Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 147


__ADS_3

"Ketua Thian Cu...!" seru pendeta itu yang memanggil ketua Thian Cu dengan raut wajah memerah karena sedang marah.


"Perguruan Elang Sakiti memang tidak mengenal budi! pemerintah sudah banyak membantu malah kini menentang pemerintah. Begitukah ajaran di perguruan ini yang tdak mengenal balas Budi!" lanjut seru pendeta itu.


"Pendeta, dengarlah baik-baik. Dalam pelajaran di perguruan kami, tidak ada sebutan balas budi! Kalau ada murid kami yang menentang, jelas bahwa yang ditentangnya itu adalah orang-orang yang tidak benar! Siapa pun dia, biar yang pernah melepas budi sekalipun, kalau bertindak jahat tentu akan ditentang oleh murid-murid kami." kata ketua Thian Cu.


"Jika seorang yang berhutang budi lalu membantu penolongnya itu melakukan kejahatan, jelas bukan orang baik, hanya seorang penjilat yang berbahaya. Kami tidak biasa begitu! Kami tidak ingin melibatkan diri dalam karma dengan hutang piutang budi dan dendam!" lanjut balas seru ketua Thian Cu yang menatap panglima Ciong dengan tajam.


"Panglima Ciong! tidak perlu banyak cakap lagi dengan pendekar tua yang pandai berbohong ini. Lebih baik lakukan penggeledahan ke dalam perguruan. Saya yakin mereka berada di dalam. Kalau sampai saya berbohong dan mereka berada di dalam, kepala saya menjadi penggantinya!" seru pendeta itu yang menatap ketua Thian Cu dengan tajam.


Mendengar ucapan pendeta itu, panglima Ciong kembali bersemangat dan ia pun melangkah maju dan menatap ketua Thian Cu dengan tajam.


"Ketua Thian Cu! sekali lagi kuperingatkan kepadamu agar menyerahkan para pemberontak itu baik-baik kepadaku. Kau dengar dan lihatlah ini! Kami datang atas nama pemerintah, atas nama Kaisar!" seru panglima Ciong yang menunjukkan lencana kerajaan pada semuanya, terutama ketua Ciong.


"A..apa! Kalau kaisar yang memberi perintah, berarti hancurlah perguruan Elang Sakti. Akan tetapi, bagaimana mungkin menyerahkan para murid perguruan Elang Sakti init sebagai pemberontak?" gumam dalam hati ketua Thian Cu yang sangat terkejut pada saat melihat lencana kerajaan yang dipegang oleh Panglima Ciong.


Ketua Thian Cu yang merasa kalau dirinya memang tidak pernah berbohong.


"Dalam pandangan para murid perguruan Elang Sakti itu bukan pemberontak, melainkan mereka itu menentang para petugas yang menindas rakyat. Itu berarti mereka bukan memberontak kepada pemerintah untuk menggulingkan Kaisar dan merampas kedudukan!" seru Ketua Thian Cu yang mencoba menerangkan seraya menggeleng kepala dan dengan cepat memberi hormat kepada bendera tanda kekuasaan yang diberikan Kaisar itu,


"Dasar pendekar tua, jangan mengelabuhi kami! Para pemberontak itu adalah murid-murid perguruan Elang Sakti, yang datang pagi hari tadi dan kini berada di dalam perguruan! Hayo katakan bahwa tidak ada murid-murid perguruan Elang Sakti di dalam perguruan ini!" seru pendeta itu yang memang cerdik dan dia mengerti mengapa ketua perguruan Elang Sakti itu yang tidak pernah berbohong.


Pendeta itu beranggapan kalau ketua Thian Cu itu berani berkukuh mengatakan bahwa tidak ada pemberontak di dalam perguruan. Tentu saja karena ketua itu tidak menganggap para muridnya itu sebagai pemberontak maka dia berani berkata demikian.


"Mohon ampun Panglima dan semuanya. Tentu saja ada murid-murid kami di dalam perguruan kami, akan tepi mereka bukan pemberontak." kata ketua Thian Cu yang kembali memberi hormat.


"Ketua Thian Cu! minggirlah biarkan kami masuk untuk melakui penggeledahan dan penangkapan!" seru panglima Ciong yang melangkah maju.

