
"Bunuh pemberontak ini!" seru Lok Sek yang sedang marah.
Salah seorang perwira pembantunya yang pandai dalam bermain pedang, sudah menerjang Han Beng dengan tusukan pedang kearah pemuda remaja itu dengan memandang rendah kepada Han Beng. Karena biarpun pemuda itu bertubuh tinggi besar, namun wajahnya masih menunjukkan bahwa dia masih remaja.
Tusukan pedang itu sangat cepat sekali, dan hanya nampak sinar pedang kelebatan ke depan, menyambar kearah dada Han Beng.
Pemuda melihat berkelebatnya sinar pedang ke arah dada. Dengan tenang dia miringkan tubuhnya sehingga sinar pedang itu meluncur ke sisi tubuhnya dan sekali melangkah ke belakang, telah menjauhkan diri.
Akan tetapi, luputnya serangan pertama itu membuat Perwira menjadi penasaran dan dia pun membalikkan pedangnya, kini pedang berubah menjadi sinar yang membabat arah leher Han Beng.
Pemuda ini mengetahui bahwa orang itu memang bersungguh-sungguh menyerangnya untuk membunuhnya. Dia sudah merendahkan tubuh, membiarkan pedang itu lewat di atas kepalanya dan begitu pedang lewat, tangannya mendorong ke depan.
Tangan itu tidak mencapai dada lawan, namun perwira itu rasa betapa ada tenaga yang hebat disertai angin mendorong dadanya sehingga dia hampir terjengkang, terhuyung-huyung ke belakang.
Terkejutlah perwira itu jika lawannya ternyata seorang pendekar yang salti. Dia tidak lagi berani memandang rendah dan sambil mengeluarkan seruan dahsyat dia menyerang lagi ke depan sambil memutar pedangnya.
Namun Han Beng menyambutnya dengan memutar tangan dan sebelum pedang dapat menyentuhnya, lebih dulu Han Beng sudah mengetuk lengan yang memegang pedang dari samping.
"Plakk...!"
Pedang itu terlepas dan tangan Han Beng meluncur terus penampar ke arah pundak kanan lawan. Perwira itu terjungkal dan tidak bangkit kembali karena roboh pingsan
Melihat ini, Lok Sek terkejut juga marah. Dia lalu berteriak kepada perwira pembantu yang ke dua, lalu dia sendiri menggerakkan sepasang goloknya menerjang dan menyerang Han Beng dibantu oleh perwira ke dua yang memegang sebatang ruyung, masih dibantu lagi oleh beberapa orang perajurit.
Keliima orang pendekar senior perguruan Elang Sakti menjadi gembira dan semangat mereka bangkit kembali melihat betapa permuda yang baru datang ini ternyata sakti sekali.
Mereka yang sudah luka-luka kembali memutar pedang mereka mengamuk, dengan sasaran puluhan orang perajurit, mereka itu dapat membabat mereka sehingga banyak di antara para perajurit yang roboh.
"Saudara- saudara harap membebaskan para tawanan dan melindungi mereka!" seru Han Bengelihat betapa lima orang pendekar itu mengamuk
"Baik pendekar!" jawab salah satu dari kelima pendekar senior perguruan Elang Sakti itu,.
__ADS_1
Kemudian lima orang pendekar senior perguruan Elang sakti itu meninggalkan pasukan yang sudah mulai gentar itu, dan membebaskan para tawanan pria dan wanita, lalu mengawal mereka kembali ke dalam dusun.
Sementara itu, Han Beng dikeroyok oleh puluhan orang perajurit, dipimpin oleh Lok Sek sendiri bersama seorang perwira pembantunya. Han Beng mengamuk membagi-bagi tamparan dan tendangan dan para pengeroyok itu.
Banyak pengeroyok yang terlempar ke sana-sini, ada yang mengerang kesakitan, ada yang pingsan, ada pula yang mampu bangkit dan mengeroyok kembali. Akan tetapi tidak seorang pun yang tewas. Han Beng tidak biasa membunuh orang.
Menurutnya mereka ini bertindak kejam terhadap rakyat dusun itu karena mereka hanyalah petugas pelaksana saja.Yang menjadi biang keladi adalah atasan mereka, dan dalam hal tindakan setempat itu, tentu panglima dan perwira yang memimpin mereka ini yang tidak benar.
