Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 204


__ADS_3

"He...he..he....!" pendekar tua itu tertawa lembut mendengar ucapan itu. Namun dia tetap bersikap lembut dan tenang.


"Biksu Thian Gi sungguh masih saja penuh semangat. Apakah kau sudah lupa ketika anda datang bersama pendekar tua Hek Bin melerai keributan antara para biksu dan para pendekar aliran hitam waktu itu?" tanya pendekar tua bergelar raja pengemis itu.


"Hah!" keluh pendekar Thian Gi yang mengingat kejadian masa lampaunya.


"Saya tidak berpihak siapa pun seperti juga pendekar Hek Bin tidak berpihak siapa pun. Masing-masing melerai dan menahan golongan sendiri, itu baru benar, sesuai dengan petunjuk pemuda bijaksana ini bahwa perdamaian dimulai dari keadaan hati sendiri. Diri sendiri yang harus ditundukkan, bukan orang lain." sambung jelas Kwe Ong.


Melihat munculnya Kwe Ong seorang pendekar tua yang amat mereka hormati, para pendekar yang tadinya berbesar hati. Akan tetapi mereka pun teringat betapa tokoh besar yang satu ini tidak suka akan pertentangan, maka tentu kedatangannya ini akan berakibat teguran bagi golongan sendiri.


"Pendekar Kwe Ong, kami ini para tosu mohon petunjuk karena kami didesak dan dimusuhi para biksu yang marah-marah!" seru salah satu pendekar itu.


"Tidak ada kemarahan tanpa sebab dan tidak ada perselisihan timbul kalau kedua pihak tidak saling serang. Tak mungkin bertepuk tangan sebelah! Tak mungkin terjadi kebakaran kalau api tidak bertemu dengan bahan bakar. Para sahabat setelah saya datang kalian minta petunjuk." kata Kwe Ong.


" Apakah benar kalian akan mentaati apa yang kunasihatkan?" ucap Pendeka tua yang menap5ap mereka satu persatu.


"Kami taat!" Serentak para pese itu menjawab karena mereka percaya sepenuhnya kepada pendekar itu. besar itu.


"Nah, kalau kalian taat, sekarang juga kalian duduk bersila dan pasrah sepenuhnya. Kalau ada yang menyerang kalian, sampai membunuh kalian pun, kalian jangan bergerak dan jangan melawan!" seru Kwe Ong.


Tentu saja para tosu terbelalak. Mereka berhadapan dengan para pendekar yang sedang marah besar dan sudah siap untuk menyerang, bagaimana mungkin mereka harus berdiam diri, menyerang tanpa perlawanan biar dibunuh sekalipun.


 "Akan tetapi bagaimana jikav para hwesio itu menyerang kami dan membunuhi kami?" tanya salah seorang pendekar aliran hitam itu tiba-tiba.


 "Adakah manusia membunuh manusia lain kalau Tuhan tidak menghendaki? Kalau sampai kalian mati terbunuh, anggap saja sebagai penebusan dosa yang dilakukan oleh kawan-kawan terdahulu. Biar pinto yang duduk terdepan!" kata Kwe Ong juga duduk bersila di depan para tosu lainnya dan dia pun berkata kepada para biksu dengan lembut dan senyum ramah.


"Nah, Saudara-saudara para biksu, sekarang para pendekar alian sudah menyerah dan tidak akan melawan sedikitpun juga. Terserah kepada kalian apa yang akan kalian lakukan kepada diri kami," sambi g kata kwe Ong yang lalu memejamkan mata dengan mulut tersenyum dan agaknya sudah pulas dalam samadhi. Para lainnya juga meniru perbuatan ini.

__ADS_1


  


 Para biksu saling pandang dengan bingung. Jelas bahwa para tosu itu tidak lagi mau mengadakan perlawanan dengan kekerasan. Betapa mudahnya untuk melampiaskan nafsu amarah dan dendam. Tinggal menghajar saja mereka.


Rupanya du ada dua orang hwesio yang suah tidak sabar lagi. Melihat kesempatan baik itu terbuka, dua orang hwesio itu sudah bergerak dan melakukan serangan ke arah dua orang tosu yang bersila paling pinggir.


