
"Aih, kalau begitu, selamat Adikku! Kami senang sekali dapat bertemu dengan calon Adik ipar kami!" seru Coa Siang dengan mengulas senyumnya.
Coa Siang yang pakaiannya serba putih, berlawanan dengan warna pakaian isterinya, menggandeng tangan Han Beng sedangkan Cu Ming menggandeng tangan Hok Cu. Mereka semua memasuki rumah, diikuti oleh Coa Ki. Setelah mengajak tamu mereka duduk di ruangan dalam, Coa Siang dan Cu Ming saling pandang.
Hubungan antara suami isteri ini sedemikian akrabnya sehingga ada hubungan batin yang kuat di antara mereka sehingga pandang mata mereka saja sudah cukup untuk mereka saling mengutarakan isi hati mereka.
"Coa Ki, karena kegirangan kau lupa memberi hormat kepada Paman dan Bibimu. Hayo beri hormat kepada mereka!" seru Coa Siang yang memandang kepada Coa Ki.
"Paman Han Beng dan Bibi Hok Cu, terimalah hormat Coa Ki!" seru salam Coa Ki.
Han Beng dan Hok Cu saling pandang, lalu tertawa gembira Hok Cu mengangkat tubuh Coa Ki dan menciumi kedua pipinya, lalu menurunkannya kembali. Coa Ki tersipu lalu berlari kekamarnya untuk mengambil pengganti pakaiandan pergi mandi seperti diperintahkan ibunya. Dia tidak membantah, tidak mengomel, melainkan taat dengan gembira. Sungguh seorang anak yang penuh pengertian.
"Nah, duduklah, Adik-adikku. Bagaimana kabarnya, Adik Beng. Sudah lama sekali kami merindukan kunjunganmu." kata Coa Siang yang memandang Han Beng.
"Pada hari ini kau muncul bersama calon isterimu yang begini gagah dan cantik. Sungguh kami merasa gembira dan bangga!" lanjut seru Coa Siang.
"Adik Hok Cu memang cantik manis dan gagah perkasa, pantas sekali menjadi isterimu, Han Beng." kata pula Cu Ming yang dengan akrab.
"Kakak Ipar Cu Ming tentu tidak menduga siapa Hok Cu ini, padahal ia masih adik seperguruan dari kakak ipar sendiri." kata Han Beng.
"A...apa!" seru Cu Ming yang terbelalak memandang ke arah Hok Cu dengan penasaran.
"Be..... benarkah itu.....?" lanjut tanya Cu Ming dan Hok Cu tersenyum lalu mendekatkan kursinya dengan kursi Cu Ming.
Hok Cu memegang tangan wanita itu dengan sikap lembut.
__ADS_1
"Kakak ipar kalau diijinkan, aku lebih suka menyebut anda dengan kakak ipar. Memang harus kuakui bahwa aku pernah menjadi murid Ibu kamu kakak Ipar, akan tetapi hal itu telah lewat dan..." kata Hok Cu yang tidak melanjutkan kata-katanya karena ia melihat betapa pandang mata wanita itu nampak membayangkan kepahitan.
"Memang adik Hok Cu pernah menjadi murid Ibumu kakak ipar, bahkan sejak usia sepuluh tahun sampai lima belas tahun. Akan tetapi, kemudian adik Hok Cu menjadi murid Biksu Hek-bin dan tidak lagi berhubungan dengan Ibumu lagi." kata Han Beng yang menatap ke arah Cu Ming.
Putri Mo Li otu menarik napas panjang dan mengeluarkannya secara p3lan-pelan, kini ia yang memegang tangan dan mandang Hok Cu dengan saling berhadapan.
"Aku mengerti, Adikku yang baik. Aku mengenal siapa Ibuku. Bahkan kau beruntung sekali dapat terlepas dari tangan Ibu-ku Mo Li yang terkenal jahat dan kejam itu." kata Cu Ming.
"Maaf kakak Ipar, aku tidak bermaksud menyinggungmu." kata Han Beng yang tidak enak hati.
"Ha....ha.....ha...! tidak ada singgung-menyinggung di sini, Adikku!" kata Coa Sian seraya tertawa.
