Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 214


__ADS_3

Hong Lan tertawa, tidak senyaring ketawa ayahnya, melainkan suara Ketawa yang ditahan-tahan yang terdengar sangat menyeramkan,


"Aku telah dapat mengalahkan Beng Cu! Guru dan Ayahku sendiri telah tewas di ujung pedangku. Apalagi orang lain! Terma kasih, guru dan terima kasih, Ayah! Bukan hanya untuk ilmu-ilmu yang kupelajari darimu, juga karena kau mati ditanganku! Lebih baik kau mati agar aku tidak usah mengaku kau yang buruk sebagai ayah kandungku!" seru Hong Lan dengan senyum sinisnya.


Kemudian Hong Lan memasuki gubuk dan mengemasi semua barangnya dan tak lama kemudian dia keluar menggendong buntalan pakaian, kantung emas simpanan ayahnya, meninggalkan gubuk tapi sebelumnya dia menguburkan jenazah guru dan ayah kandungnya di dekat gubuk.


Sebuah caping lebar yang bercat merah memayungi kepalanya dan dengan lenggang seenaknya pun menuruni bukit itu.


Dia memasuki buah kota dan pertama yang dicarinya adalah seorang pelacur langganannya. Dia bermalam di tempat pelesir itu sampai tiga malam dan dia bersenang-senang dengan pelacur itu.


Setelah puas, baru dia meninggalkan tempat itu, untuk mulai dengan perantauannya karena dia bercita-cita untuk menaklukkan semua tokoh dunia persilatan dan mengangkat diri sendiri menjadi seorang tokoh besar, menggantikan gurunya atau juga ayahnya.


Dia akan menyusuri sepanjang sunga kuning untuk kemudian menuju ke kota raja.


...****...


Sementara itu di tempat lain, ada satu keluarga kecil yang nampak bahagia sekali. Anak laki-laki berusia tiga tahun itu berlari-larian mengejar kupu-kupu di antara bunga-bunga yang sedang mekar indah. Sedangkan Ayah dan ibunya duduk di atas bangku, nampak mesra dan saling mencinta.


"Lihat, betapa gembiranya Coa Ki!' seru Sang Isteri dan suaminya mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kalau dia memiliki gemblengan silat sejak bayi, tentu dia akan mudah menangkap kupu-kupu itu!" seru suaminya.


"Dan meremasnya hancur? Ihhh, mengerikan! Untung kita sudah mengambil keputusan untuk menjadikan dia seorang manusia yang berbudi baik, yang tidak mengenal kekerasan, tidak suka berkelahi." ucap sang istri.


Suami itu menggenggam tangan isterinya yang membalas genggaman itu. Dari getaran tangan mereka, keduanya maklum akan isi hati masing-masing merasa setuju.

__ADS_1


Mereka telah mengambil keputusan, bahkan keduanya telah bersumpah ketika anak itu masih berada di dalam kandungan bahwa mereka berdua akan menjaga agar anak mereka kelak tidak menjadi seorang yang seperti mereka, yaitu orang yang pandai ilmu silat seperti mereka.


Memang aneh sekali kalau diingat akan keadaan suami isteri ini. Mereka masih muda. Usia mereka baru tiga puluh tahun lebih sedikit. Pria itu tampan, biasa mengenakan pakaian putih, nampak gagah dan sikapnya jelas menunjukkan bahwa dia seorang ahli silat yang pandai.


Memang tidak salah. Dia adalah Coa Siang, keturunan pemimpin peeguruan Harimau Hitam, perkumpulan orang gagah yang pandai silat dan sejak kecil Coa Siang telah digembleng dengan ilmu silat.


Adapun isterinya itu juga bukan orang sembarangan, bahkan memiliki ilmu silat yang lebih hebat daripada suaminya. Ia adalah Cu Ming, seorang wanita cantik yang berpakaian serba hitam, dia adalah putri Mo Li si Iblis Betina Selaksa Racun.


