
Tapi gaya dan sikapnya sungguh amat genit seperti bujang sedang birahi. Oleh sebab itu terasa berkurang juga rasa hormat Yui Lan kepada kakek tampan itu.
Hmmm... Kalau begitu benar juga perkataan Kok Jin tadi. Jadi anda dulu pernah mengganggu isteri Kok Jin. Benarkah..?" Tapi kakek itu tiba-tiba memelototkan matanya.
"Siapa yqng bilang kalau aku mengganggu isterinya? Huh dasar....! Kurang ajar....! Justru bocah gila itulah yang menyuruh isterinya untuk menggodaku! Mereka bersekongkol untuk mencuri buku Seribu Racun dan Penawar Racun milikku!" seru kakek itu.
"Jadi saudari sendiri untuk menggoda, eh! mencuri pusaka milik anda?" tanya Yui Lan yang tak mampu melanjutkan kata-katanya.
Perempuan itu benar-benar pusing memikirkan urusan orang yang selain amat memalukan juga sangat ruwet itu. Sungguh amat sulit bagi perempuan itu untuk menentukan, siapa yang telah berbohong kepadanya dalam hal ini.
Ternyata kakek itu merasakan pula keragu-raguan Yui Lan terhadapnya. Maka dengan geram dan penasaran ia berkata,
"Apakah kau tak percaya kepadaku? Kau lebih mempercayai adik angkat bangsat itu daripada saudarinya?" tanya kakek itu yang penuh dengan tatapan garangnya.
Kini giliran Yui Lan yang sangat kaget mendengar nama kakek itu. Giok Bin adalah nama yang tertera di dalam buku Seribu Racun.
"Benarkah kakek yang genit dan tampak kurang ajar ini Giok Bin, si penyusun buku Seribu Racun itu? Ataukah kakek ini hanya membual dan mengaku-aku saja untuk menakut-nakutiku saja?" gumam dalam hati Yui Lan yang teringat akan kecurigaannya kepada orang tua itu.
Tadi malam dia telah mencoba bertanya kepada kakek pendekar tua, sebelum orang tua itu menghembuskan napasnya yang penghabisan. Tapi pendekar tua itu tidak sempat memberi jawaban. Kini dia ingin bertanya langsung kepada kakek yang ada dihadapannya itu.
"Apakah anda ini si Penyebar Maut yang sangat terkenal itu?" tanya Yui Lan dengan hati-hati.
Hua Li atau Yui Lan dengan sengaja membuang kata-kata "Iblis" di depan sebutan itu, agar supaya kakek tersebut tidak tersinggung dan menjadi marah karenanya. Tapi kakek genit itu ternyata masih tetap marah juga.
"Kurang ajar! Kau bocah kemarin sore berani menghina aku, ya? Kau persamakan aku dengan pencuri kampungan macam si Iblis Penyebar Maut itu, heh? dasar perempuan kurang ajar!" maki kakek itu yang tak disangka-sangka oleh Yui Lan, kalau kakek itu mengumpat-umpat kasar dan sama sekali tak peduli kalau yang ia hadapi itu seorang Perempuan.
"Cuih...!" Kakek genit itu meludah.
Yui Lan sangat tersinggung dan merah padam mukanya. Apalagi melihat kakek itu meludah seenaknya di depannya sampai-sampai airnya memercik mengenai sepatunya.
__ADS_1
Namun kemarahan itu terpaksa dipendamnya di dalam hati, karena ia menyadari kelemahannya di hadapan kakek sakti itu. Kakek itu hendak mengumpat lagi namun dari atas tebing tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang memanggilnya.
"Yui Laan.....!"
Suara itu bergema di dalam jurang.
"Eh...! Itu suara saidari aku...!" Yui Lan yang berseru kaget.
"Siapakah saudari kamu itu, heh?" tanya Kakek itu memotong dengan suara geram.
"Saudari aku biasa disebut orang dengan gelar Si Pendeta Palsu dari teluk Po-hai!" jawab Yui Lan yang sedang merasa kesal itu menjawab ketus dan membanggakan nama saudarinya.
