Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 220


__ADS_3

Gerakan yang seperti orang mabuk itu dilanjutkan. Lawannya yang tinggi besar terhuyung, akan tetapi pedangnya tidak mengenai sasaran dan sebaliknya, tongkat itu tahu-tahu menyeleweng dan menggebuk pinggulnya.


Hong Lan yang mulai gentar itu, melihat suami isteri tadi sudah berlarian keluar membawa pedang di tangan, karena itulah jika dia melanjutkan perlawanan, dia akan celaka di tempat itu.


Disaat ada kesempatan, Hong Lan meloncat menjauh dan melarikan diri dengan secepatnya.


"Jahanam busuk, kau hendak lari mana...!" seru Coa Siang yang berlari mengejar.


"Kita kejar dan bunuh iblis itu!" seru pula Cu Ming yang semakin kesal.


"Mohon kalian untuk tidak mengejarnya. Hal itu amat berbahaya bagi kalian, terutama bagi putera kalian!" seru Han Beng yang menatap Cu Ming dan Coa Siang dengan tajam.


Mendengar itu, suami isteri itu menghentikan langkah mereka dan kini mereka berdua menghampiri Han Beng penuh kagum. Mereka tadi telah melihat betapa pemuda tinggi besar ini telah menyelamatkan mereka dari keadaan yang amat gawat, dari malapetaka yang mengerikan yang mungkin akan menimbulkan kehancuran kebahagiaan keluarga itu.


Dan mereka pun melihat betapa hanya dengan sebatang tongkat saja, pemuda tinggi besar itu mampu membuat penjahat tadi melarikan diri. Padahal, penjahat tadi memiliki ilmu silat yang amat hebat.


Karena terharu mengingat akan hebatnya ancaman bahaya tadi, Coa Siang lalu menuntun tangan isteri dan anaknya, lalu mereka menjatuhkan diri berlutut di depan Han Beng.


"Pendekar, kami menghaturkan banyak terima kasih atas budi pertolonganmu." kata Coa Siang dengan sikap ramah.


"Saya mohon untuk kalian tidak melakukan hal seperti ini! Sudah semestinya kita menentang orang-orang jahat!" seru Han Beng menjadi sungkan sekali dan cepat dia membangunkan mereka.


"Mari kita bicara di dalam saja, hawa udara terlalu dingin dan dapat membuat kita terutama putraku masuk angin." ajak Coa Siang.


Suami isteri itu nampak gembira bukan main karena Han Beng sudi singgah di rumah mereka. Mereka memasuki rumah dan duduklah Han Beng dan Coa Siang di ruangan dalam, sedangkan Cu Ming minta diri untuk menemani Coa Ki untuk tidur kembali.

__ADS_1


Melihat sikap kedua suami isteri itu demikian sopan dan halus, kembali Han Beng condong merasa suka kepada mereka dan merasa heran bagaimana gurunya yang gagah perkasa menghendaki kehancuran kedua orang yang nampak baik-baik ini.


"Apakah yang telah terjadi di sini dan siapa sebenarnya pemuda bercaping lebar yarg amat lihai tadi itu?" tanya Han Beng yang penasaran, begitu mereka duduk menghadap ke meja.


Coa Siang menarik napas panjang


 "Sungguh kami sendiri tidak mengenalnya, pendekar. Menurut pengakuannya, kebetulan lewat saja. Ah! sungguh aneh sekali peristiwa malam ini, muncul penjahat yang kebetulan lewat, kemudian muncul pula penolong yang kebetulan lewat juga." jawab Coa Siang seraya mengerutkan kedua alisnya.


"He..he...he...! Yang lebih kebetulan lagi bahwa yang diganggu penjahat Itu bukanlah suami isteri petani biasa melainkan suami isteri yang memiliki Ilmu kepandaian tinggi." kata Han Beng dengan mengulas senyumnya.