Coa Siang dan Cu Ming menjadi suami isteri sebagai akibat dari perbuatan Hua Li. Coa Siang berusaha membalas dendam atas kematian Coa Kun, ayah kandungnya yang dibunuh oleh Hua Li.


Adapun Cu Ming juga berusaha membalas dendam kepada Hua Li atas kematian Hui Cu, bibinya..,


Coa Siang dan Cu Ming yang telah bersepakat untuk menjadi suami Isteri, menghadap keluarga Coa Siang. Namun keluarga Coa yang menjadi pimpinan perguruan Harimau Hitam, menjadi marah dan sama sekali tidak setuju kalau Coa Siang menjadi suami puteri Mo Li.


Sepasang orang muda itu lalu pergi menemui Mo Li, namun iblis betina yang kejam dan aneh ini pun marah-marah, bahkan hampir membunuh Coa Siang, kemudian mengusir puterinya bersama pria yang dipilih puterinya itu.


Setelah sepuluh tahun menjadi suami isteri, barulah Cu Ming mengandung. Mereka tentu saja merasa berbahagia sekali akan tetapi juga merasa khawatir kalau-kalau anak mereka kelak akan penjadi korban kekerasaan kehidupan kaum persilatan.


Maka mereka lalu bersumpah untuk tidak memperkenalkan anak mereka pada dunia persilatan, sama sekali tidak ingin anak mereka mempelajari ilmu silat.


Kegembiraan mereka menjadi semakin besar ketika kandungan itu kemudian melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat.


Demikianlah, pada sore hari itu, setelah sehari tadi sibuk memimpin buruh tani menuai padi gandum mereka yang subur, suami isteri ini mengaso di gubuk sebelah kanan rumah mereka.


Mereka melihat Coa Ki, putera mereka yang berusia tiga tahun itu berlari-larian mengejar kupu-kupu.

__ADS_1


Biarpun suami isteri itu keturunan orang-orang pandai, bahkan mereka berdua telah memiliki ilmu silat yang tinggi, namun mereka berdua yang sudah kurang lebih dua belas tahun tidak pernah lagi berurusan dengan dunia persilatan.


Mereka menjadi lengah, sama sekali tidak tahu bahwa sejak tadi ada seorang laki-laki muda yang pakaiannya indah pesolek, mengenakan sebuah topi caping lebar yang sama sekali nyembunyikan wajahnya yang tampan beberapa kali lewat di depan rumah mereka.


Wajah tampan itu selalu mengintai dari balik capingnya kalau lewat dari rumah itu, dan sepasang mata yang tajam mencorong mengintai ke arah Cu Ming, ibu muda yang cantik dan miliki bentuk tubuh yang masih nampak padat menggairahkan itu.


Memang Cu Ming memiliki wajah yang cantik jelita dan menarik sekali.


Laki-laki muda bercaping lebar itu bukan lain adalah Hong Lan. wajahnya yang tampan berseri dan biasanya dihias senyuman ketika akhirnya dia lewat lagi lalu meninggalkan tempat itu, tangan kanan dikepal dan dipukul-pukulkan perlahan pada telapak tangan kiri.


Di dalam hatinya, dia sudah mengambil keputusan untuk mendapatkan, wanita yang amat menarik hatinya itu malam ini. Dia sedang mencari Lui Seng yaitu murid mendiang gurunya atau ayah kandungnya, bahkan Lui seng merupakan murid yang ditugaskan untuk menyebarkan aliran baru yang dirintis gurunya, yaitu pemujaan patung sesembahan.


Dari kakak seperguruannya inilah dia kan mencari tahu tentang kegiatan guruya atau ayahnya akhir-akhir ini.


Dalam perjalanannya mencari jejak kakak seperguruannya itulah Hong Lan tiba di dusun itu dan kebetulan melihat Cu Ming, ibu muda yang telah menggerakkan hatinya dan membangkitkan gairah berahinya.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2