"Kita berada di antara saudara sendiri. Segalanya perlu dibicarakan secara terbuka dan tidak akan ada yang menyinggung karena semua ucapan keluar dari hati yang jujur. Biarpun kakak ipar kamu ini puteri kandung Mo Li, akan tetapi ia sama sekali tidak jahat! Sebaliknya malah, isteriku ini wanita yang paling hebat di dunia ini, paling cantik, paling lembut, paling mulia, paling....." lanjut Coa Siang yang memuji istrinya.
"Sssssttttt.....'. Di depan orang lain kau masih mencoba untuk merayuku!" bentak Cu Ming yang menatap suaminya.
Bagaimanapun juga, tetap saja Han Beng merasa sungkan dan tidak tahu bagaimana dia harus menanyakan tempat persembunyian Mo Li kepada Cu Ming tanpa menceritakan tentang semua kejahatan yang telah dilakukan Mo Li terhadap diri Hok Cu.
"Nah, sekarang ceritakan semua pengalamanmu sampai kau dapat memperoleh jodoh yang demikian hebat, adik Beng. Apa saja yang telah terjadi di dunia persilatan sana?" tanya Coa Siang dengan sikap gembira.
"Kakak angkat, sesungguhnya, sejak kecil dahulu, aku sudah menjadi sahabat Hok Cu. Ketika kecil kami saling berpisah dan baru bertemu setelah dewasa. Ketika kami saling berpisah, aku ikut guru Hua Li seperti telah kalian tahu, dan ia ikut dengan gurunya, Mo Li." kata Han Beng yang memandang kepada Coa Siang dan juga kakak iparnya.
Cu Ming mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Sekarang aku ingat. Ibu mempunyai murid seorang anak perempuan ketika ia mengusir kami berdua. Jadi apakah kau murid itu, Adik Hok Cu?" tanya Cu Ming yang penasaran.
__ADS_1
"Benar, kakak Ming. Akan tetapi, lima tahun kemudian, karena..... eh, aku tidak cocok dengan cara hidup guru, maka aku meninggalkannya dan kemudian bahkan.. hemmmmm....." kata Hok Cu yang tiba-tiba berhenti.
"Mengapa, Adikku? Lanjutkan ceritamu!" seru Cu Ming yang penasaran.
"Tidak enak rasanya kakak ipar, karena dia adalah Ibumu." kata Hok Cu yang tersenyum.
"Kaukira aku tidak mengenal Ibuku sendiri? Aku sudah tahu siapa Ibuku, siapa Mo Li, oleh karena itu, semua berita tentang kejahatannya tidak akan mengejutkan hatiku lagi, dan tidak akan menyinggung hatiku." kata Cu Ming yang mengulas senyumnya.
"Adik Cu, memang tidak ada jalan lain kecuali menceritakan semuanya kepada kakak ipar, untuk mengharapkan bantuannya. Ceritakanlah semuanya!" kata Han Beng yang mwndesak Hok Cu, dan gadis itu menganggukkan kepala dan menarik napas panjang.
"Baiklah, pada saat itu aku terpaksa melarikan diri karena aku akan dibunuh oleh guru Mo Li karena dianggap menentang aliran bumi dan Langit di mana guru menjadi anggotanya, bahkan kemudian menjadi wakil ketuanya. Aku ditolong oleh guru Biksu Hek-bin. Kemudian, aku mendapat kenyataan bahwa yang membunuh Ayah dan Ibu kandungku adalah guru Mo Li sendiri. Kemudian, aku dan kakak Beng menentang aliran bumi dan langit dan dengan bantuan pasukan pemerintah, kami berhasil membasminya." kata Hok Cu yang menjelaskan.
Para pimpinannya tertawan ketika guru Mo Li bertanding denganku, aku berhasil merobohkannya. Kemudian kakak Beng mengingatkan aku akan kebaikannya yang pernah kuterima, maka aku tidak membunuhnya dan membiarkannya ia ditawan oleh pasukan pemerintah seperti para pimpinan aliran Bumi dan langit lainnya." kata Hok Cu menghentikan ceritanya.
Hok Cu merasa lega karena melihat wajah Cu Ming yang tenang-tenang saja pada saat mendengar akan kejahatan yang dilakukan ibu kandungnya itu.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih ini...
__ADS_1
...Bersambung...
... ...