"Tak ada untungnya untuk dipuji, pendekar. Buktinya, kalau tidak ada pendekar, entah apa jadinya dengan kami. Kami akui bahwa kami memang pernah mempelajari ilmu silat, cukup mendalam, akan tetapi selama dua belas tahun ini kami tidak pernah bersilat, baik berkelahi maupun latihan. Kami hidup aman dan tenteram di tempat ini, siapa sangka malam ini hampir terjadi malapetakan. Perkenalkan saya bernama Coa Kiang dan isteri saya tadi Cu Ming. Anak kami tadi bernama Coa Ki. Seperti saya katakan tadi, sejak dua belas tahun yang lalu kami berdua meninggalkan dunia persilatan dan tidak mempunyai sedikit pun keinginan untuk melibatkan diri dengan urusan dunia persilatan. Kami tidak ingin mengajarkan ilmu silat kepada anak tunggal kami, agar dia tidak perlu melibatkan diri dalam kekerasaan dan permusuhan. Maka, sungguh kami merasa penasaran sekali melihat munculnya penjahat yang amat lihai tadi." kata Coa Siang panjang lebar yang menceritakan kehidupannya dan berhenti sebentar, lalu memandang wajah Han Beng dengan penuh kagum.


"Pendekar masih begini muda sudah memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat. Kalau boleh saya mengetahui nama besar pendekar?" tanya Coa Siang yang penasaran.


Coa Siang makin kagum terhadap pemuda tinggi besar dan gagah perkasa itu. Masih begitu muda bukan saja sudah lihai bukan main, akan tetapi juga sudah pandai merendahkan diri, tanda dari kerendahan hati. Dia pun merasa girang sekali di balik kekhawatirannya karena peristiwa tadi.


"Baiklah, adik Beng. Sebenarnya, seorang dengan kepandaian sepertimu, sudah sepatutnya disebut pendekar. Tapi karena kau merasa canggung, biarlah kusebut adik. Terus terang saja, kami sama sekali tidak pernah mengenal orang tadi, dan karena sudah belas tahun kami menjauhkan diri dari dunia duniabpersilatan, maka munculnya orang lihai itu pun kami tidak ketahui. Kau yang tentu sudah banyak mengenal tokoh dunia persilatan, barangkali mengenal dia, adik Beng." jelas Coa Siang.


Han Beng menggeleng kepalanya, sedikit memincingkan matanya suatu kebiasaan kalau dia berpikir-pikir.


Tidak, aku pun tidak pernah melihatnya. Akan tapi jelas bahwa dia seorang penjahat cabul!" seru Han Beng dengan gemas.


"Kukira bukan hanya penjahat cabul, adik Beng, kami merasa curiga kalau dia memang datang dengan sengaja untuk memusuhi kami sekeluarga." kata Coa Siang yang membantah.


"Kurasa memang demikian, dan aku dapat menduga siapa dia!"

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara Cu Ming yang muncul dari kamar. Puteranya sudah tidur kembali dan ketika ia keluar, ia mendengar ucapan suaminya. Kemudian dia duduk di dekat suaminya yang segera menegurnya.


"Bagaimana kau bisa tahu siapa dia? Sedangkan adik Beng yang selama ini di dunia persilatan saja tidak mengenalnya, apalagi kau yang selama belasan tahun tidak pernah meninggalkan dusun ini?" tanya Coa Siang yang penasaran.


"Aku juga tidak tahu, akan tetapi dapat menduganya, suamiku! masih ingatkah kau kepada orang yang amat membenci kita, yang ingin melihat kita lebih menderita daripada kematian sendiri?" jawab sekaligus tanya Cu Ming.


"Apakah yang kau maksudkan Hua Li?" tanya Coa Siang yang kini teringat dan terkejut pula.


Mereka saling pandang sehingga tidak melihat betapa wajah tamu mereka berubah dan nampak kaget pula mendengar ucapan nyonya rumah itu.


"Siapa lagi kalau bukan gadis Iblis yang jahat itu? Hanya dialah seorang dunia ini yang amat membenci kita dan dia akan girang sekali melihat kita hancur atau terbasmi, termasuk anak kita. Aku hampir yakin bahwa pemuda bercaping itu tentulah utusannya, entah pembantunya atau muridnya!" jawab Cu Ming dengan begetar.


"Ah, kau benar, isteriku! Memang masuk akal sekali pendapatmu itu. Melihat kelihaian penjahat tadi, agaknya memang dia itu orangnya pendekar kecapi!" seru Coa Siang dengan geram.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2