__ADS_1


Panglima Ciong memberi isyarat ke belakang dan masuklah pasukannya ke dalam sehingga memenuhi pekarangan depan dan bagian depan serambi itu, mereka siap dengan senjata mereka.


Inilah saat terakhir di mana ketua Thian Cu harus mengambil keputusan, yaitu menyerahkan para muridnya untuk ditangkap sebagai pemberontak, atau mempertahankan kehormatan perguruan Elang sakti yang hendak dilanggar.


Panglima Ciong dan para pembantunya sudah bergerak melangkah maju, rupanya hendak memaksa memasuki perguruan Elang Sakti.


"Tahan...!" teriak ketua Thian Cu.


Mendengar teriakan itu, panglima Ciong menghentikan langkahnya.


"Ketua Thian Cu! apakah engkau hendak melawan utusan Kaisar dan menjadi pemberontak pula!" seru panglima Ciong yang menatap ketua Thian Cu dengan tajam.


Raut wajah ketua Thian Cu saat ini menjadi merah sekali, matanya mencorong.


"Panglima Ciong! Anda tentu tahu bahwa saya dan seluruh murid perguruan Elang Sakti bukanlah pemberontak. Kalau ada di antara Murid saya yang melawan petugas pemerintah, itu bukan berarti melawan pemerintah, melainkan karena si petugas yang bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat dengan mengandalkan kekuasaan yang ada padanya! Memang ada murid-murid perguruan Elang Sakti yang berada dalam perguruan, akan tetapi sama sekali bukan pemberontak!" seru ketua Thian Cu dengan lantang.


"Maaf panglima Ciong, saya melarang kalian masuk!" seru ketua Thian Cu yang menghadang panglima Ciong.


"Bagus! Itu namanya pemberontak. Kalau kami memaksa masuk, apa kau akan menyerang kami!" seru panglima Ciong.


Ketua Thian Cu hanya diam, tapi lima murid perguruan Elang Sakti sudah berloncatan dan berbaris melintang, menutup jalan masuk dan sikap mereka sudah jelas. Mereka akan mempertahankan perguruan mereka secara mati-matian, kalau perlu dengan pertumpahan darah.


"Kalian mundur!" teriak ketua Thian Cu pada lima muridnya itu.


Mendengar teriakan dari ketua mereka, lima orang murid perguruan Elang Sakti itu terkejut dan terpaksa mereka mundur.


Mereka merasa penasaran mengapa ketua mereka menahan mereka dan menyatakan mundur. Karena bagi mereka sudah jelas bahwa panglima kerajaan itu mempunyai niat buruk terhadap perguruan Elang Sakti.

__ADS_1


"Ambilkan seguci minyak bakar!" seru ketua Thian Cu pada lima muridnya dengan sikap tenang.


Biarpun murid itu merasa heran tidak mengerti, namun mereka mentaati perintah gurunya dan tak lama kemudian, ketua Thian Cu menerima guci minyak itu.


Tanpa ragu lagi, dia menyiramkan minyak ke atas kepalanya sehingga minyak membasahi seluruh tubuhnya dari kepala sampai ke kaki.


"Panglima Ciong! Saya bukan pemberontak, juga semua murid perguruan Elang Sakti juga bukan pemberontak. Biarpun pemerintah telah membantu kami dengan pembangunan perguruan ini, namun seluruh perguruan ini adalah milik kami dan menjadi hak kami. Oleh karena itu, sekali lagi saya minta agar panglima Ciong dan semua pasukan meninggalkan tempat ini, dan saya akan menghadap Yang mulia Kaisar di kotaraja untuk menerima keputusan beliau. Akan tetapi kalau panglima Ciong berkeras hendak melanggar hak kami dan memasuki perguruan kami, apalagi menangkap murid-murid Perguruan Elang Sakti, mohon ma'af terpaksa kami melarangnya." kata Ketua Thian Cu yang menjelaskan.


"Kami sudah membawa surat perintah, membawa kekuasaan dari Kaisar! Biarpun kalian melarang, kami akan tetap masuk dan menangkapi para pemberontak!" seru panglima Ciong yang geram.


   


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...


...   ...


...   ...

__ADS_1


__ADS_2