Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 27


__ADS_3

Melihat pakaian orang itu, Hua Li tidak ragu-ragu lagi bahwa inilah Raja Leng Hui yang telah merusak kehidupan ibunya dulu.


Kemudian Hua Li menggunakan kedua tangan mendorong daun jendela dan sekali meloncat ia telah berada dalam kamar itu.


Laki-laki itu mendengar suara jendela terbuka, cepat meloncat bangun dan berdiri, lalu membalikkan tubuh memandang Hua Li.


Betapa terkejutnya laki-laki itu saat melihat Hua Li. Laki-laki itu mengucek-ucek kedua matanya untuk memastikan penglihatannya.


Tapi benar-benar yang berada di depannya adalah seorang gadis muda yang cantik jelita dan sedang menatapnya dengan mata tajam dan berapi-api.


"Kau... kau...!" seru laki-laki itu.


Dan Hua Li juga sangatlah terkejut karena mengenal laki-laki tua itu, yang bukan lain adalah bangsawan Cui Lan yang tempo hari pernah ditolongnya dari serangan ular air hitam di tepi sungai Kuning


Tapi pada saat itu Hua Li tidak mempunyai perasaan apa-apa selain benci dan dendam terhadap orang tua itu yang tak lain adalah ayah kandungnya.


"Ya, ini aku dan kenalkah kau kepada Siauw Eng?" ucap Hua Li dengan lantang.


Wajah laki-laki itu tiba-tiba menjadi pucat bagaikan mayat dan ia terhuyung-huyung limbung lalu berpegang pada sebuah kursi. Bibirnya gemetar dan matanya terbelalak.


"Kau Siauw Eng? ah... sudah kuduga, gadis itu... gadis itu tentu Siauw Eng sendiri, Siauw Eng-ku... Siauw Eng kau... kau datang padaku?" racau Raja Leng Hui yang membuat Hua Li mengernyitkan kedua alisnya.


"Ya, aku Siauw Eng dan aku hendak membalas dendamku karena perbuatanmu yang pengecut!" seru Hua Li yang kemudian mencabut pedangnya dan perlahan-lahan bertindak maju.


"Siauw Eng, boleh... boleh...! Kau tusuklah dadaku, awas jangan meleset, tusuklah sebelah kiri, ke arah jantung ini agar aku lekas mati! Ha, ha, ha, Siauw Eng, kenapa kau ragu-ragu? Tusuklah, kekasihku, tusuklah dadaku, memang aku tahu pasti kau akan datang membawaku ke sana. Siauw Eng... ha, ha, ha!" racau Laki-lai yang kemarin mengaku bernama Cui Lan itu semakin menjadi-jadi dan dia seakan pasang badan untuk menerima tusukan pedang dari Hua Li.

__ADS_1


Tiba-tiba wajah orang tua itu berubah, ia tertawa terbahak-bahak dan kedua matanya memandang seakan-akan Hua Li tidak berada di situ lagi, seakan-akan benar-benar dia melihat Siauw Eng di situ.


Raja Leng Hui telah menjadi gila, melihat keadaan orang yang sebenarnya ayahnya sendiri ini, Hua Li tidak kuat menahan gelora keharuan hatinya.


Kemudian gadis itu memasukkan kembali pedangnya pada sarung pedang dan ia menubruk ayahnya. Tapi ayahnya membentaknya.


"Pergi kau! Jangan halang-halangi aku bertemu dengan Siauw Eng. Eh, Siauw Eng...! Tunggu...! Mau ke mana, kekasihku!" seru Raja Leng Hui dengan terhuyung-huyung meninggalkan gadis yang tadi berlutut memeluk kakinya.


Hua Li segera berdiri dan melihat ke atas meja. Ternyata yang tadi dipandang ayahnya adalah gambar seorang wanita cantik yang serupa dengan dirinya.


"Ibu... Ibuku... kau telah membalas dendammu sendiri." ucap Hua Li dengan berbisik dan setelah itu dia menggulung lukisan itu ia lalu keluar dan meloncat ke atas genteng dan meninggalkan tempat itu.


