
Hok Cu segera teringat dan ia pun seperti Han Beng memberi hormat.
"Tuan Liu Tai maafkan saya," kata Hok Cu yang tentu saja ia teringat dengan pembasar itu, karena dia pernah bersama Hong Lan menghadang pembesar ini yang disangkanya jahat dan korup.
Pembesar itu memang Liu Tai, pembesar kepercayaan kaisar dari kota raja yang suka diutus menjadi peneliti dan pemeriksa para petugas dan memberi hukuman kepada mereka yang korup dan nyeleweng.
"Ah, kiranya Pendekar naga sakti yang berada di sini!" seru pembesar Liu Tau dan dia pun cepat membalas penghormatan mereka.
"Dan Nona ini, apakah pendekar yang gagah perkasa itu?" lanjut tanya Liu Tai yang menatap Hok Cu dengan rasa penasaran.
"Memang benar sekali tuan Liu Tai." balas Han Beng dengan mengulas senyumnya. Demikian pula dengan Hok Cu yang juga mengulas senyumnya.
"Pendekar sekalian, sebenarnya apa yang terjadi di sini?" pembesar itu bertanya sambil memandang kepada empat orang pemuda itu.
"Maafkan saya, Liu Tai," kata Hok Cu seraya menu Duk dengan hormat.
"Mereka itu bersikap kurang ajar karena saya seorang wanita, mulut mereka kotor sekali dan sikap mereka tidak sopan sehingga terpaksa saya menghajar mereka!" lanjut kata Hok Cu.
Pejabat tinggi itu dengan mata mecorong dan alis berkerut memandar kepada empat orang pemuda itu. Melihat keadaan mereka, dia pun tersenyum.
"Pendekar, saya kira hajaran itu sudah cukup bagi mereka. Apakah perlu di tambah lagi?" tanya Liu Tai yang menatap keempat laki-laki itu dengan tajam.
Mendengar ini, empat orang yang sudah ketakutan setengah mati, bukan hanya karena mendengar bahwa dua oran muda yang mereka ganggu adalah pendekar-pendekar sakti, juga mereka takut sekali kepada Liu Tai yang terkenal sebagai seorang pejabat tinggi yang selain besar kekuasaannya, juga adil dan tegas, tidak mau disogok, segera menjatuhkan diri berlutut di depan Hok Cu.
"Pendekar, ampuni kami, ampuni kami...!" rengek salah seorang dari keempat laki-laki itu dan tiga orang kawannya juga ikut pula mohon ampun.
Hok Cu mengganggukkan ke0alanya kepada Liu Tai, mereka itu memang kurang ajar, akan tetapi hajaran yang diberikan tadi sudah lebih dari cukup.
"Asal kalian berjanji mulai sekarang Tidak ugal-ugalan dan tidak akan mengganggu wanita lagi, aku tidak akan mematahkan semua tulang kaki tanganmu!" seru p3mbesal Liu Tai yang lantang, dan mampu membuat empat orang itu menjadi semakin ketakutan dan seperti empat ekor ayam mematuk gabah, mereka mengangguk-angguk membenturkan dahi di tanah sambil berkata berulang-ulang,
__ADS_1
"Kami tidak berani tuan...! tidak berani lagi, tidak berani lagi......... tidak berani lagi ..............!" seru keempat laki-laki itu secara bergantian.
"Berterima kasihlah kalian kepada Liu Tai yang bijaksana, kalau tidak ada beliau, tentu aku tidak mau memberi ampun kepada kalian!" seru Han Beng.
Empat orang pemuda itu lalu berlutut menghadap Liu Tai dan mengucapkan terima kasih berulang-ulang. Liu Tai tersenyum, senang melihat sikap Hok Cu. Kalau ada beberapa orang pendekar seperti gadis ini di setiap kota, tentu akan aman keadaannya.
"Sekarang kalian pergilah!" seru Liu Tai dan empat orang itu lalu bangkit, dengan langkah terhuyung-huyung meninggalkan tempat itu.
Orang-orang yang melihat peristiwa itu diam-diam merasa kagum kepada Hok Cu yang selain merupakan seorang pendekar wanita yang lihai, juga ternyata menjadi kenalan Liu Tai yang disegani semua orang.
"Pendekar sekalian, bagaimana kalian dapat berada di sini? Apakah hanya kebetulan saja, ataukah memang sengaja datang untuk melihat pembangunan istana ini?" tanya Liu Tai yang penasaran.