Han Beng mengeluar suara melengking dan tubuhnya mencelat ke atas seperti terbang saja dan dari atas, tubuhnya menukik turun dan luncur ke arah kepala Lok Sek perwira pembantunya! Perwira pembantu yang memegang ruyung itu terkejut, menghantamkan ruyungnya ke atas mengararah kepala pemuda yang meluncur dari atas dan dia melihat datangnya serangan ruyung dari bawah.
Disambutnya ruyung itu dengan telapak tangan dan membalik, menghantam ke arah kepala perwira itu sendiri. Perwira itu terkejut, berteriak dan cepat miringkan kepalanya.
"Dess....!"
Pundaknya masih terkena hantaman ruyungnya sendiri dan dia pun roboh pingsan dengan tulang pundak retak.
Lok Sek marah bukan main dan sepasang goloknya sudah putar cepat menyerang Han Beng sambil mengerahkan seluruh tenaganya dan mengeluarkan jurus-jurusnya yang paling ampuh.
Tiba-tiba, dengan kecepatan kilat, Han Beng berhasil menendang tangan kiri pimpinan pasukan itu dan golok yang dipegangnya terlepas karena tangannya seperti remuk terkena tendangan. Tangan Han Beng menyambut dan memukul ke arah golok yang terlepas dan. golok itu meluncur bagaikan anak panah menuju ke tubuh Lok Sek.
"Capp...!"
Tanpa dapat dihindarkan lagi, golok itu sudah menembus dada Lok Sek yang mengeluarkan teriakan parau dan tubuhnya roboh mandi darah oleh goloknya sendiri.
Han Beng agak bergidik karena baru sekali ini dia membunuh orang dan dia terbelalak memandang. Pada saat itu, sebatang tombak menusuknya dari belakang, meluncur ke arah lambungnya. Karena Han Beng masih memandang kepada mayat Lok Sek dengan bengong, kewaspadaannya lenyap dan dia tidak tahu bahwa ada bahaya maut mengancamnya.
Baru setelah ujung tombak itu merobek baju dan sedikit kulitnya, dia terkejut dan dengan gerakan otomatis dia miringkan tubuh sambil mengerahkan tenaganya untuk melindungi lambung yang tertusuk.
Biarpun tombak itu menjadi menyeleweng namun kulit lambungnya berikut sedikit daging di bawah kulit telah robek dan darah pun membasahi bajunya. Han Beng menendang dan pemegang tombak itu terlempar sampai lima meter terbanting keras, tak mampu bangkit kembali.
Melihat pemuda remaja yang sakti itu telah terluka dan darah membasahi bajunya, para perajurit menjadi bersemangat seperti gerombolan ikan mencium darah. Mereka berteriak-teriak dan menghujankan senjata pada tubuh Han Beng.
__ADS_1
"Seraaaang...!"
Han Beng yang tidak ingin membunuh mereka, menjadi repot juga melayani puluhan orang yang haus darah ini
Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa.
"Ha...ha....! Dasar orang-orang hina, sungguh tak tahu malu, mengeroyok orang pemuda yang tidak ingin membunuh kalian!"
Dan muncullah seorang kakek yang pakaiannya tambal tambalan dan berkembang-kembang akan tetapi bersih, usianya kurang lebih enam puluh lima tahun, memegang sebatang tongkat butut.
Dengan gaya seperti seorang memukuli segerombolan anjing dengan tongkat, pengemis tua itu mengamuk, tongkatnya menggebuk sana-sini dan setiap kali tongkatnya bergerak, pasti ada pingsan yang kena hantam, atau punggung, semua senjata yang mencoba untuk menangkis, terpental beterbangan dan sebentar saja para perajurit itu menjadi kacau balau, banyak yang mengusap punggung atau pinggul sambil berteriak-teriak kesakitan.
Melihat munculnya kakek yang lihai itu, Han Beng merasa gembira bukan main. Dia segera mengenal pakaian dan tongkat itu, dia segera mengarakkan kaki tangan menendang dan menampar merobohkan beberapa orang mengeroyok.
"Guru...!" panggil Han Beng..
"Ehh....?"
Gembel tua itu terkejut dan menghentikan gerakan tongkatnya dan menoleh.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1