Ketika dia hendak kembali ke gedung Pangeran Leng Cun, tapi tiba-tiba ia teringat akan pesan pangeran Leng song itu.


Hua Li menotok seorang penjaga dan menyeretnya ke dalam kebun dan di situ ia memaksa untuk mendapat keterangan tentang kotak terisi surat-surat penting.


Dengan kecewa ia mendapat keterangan bahwa kotak itu telah dititipkan kepada Kasim Mo yang pulang ke kampungnya dan ia tahu dari pengawal ini bahwa surat-surat itu adalah surat-surat untuk menggulingkan pangeran Leng song, karena surat itu adalah bukti-bukti kejahatan nenek Pangeran Leng Cun, Kasim Mo dalam pengusiran Siauw Eng yang akan menjadi senjata pangeran Leng Song untuk menduduki tahta sebagai seorang raja.


Hua Li lalu meninggalkan tempat itu dan ia menjadi bingung.


"Kenapa ada segala macam urusan yang ruwet ini? Dan kenapa pula aku harus ikut campur ikut campur dalam perkara ini? perkara berebut kekuasaan di antara kalangan bangsawan ini sangat menjemukan dan kotor, aku kecewa sekali. Sebaiknya aku kembali ke gedung pangeran Leng Song!" gerutu dalam hati Hua Li yang kesal.


Ketika ia telah tiba di atas genteng gedung pangeran Leng Song, tiba-tiba ia ingin menyelidiki keadaan rumah kekasihnya ini.


Hua Li tidak lekas melompat turun, tapi dengan hati-hati sekali ia membuka genteng dan mengintai. Kebetulan sekali yang ia buka adalah genteng di atas ruang dalam di bangunan tengah yang belum pernah dilihatnya. Di situ ia melihat Pangeran Leng Song bersama ke lima pengawalnya yang sedang duduk mengelilingi meja dan bercakap-cakap.

__ADS_1


"Pangeran, kenapa anda menyuruh gadis itu yang pergi melakukan pencurian? Dan kenapa pula ia harus membunuh raja Leng Hui, ayahnya sendiri?" tanya seorang di antara ke lima pengawal pangeran Leng song itu.


"Kami rasa pangeran terlalu mempercayainya. Ia masih sangat muda dan orang baru, bagaimana kalau ia nanti membuka rahasia kepada orang lain?" ucap sekaligus tanya pengawal yang kedua.


Wajah pangeran Leng song yang tampan itu tertawa manis sekali.


"Ha...ha...ha...! Kalian jangan khawatir. Gadis itu lihai ilmu silatnya dan dia bisa dipercaya. Pula, ia akan menjadi seorang selirku yang tercinta! Ia harus membunuh Raja Leng Hui karena raja itu terlalu lemah dan melihat saat ini kondisinya yang gila, sehingga tidak mau memihak kepada kita. Ia tak dapat dipercaya maka lebih baik ia mati, dan oleh tangan anaknya sendiri pula! Tentang pencurian barang di gedung Pangeran Leng Cun, itu memang kusengaja. Gadis itu mencintaiku, tapi aku hendak menguji kesetiaannya dulu. Kalau ia benar-benar setia, maka pantaslah ia menjadi selirku nomor satu." jelas pangeran Leng Song dengan mengulas senyumnya.


Kelima pengawal itu mengangguk-angguk dan pada saat itu Hua Li yang dari atas mendengarkan perbincangan itu, tiba-tiba merasa betapa tubuhnya menjadi lemas.


Hampir saja ia tidak dapat menahan tangisnya karena semua kata-kata yang keluar dari mulut pangeran Leng Song itu, terdengar oleh telinganya bagaikan kata-kata yang sangat keji dan menghina, sehingga rasanya bagaikan ujung pisau yang menusuk-nusuk jantungnya.


Tapi Hua Li masih dapat menguasai dirinya dan dengan hati-hati sekali ia turun ke kamarnya. Ia segera memanggil pelayan dan memerintahkan memberitahu pada Pangeran Leng Song kalau dirinya telah datang.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2