"Dalam perjalanan, kami mendengar semua orang membicarakan pembanguna istana di Lok-yang ini, maka kami sengaja lewat di sini untuk menontonnya." kata Han Beng.
"Kalau begitu, mari masuk saja. kalian berdua agar dapat melihat keadaan di sebelah dalam istana. Mari naiklah ke dalam kereta kami." kata Liu Tai.
"Baiklah tuan Liu Tai, kami bersedia untuk ikut." kata Han Beng dengan hormat.
Kemudian Han Beng dan Hok Cu naik ke dalam kereta bersama pembesar itu dan para penonton memandang dengan kagum dan juga iri melihat betapa dua orang muda itu mendapat kesempatan yang amat langka itu, yaitu melihat keadaan istana itu dari dalam!
Han Beng dan Hok Cu melihat istana yang luar biasa megahnya itu. Liu Tai-jin membawa mereka berkeliling dan menerangkan segalanya kepada mereka sehingga dua orang muda itu semakin kagum dan juga merasa senang sekali mereka telah mendapatkan kesempatan yang demikian baiknya.
Setelah melihat-lihat, Liu Tai mengajak mereka memasuki sebuah ruangan yang dia pergunakan untuk tempat duduk apabila dia datang ke tempat itu. Mereka duduk berhadapan dan pelayan menghidangkan minuman dan makanan kecil. Liu Tai-lalu menyuruh semua pelayan dan pengawal untuk meninggalkan ruangan dan membiarkan mereka bertiga bercakap-cakap.
"Tuan Liu Tai, bolehkah kami bertanya?" tanya Han Beng yang mengawali percakapan mereka.
"Tentu saja, pertanyaan apa yang harus aku jawab?" jawab sekaligus tanya Liu Tai yang penasaran.
"Kami merasa agak heran, bukankah tuan Liu Tai biasanya bekerja sebagai pejabat yang mengontrol pekerjaan para petugas, dan memberantas penyelewengan yang dilakukan para pejabat di luar kota raja?" tanya Han Beng yang penasaran.
__ADS_1
Liu Tai menghela napas panjang, lalu menganggukkan kepalanya.
"Memang benar. Itulah pekerjaanku dan aku senang dengan pekerjaan itu. Aku paling membenci pembesar yang melakukan korup, menindas rakyat dan mencuri uang negara, menumpuk harta kekayaan untuk diri sendiri dan tidak melaksanakan tugas dengan sebaiknya. Demi mencari harta, banyak pula pembesar yang bertindak sewenang-wenang, bahkan curang, membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar. Aku senang sekali bekerja memberantas segala penyelewengan itu walaupun pekerjaan itu amat berbahaya dan membuat aku dibenci dan dimusuhi banyak pejabat. Akan tetapi Sri baginda terlalu percaya kepadaku sehingga untuk pembangunan istana ini pun beliau memerintahkan aku untuk melakukan pengamatan di sini agar pekerjaan dilaksanakan sebaik mungkin, agar bahan-bahan bangunannya tidak dicuri, dikurangi mutunya dan tidak terjadi korupsi. Nah, begitulah. Terpaksa aku harus bekerja menjadi pengawas di tempat ini." jelas Liu Tai.
"Kalau Tuan Liu Tai yang menangani, tentu pembangunan ini cepat selesai dengan baik," kata Hok Cu.
"Ha...ha...ha...ha....!"
Liu Tai tertawa, tahu bahwa pujian pendekar wanita itu bukan sekedar basa-basi belaka.
"Pembangunan negara baru akan berhasil kalau semua petugas dan karyawannya bekerja dengan jujur dan setia, kalau semua pekerja, dari yang tinggi sampai yang paling rendah, tidak menjadi hamba nafsu rendah untuk menyenangkan diri sendiri dan melakukan korupsi. Semua tenaga harus bersatu untuk pembangunan, barulah pembangunan itu akan berhasil dengan baik.Tidak mungkin hanya tergantung pada satu orang saja. Tugasku di sini hanya mengawasi dan menjamin lancarnya pekerjaan dan bersihnya para pekerja. Akan tetapi, para tukang itulah yang menangani. Tanpa para tukang, bahkan tanpa para kuli kasar, pembangunan tidak akan selesai. Semua harus bersatu dan bekerja sama." jelas Liu Tai.
"Aih, maaf. Aku lupa kalau kalian bukan petugas negara. Apakah kalian akan lama tinggal di Lok-yang?" lanjut tanya Liu Tai.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih ini...
...Bersambung...
... ...
... ...
__ADS_1