"Apa? Dia bekas pendeta Im-Yang-kauw di desa Ban-cung di Teluk Po-hai?" tanya kakek itu yang sangat memandang remeh Si Iblis Penyebar Maut itu tiba-tiba berseru dan membelalakkan matanya.
"Ya!" jawab Yui Lan dan mendadak kakek itu menjadi pucat dan tampak ketakutan. Sikapnya sungguh bertolak-belakang dengan kegarangannya tadi.
Sekejap saja bayangannya telah hilang dari pandangan Yui Lan. Tentu saja Yui Lan melongo keheranan. Perempuan itu tak tahu apa yang menyebabkan Giok Bin yang lihai itu menjadi ketakutan mendengar nama saudarinya.
"Apakah mungkinkah kepandaian saudari ku itu lebih tinggi daripada Giok Bin?" gumama dalam hati Yui Lan yang penasaran.
"Yui Laaannn!" sekali lagi terdengar namanya dipanggil oleh suara seorang wanita.
"saudari, adik angkat disini...!" Perempuan itu berteriak pula menjawab panggilan saudarinya. Perempuan itu memandang keatas tebing. Dilihatnya saudarinya merayap turun dengan cepatnya. Dan sebentar kemudian perempuan tua itu telah memeluk dirinya sambil menangis lega.
"Dasar adik angkat nakal...! Kemana saja kau semalaman tadi? Habis sudah harapanku untuk bisa bertemu lagi denganmu. Kukira... kukira kau telah berjumpa dengan Iblis itu. Ooohhh...!" cerocos perempuan tua itu yang kata tersendat-sendat. Diam-diam Yui Lan juga meneteskan air mata.
Baru kali ini ia me lihat saudarinya yang terkenal keras dan kejam itu menangis mengkhawatirkan dirinya. Hampir-hampir ia tak percaya melihatnya.
"saudari...! adik angkat sehat-sehat saja. adik angkat tidak sampai hati membiarkan kuda itu jatuh ke jurang. Jadi adik angkat dengan terpaksa turun melihatnya. saudari...! maafkanlah adik angkat." jelas Yui Lan.
__ADS_1
Akhirnya perempuan tua itu sadar kembali akan keadaannya. Sambil menyeka sisa-sisa air matanya, perempuan tua itu menghela napas panjang.
"Lalu dimana kuda itu?" tanya wanita itu perlahan.
"Dia...dia sudah aku kuburkan disana!" Yui Lan menjawab perlahan pula seraya menundukkan kepalanya.
"Hmm...! Lalu bagaimana dengan gigitan ular di kakimu itu?" tanya wanita pedeta palsu itu.
"Seperti yang saudari lihat sekarang, adik angkat tidak apa-apa! Racun ular itu tak berpengaruh apa-apa terhadap tubuh adik angkat." Yui Lan yang menjawab dengan tegas.
"Heran! Sungguh mengherankan sekali! Memang sejak kecil keadaan tubuhmu sangat berbeda sekali dengan anak-anak yang lain, tapi aku tak menyangka kalau tubuhmu kebal terhadap racun. Padahal ular itu adalah sejenis ular yang amat berbahaya sekali. Akupun takkan tahan bila terkena gigitannya." gumam wanita pendeta palsu itu.
Yui Lan menghela napasnya dan kemudian Kedua orang saudari dan adik angkat itu lalu berdiam diri. Masing-masing sibuk dengan pikiran mereka sendiri. Tapi perempuan tua itu terkejut bukan main ketika melihat bekas ledakan dan sisa-sisa tulang manusia berserakan di dekat tebing.
"Itu... itu... eh, apa yang telah terjadi di sini?" Perempuan tua itu bertanya dengan mata melotot. Yui Lan terpaksa menceritakan semuanya. Tak satupun yang terlewatkan kecuali tentang buku dan mustika pemberian pendekar tua itu.
Yui Lan ingin menepati janjinya untuk tidak memperlihatkan benda-benda itu kepada orang lain, biarpun kepada saudarinya sekalipun. Kepada saudarinya, Yui Lan juga menuturkan kecurigaannya terhadap Giok Bin yang ketakutan mendengar nama saudarinya itu.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1