Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 225


__ADS_3

Laki-laki bertubuh besar itu kembali ke meja di mana tadi ia duduk bersama lima orang temannya dan kini dia membungkuk kepada gadis itu sambil tersenyum.


Gadis itu membalas senyumannya dan rupanya laki-laki itu bersama tiga orang teman dan seorang di antaranya berpakaian seperti seorang hartawan, usianya kurang lebih tiga puluh tahun dan yang lain agaknya merupakan pengawal, anak buah atau tukang pukulnya karena mereka itu lagak dan pakaiannya sama dengan laki-laki tadi.


Laki-laki yang berpakaian mewah itu memandang kepada gadis itu, lalu mengedipkan mata kanannya dengan cara yang genit sekali. Gadis itu tidak peduli dan kemudian dia membuang muka.


Gadis itu berusia kurang lebih dua puluh dua tahun, wajahnya yang cantik jelita dan manis itu hanya dipolesi bedak tipis, dan ia memiliki senyum memikat, dia adalah Hok Cu, gadis yang pernah menghisap darah dan daging naga bersama Han Beng. Dia juga pernah menjadi murid Mo Li, dan bentrok dengan gurunya karena ajaran baru yang dianut oleh gurunya.


Gadis itu hampir saja dibunuh oleh gurunya, tapi untunglah dia ditolong oleh biksu Hek Bin, seorang pertapa sakti dari Himalaya dan ia lalu menjadi murid biksu gendut berkulit hitam itu.


Dan hampir lima tahun gadis ini digembleng sehingga bukan saja ilmu silatnya yang sudah lihai itu menjadi semakin tinggi juga ia semakin mendalami soal-soal kebatinan atau rohaniah. Bahkan ia pernah menyatakan keinginan hatinya kepada gurunya itu untuk menjadi biksuni, namun dilarang oleh gurunya yang melihat bahwa ia tidak berbakat menjadi seorang biksuni.


Hok Cu kini merantau, usianya sudah dua puluh dua, namun dalam perantauannya itu ia belum pernah nenemukan seorang pria yang menarik atinya.


Pengalaman-pengalaman yang pahit ketika ia berusia lima belas tahun, diganggu oleh pemuda-pemuda murid para tokoh sesat yang menjadi tamu guru Mo Li, kemudian pengalaman sepanjang perjalanan melihat betapa pria suka sekali mengganggunya, membuat ia tidak pernah mengagumi laki-laki.


"Nona, majikan kami hendak berkenalan denganmu. Dia adalah seorang hartawan besar di kota Siong-cu, hanya tiga puluh li dari kota Siong-an tidak seperti dua ekor tikus tadi, Nona. Majikan kami minta dengan hormat agar Nona suka menerima undangannya untuk makan di mejanya." kata salah seorang laki-laki yang bertubuh tegap itu.


Hok Cu kembali memandang kepada Pria yang tersenyum penuh gaya itu. la tidak marah, hanya merasa jemu dengan gangguan-gangguan.


"Terima kasih, aku ingin makan sendiri saja di mejaku sendiri." jawab Hok Cu.


"Boleh, boleh, Nona Manis," kata pria kaya itu, lalu berkata kepada jagoannya yang seperti laki-laki bertubuh besar tadi,


"Bao Tek, kita pindahkan meja Nona itu bersambung dengan meja kita dan ia boleh makan di mejanya sendiri!" perintahnya. Bao Tek adalah laki-laki yang bertubuh besar itu terkekeh dan sambil menyeringai, dia menghampiri meja Hok Cu.


Hok Cu kesal sekali, akan tetapi ia masih tersenyum manis dan meletakkan tangan kirinya di atas meja. Ketika Bao Tek hendak mengangkat meja itu, diam-diam ia mengerahkan tenaga dalamnya yang disalurkan ke tangan kiri itu dan menekan meja.

__ADS_1


Bao Tek menggunakan kedua tangan memegang meja dan mengerahkan tenaga mengangkat. Akan tetapi, dia terkejut bukan main. Meja itu sama sekali tidak dapat diangkatnya.


