
Tiba-tiba Hua Li merasa lapar sekali dan bingunglah dia.
Jika dia hendak membeli makanan, tidak membawa uang, karena semua barangnya telah disambar orang beserta kecapinya.
Hua Li mendengar suara langkah beberapa orang, dia pun penasaran. Segera ia menuju ke tempat itu dan tampak olehnya beberapa orang yang memakai pakaian serba hitam dengan memakai ikat kepala yang juga hitam serta kalung yang berliontin tengkorak yang berwarna hitam pula.
Hua Li merasa heran sekali karena dua diantada dari mereka membawa kecapi dan buntalan miliknya.
Gadis itu kemudian menghampiri empat orang laki-laki bertubuh gagah yang memakai pakaian serba hitam itu.
"Kalau aku tidak salah, kecapi dan bungkusan pakaian itu adalah milikku yang hilang di pinggir sungai. Dari manakah kalian peroleh kecapi dan barang-barang yang sedang aku cari ini?" tanya Hua Li.
Keempat orang itu sangat terkejut dan memandang Hua Li untuk beberapa lama, kemudian salah satu dari orang itu menyeringai.
"Oh, oh, jadi kamu yang meninggalkan pakaian di pinggir sungai? Dan waktu itu kau sedang ke mana?" tanya laki-laki yang tampaknya ketua dari keempat laki-laki yang memakai pakaian serba hitam itu.
"Aku sedang mandi di sungai." jawab Hua Li yang menganggap pertanyaan mereka biasa saja.
Tapi ternyata keempat laki-laki itu memandangnya dengan mata terbelalak, dan mulut yang tebal itu tersenyum-senyum kurang ajar.
"Aih, aih! Kenapa tadi aku tidak melihatmu? Ah, sungguh sayang sekali! Alangkah senangnya melihat kau mandi!" seru laki-laki tadi seraya melirik ke arah teman-temannya dengan kedua mata mereka secara kurang ajar sekali memandangi tubuh Hua Li dari atas sampai ke bawah.
Hal ini membuat gadis itu marah sekali dan hampir saja ia menggerakkan tangan menyerang.
"Dasar kurang ajar! lekas kau kembalikan kecapi dan bungkusan pakaianku! kalau tidak jangan anggap aku keterlaluan menghina dengan mengalahkan kalian di muka umum!" seru Hua Li yang secara tak langsung menantang keempat laki-laki itu.
Tapi ditantang dan diancam secara demikian, keempat laki-laki itu ternyata tidak takut sama sekali, bahkan dia lalu tertawa besar.
"Ha...ha....ha...! Nona manis agaknya bisa juga kamu bercanda. Hayo, kulayani kau beberapa jurus, kalau permainan kamu cukup baik, boleh kau ambil kecapi dan pakaian ini!" seru laki-laki tadi yang kemudian melangkahkan kaki tanpa menghiraukan Hua Li.
__ADS_1
"Tunggu...! apa kalian mau lari begitu saja!" seru Hua Li yang terkejut saat keempat laki-laki itu yang terus melangkah dan ternyata mereka berhenti di tanah lapang yang sepi akan orang yang lalu lalang.
"Nona, kau masih muda dan cantik. Tidak baik kau merantau seorang diri saja. Aku akan mengembalikan kecapi dan pakaianmu, selanjutnya marilah kita jalan bersama. Aku akan menjadi pelindungmu." ucap laki-laki itu dengan sikapnya yang masih kurang ajar sehingga kemarahan Hua Li meluap.
"Sialan! jangan kurang ajar! Lekas serahkan bungkusan pakaianku itu. Kalau aku hilang sabar, kepala kalian itu tentu akan menggelinding dari batang leher kalian satu persatu!" seru Hua Li yang tentu saja membuat marah keempat laki-laki itu.
Mereka menganggap Hua Li terlalu sombong dan tidak mengindahkan apa yang dikatakan gadis itu.