Melihat gerakan dua orang biksu ini, tiba-tiba toya di tangan Thian Gi Hwesio bergerak dan menyelonong ke depan, mendahului dua orang nk itu yang terdorong da mereka terjengkang.


Tentu saja dua orang biksu itu terkejut, heran dan penasaran melihat betapa bekas wakil ketua perguruan Elang sakti wes a


itu bahkan menyerang mereka untuk mencegah mereka menyerang musuh.


   "Apa............ apa artinya ini!" mereka yang berseru.


Wajah biksu Thian Gi menjadi merah sekali.


"Kalau para pendekar aliaran, hitam itu sudah tidak mau melawan, berarti mereka itu mengalah dan mengakui kesalahan rekan mereka. Kalau kita menyerang orang yang sudah tidak melawan, maka pihak kitalah yang menjadi sejahat-jahatnya orang! Aku melarang rekan-rekan kita untuk turun tangan terhadap para tosu yang tidak melawan. Mulai sekarang, kalau para pendekar Alirqn hitam tidak menggunakan kekerasan, kita tidak boleh menggunakan kekerasan. hendak menggunakan siasat yang lemah menundukkan yang keras, maka kita pun harus menggunakan kelemahan, bukan kekerasan dan menjadi kalah tanpa bertanding!" kata Kwe Ong panjang lebar.


Setelah berkata demikian, biksu Thian Gi memberi hormat kepada Kwe Ong dan para tosu lainnya, kemudian membalikkan tubuhnya dan melangkah lebar meninggalkan tempat itu.


Sembilan orang hwesio lainnya juga mengikuti langkahnya itu sebentar saja mereka sudah meninggalkan puncak itu.


Setelah para biksu itu pergi, Kwe Ong membuka matanya.


   "Siancai............! Bagaimanapun juga, Thian Gi Hwesio Jelas berwatak keras itu masih memiliki kebijaksanaan." Para tosu lainnya juga membuka mata mereka dan mereka itu merasa lega bahwa semua biksu telah pergi.


 "Nah, kalian melihat sendiri buktinya bahwa kekerasaan hanya dapat ditundukkan oleh kelunakan. Apakah kalian masih meragukan hukum Tuhan yang mutlak ini?" ucap Lwe kembali tersenyum dan ketika dia menggerakkan tubuhnya, nampak bayangan berkelebat dan dia pun lenyap dari tempat itu.

__ADS_1


Para pendekar aliran hitam itu memberi hormat ke arah lenyapnya para biksu kemudian mereka memandang kepada Han Beng yang sejak tadi menonton saja. Seorang di antara mereka menjura dengan hormat.


"Anak muda, terima kasih atas bijaksanaanmu tadi." kata orang itu. Dan Han Beng mengulas senyumnya.


Setelah berkata demikian, para pendekar aliran hitam itu juga pergi, mengambil arah lain dari arah yang diambil para biksu.


Namun didalam hatinya, Han Beng masih menaruh curiga. Karena tadi sikap para biksu masih penasaran, apalagi orang yang ditangkis oleh Biksu Thian Gi . Siapa tahu mereka itu masih belum dapat melenyapkan dendam.


Maka, dengan perasaan tidak enak, Han Beng la berlari menuruni puncak, membayangi para biksu yang turun menuju ke arah barat.


Para biksu itu berjalan dengan langkah lebar, akan tetapi dengan mudah Han Beng dapat menyusul dan membayangi mereka. Mereka berjalan tanpa bicara.


Ketika mereka tiba di tepi sebelah hutan dan Han Beng sudah mulai saja bosan membayangi mereka karena selain mereka tidak bicara, juga agaknya tidak ada sesuatu yang patut dicurigai.


Tiba-tiba dari dalam hutan muncul kurang lebih dua puluh orang pendekar aliran hitam yang memegang senjata dan tanpa banyak cakap lagi dua puluh orang tosu itu telah menyerang sepuluh orang biksu itu. Tentu saja para biksu itu menjadi marah.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2