaimanapun juga, kita semua adalah orang-orang yang bernegara, dan negara mempunyai pemerintah yang patut dipatuhi dan dibela karena tanda adanya pemerintah, kehidupan rakyat jelata akan menjadi kacau balau rusak, tanpa ada ketertiban lagi. Dan kita melihat betapa usaha pemerintah menggali terusan yang menghubungkan sungai Kuning dan Yang-ce adalah suatu usaha yang amat baik, walaupun merupakan pekerjaan besar yang amat sukar dan berat." kata pendekar tua Pek Ji.


"Kalau usaha itu sudah jadi, maka rakyat pulalah yang akan menikmati hasilnya. Kemudian, kita melihat betapa ada golongan yang menentang kebijaksanaan pemerintah itu. Kami sebagai rakyat yang baik, tentu tidak mendiamkan hal ini terjadi kami bangkit untuk membantu pemeritah, menentang mereka yang hendak menghalangi pekerjaan besar itu. Nah, demikianlah keadaannya sehingga timbul bentrokan-bentrokan, maka bagaimaa baiknya, harap pendekar sekalian sudi memberi petunjuk kepada kami." kata salah satu pendekar aliran hitam yang sejak tadi diam dan menyimak percakapan mereka.


Pendekar tua Hek Bin dan Pek Ji saling pandang, kemudian tiba-tiba keduanya tertawa bergelak.


"Ha...ha....ha ..! Saudaraku Pek Ji, apakah kau melihat kelucuan ini?" tanya pendekar tua Hek Bin.


"Ya, aku melihatnya. Sama, tapi tidak serupa, serupa, tapi tidak sama! Ha...ha...ha...!" balas pendekar tua Pek Ji seraya menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Ha...ha...ya...! memang lucu. Beginilah jadinya kalau orang menjadi buta oleh berkilauannya tujuan. Semua tujuan itu baik, semua cita-cita itu baik, tentu saja. Mana ada cita-cita yang buruk? akan tetapi orang terlalu memperhatikan dan mementingkan tujuannya sehingga tidak melihat lagi apakah pelaksanaan untuk mencapai tujuan itu benar atau tidak!" seru pendekar tua Hek Bin.


Para murid perguruan Elang Sakti mempunyai tujuan untuk melindungi rakyat, sebaliknya para pendekar aliran hitam juga ingin membela pemerintah dengan alasan demi kebaikan rakyat. Keduanya jelas mempunyai tujuan yang baik.


Mereka sampai bermusuhan walaupun mempunyai tujuan yang sama, yaitu demi kebaikan rakyat, karena cara mereka untuk melaksanakan tujuan itu yang berbeda, bahkan bertentangan.


"Kalian lupa bahwa yang terpenting bukanlah tujuannya, melainkan caranya pelaksanaannya!" seru pendekar tua Pek Ji.


"Cara pelaksanaannya?" tanya pendekar aliran hitam dan para murid perguruan Elang Sakti yang hampir bersamaan.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2