Apalagi terangkat, bergerak pun tidak, seolah-olah empat buah kaki meja itu tertanam ke dalam lantai. Di menjadi penasaran. Kalau perlu, andaikata benar empat kaki meja itu tertanam ke dalam lantai, hendak dijebolnya.


Kembali dia mengerahkan tenaganya, namun tetap saja meja itu tidak bergerak.


"Bao Tek, pindahkan meja itu ke sini!" teriak lagi majikannya karena seperti orang lain, dia belum tahu akan peristiwa aneh itu. Hanya Bao Tek sendiri yang merasakan keanehan itu. Dia, yang dengan mudahnya mengangkat dua orang pemuda tadi dan melemparkan mereka, kini tidak kuat mengangkat sebuah meja kecil yang ringan.


"Hei, dasar bodoh! Jangan ganggu Nona itu!"


Seruan ini keluar dari mulut seorang laki-laki yang duduk bersama dua orang pria lain di meja sebelah kanan Hok Cu.


Mendengar dia dimaki bodoh, tentu saja Alok menjadi marah bukan main. Dia adalah tukang pukul nomor satu dari kota Siong-cu, dan ditakuti banyak orang, bahkan nama besarnya sudah banyak didengar orang di Siong-an.


Kemudian dia membalikkan tubuh meninggalkan meja depan Hok Cu dan memandang ke arah tiga orang yang duduk makan minum di meja itu.


Mereka adalah tiga orang pria yang usianya antara tiga puluh lima sampai empat puluh tahun. Wajah dan bentuk badan mereka biasa saja, tidak mengesankan, akan tetapi warna pakaian mereka yang menarik perhatian karena mereka bertiga memakai pakaian yang berwarna kuning, seperti pakaian seragam saja.


"Memaki apa?" Serentak tiga orang berpakaian kuning itu bertanya.


"Memaki aku dengan kata-kata bodoh!" seru Bao Tek dan tiga orang itu pun tertawa bergelak, juga beberapa orang tamu yang mendengarkan ikut tertawa.


Tadinya Bao Tek tidak menyadari, akan tetapi kemudian ia teringat bahwa jawabannya tadi menjadi pengakuan bahwa dia orang bodoh. Dia telah dipancing dan dipermainkan tiga orang berpakaian kuning itu.


"Keparat, kalau kalian memang laki-laki dan bukan pengecut, hayo maju kesini!" tantang Bao Tek dengan marah sekali.


Salah satu orang dari tiga orang pria berpakaian kuning itu bangkit berdiri.

__ADS_1


"Hm, kau ini orang bodoh yang hendak jual lagak di sini, ya?"


Tiba-tiba tangan kanannya bergerak dan nampaklah sebuah cambuk berwarna kuning emas.


"Tar...tarr....tarrrrr....!"


Cambuk itu mengeluarkan suara meledak-ledak dan sinar kuning emas menyambar-nyambar ke arah tubuh Bao Tek.


 Raksasa itu terkejut dan mencoba mengelak, akan tetapi tetap saja ujung cambuk itu mematuk-matuk dan pakaiannya robek di sana-sini ditambah kulit tubuhnya nyeri seperti disengat lebah.


Dia pun bergulingan ke tas lantai dan ketika dia sudah meloncat bangun, dia sudah mencabut golok besarnya. Dengan marah dia lalu menerjang ke arah orang yang memegang cambuk dan yang berdiri sambil tertaw tawa itu.


Akan tetapi, sebelum tubuhnya mendekat, Si Baju Kuning itu sudah menggerakkan cambuknya lagi.


"Tar....tarr....tarr..............!"


Golok yang berada di tangan Alok terbang dan terlepas dari pegangannya, dan kembali dia menjadi bulan-bulanan lecutan cambuk itu yang bertubi-tubi.


Pakaian yang dikenakan Bao Tek kini sudah tidak karuan lagi macamnya, dan mukanya bergaris-garis merah dan berdarah.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2