"Eh, gadis ingusan! Tidak tahukah kau sedang berhadapan dengan siapa? kami adalah murid perguruan tengkorak hitam!" seru salah satu dari keempat laki-laki yang memakai pakaian serba hitam itu.
"Aku tidak peduli kalian murid siapa, aku tidak takut! Jangankan kepalamu yang gundul hanya sebutir, biar kau tambah sepuluh butir lagi. Kalau barang-barang dan kecapiku tidak lekas kalian kembalikan, akan aku buat nyawa kalian melayang!" seru Hua Li yang mulai geram.
"Setan ingusan...!" seru laki-laki itu yang kemudian mencabut pedangnya dari punggung lalu menyerang dengan membabi-buta.
Hua Li melihat datangnya serangan hebat dan cepat juga, segera berkelit serangan itu dan kemudian mengambil ranting pohon yang dia gunakan sebagai pedang.
Sebentar saja mereka saling menyerang dengan hebat, tapi terpaksa para lelaki pakai pakaian hitam itu harus mengakui keunggulan jurus yang dikuasai oleh Hua Li yang hanya memakai ranting pohon itu saja.
Kemudian Hua Li berbalik menyerang ketiga orang lainnya dan mereka dengan terkejut sekali dan buru-buru menggulingkan tubuh ke belakang.
Tapi masih saja ujung pedang merobek jubahnya dan melukai kulit dadanya sehingga dia terus menggelinding di atas tanah sampai jauh, meloncat dan satu persatu berlari pergi meninggalkan buntalan pakaian dan kecapi milik Hua Li.
Hua Li tertawa geli, lalu ia menghampiri buntalan dan kecapinya itu. Kemudian Hua Li membuka buntalan dan memeriksa isinya. Ternyata pakaian masih lengkap, tiba-tiba dia melihat sepucuk surat.
Surat itu kertasnya berwarna merah dan indah, gadis itu tertarik akan surat itu kemudian dipungutnya surat itu, lalu dia membukanya.
Ternyata itu adalah surat yang ditujukan kepada patriak Bao di perguruan tengkorak hitam di kota Twi-lok.
Bunyi surat itu sebagai berikut ;
__ADS_1
Patriak Bao yang terhormat,
Pembawa surat ini sangat boleh dipercaya untuk dikirim sebagai penghubung dengan Pangeran Yung Lo di kota raja.
Tertanda, Kasim Mo.
Kemudian Hua li memutar otaknya. Ia tidak tertarik akan nama-nama seperti Patriak Bao maupun Kasim Mo yang ia ingat adalah guru dari ke empat laki-laki yang memakai pakaian serba hitam tadi.
"Wah, kalau ada sangkut pautnya dengan keluarga kerajaan, pasti ada udang dibalik batu!" gumam Hua Li yang kemudian mencari rumah makan di sepanjang jalannya.
Setelah menemukan rumah makan yang masih buka, gadis itu segera mengisi perutnya, lalu minta keterangan di mana letak kota Twi-lok.
Bukan main girangnya ketika mendapat keterangan bahwa desa yang dia singgahi itu justru berdekatan dengan kota raja yang tidak membuang banyak waktu lagi, gadis itu melanjutkan perjalanannya.
Beberapa hari kemudian, sampailah ia di kota Twi-lok dan mudah sekali baginya untuk mencari gedung perkumpulan perguruan tengkorak hitam, karena hampir semua orang mengenal nama ini.
Ketika Hua Li tiba di depan pintu gedung itu, ia heran bahwa di dalam gedung berkumpul banyak tamu. Hatinya agak berdebar karena ia merasa khawatir kalau ada yang tahu kalau dia bukan anggota dari perguruan tengkorak hitam.
Tapi dasar ia memang seorang gadis yang berjiwa besar dan berhati tabah, ia masuk dengan muka terangkat. Seorang penjaga pintu menyambutnya dengan hormat.
"Nona, silakan masuk!" seru salah satu penjaga pintu gedung itu.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...