
"Aku melihat sendiri Ayah Ibuku mati karena keracunan!" jawab Hok Cu dengan berseru.
"Apakah kau melihat guruku yang memberi racun kepada mereka?" tanya Han Beng yang mengernyitkan kedua alisnya.
"Tentu saja aku tidak melihat. Akan tetapi, Ayah dan Ibu sendiri yang mengatakan bahwa baru saja kau dan Pendekar Kecapi datang dan gurumu itu telah mengobati mereka. Dan di depan mataku, tiba-tiba saja mereka berdua itu mati keracunan. Siapa lagi kalau bukan gurumu yang telah meracuninya?" jelas sekaligus tanya Hok Cu.
Han Beng mengerutkan alisnya. Sungguh mustahil gurunya meracuni ayah ibu Hok Cu.
"Hok Cu, siapakah yang mengatakan kepadamu bahwa guruku yang memberi obat beracun? Ketika kau berada-bersama orang tuamu, siapa yang berada di situ?" tanya Han Beng yang penasaran.
"Aku mengajak Guru Mo Li untuk lebih dulu mencari orang tuaku sebelum ia membawaku pergi. Guru Mo Li berada di sana menjadi saksi dan Guru yang mengatakan bahwa orang tuaku tewas karena obat beracun yang diberikan oleh Pendekar kecapi." jawab Hok Cu.
"Ah, aku mengerti sekarang! Hok Cu, bukan guruku Pendekar Kecapi yang meracuni Ayah Ibumu, melainkan Mo Li sendiri!" seru Han Beng yang yakin.
Hok Cu mengerutkan alisnya, bingung dan penasaran.
"Hm, tidak mungkin! Untuk apa ia meracuni dan membunuh orang tuaku kalau ia hendak mengambil aku sebagai muridnya?" tanya Hok Cu.
"Mari kita pikirkan baik-baik dan dengan hati dan kepala dingin, Hok Cu. Percayalah, aku masih sahabatmu yang dahulu. Kalau benar guruku membunuh Ayah Ibumu, aku sendiri yang akan menuntutnya dan meminta pertanggungan jawabnya. Akan tetapi, mari kita selidiki. Guruku itu seorang pendekar besar, dan dia sama sekali tidak mempunyai alasan mengapa harus meracuni orang tuamu. Kalau dia hendak membunuh orang, tentu dilakukannya dengan pukulan saktinya, bukan menggunakan racun. Dan sekarang kita selidiki keadaan guru kamu, Mo Li itu. Ia seorang datuk sesat yang tidak segan melakukan kekejaman bagaimana pun juga. Dari julukannya saja diketahui bahwa ia seorang ahli racun dan engkau sendiri tentu tahu bahwa ia ahli pula. melakukan pukulan beracun seperti yang juga kau pelajari. Jadi, mudah sekali baginya untuk memberi pukulan beracun kepada Ayah Ibumu, dan kau pada waktu itu tentu tidak akan mengetahuinya. Dan ia mempunyai niat untuk membawamu sebagai murid. Mungkin ia takut Ayah Ibumu akan melarangmu, maka ia membunuh mereka, dan sengaja ia melempar fitnah kepada guruku agar engkau tidak mendendam kepadanya melainkan kepada guruku." jelas Han Beng.
Mendengar semua ucapan Han Beng itu, hatinya tergerak. Ia cukup mengenal gurunya yang seorang wanita iblis yang amat kejam sehingga apa yang dikatakan Han Beng itu bukan suatu hal yang mustahil dilakukan gurunya. Akan tetapi, ia tidak mempunyai bukti, maka ia mulai meragu.
"Tapi ... tapi ..... guru mengatakan bahwa Hua Li si pendekar Kecapi yang membunuh Ayah Ibuku, dan selama bertahun-tahun ini, di dalam hatiku sudah keambil keputusan bahwa suatu hari aku akan nenemui pendekar Kecapi untuk membalas dendam atas kematian Ayah Ibuku!" seru Hok Cu.
__ADS_1
"Ingatlah, Hok Cu. Bagaimana kalau kau yang terburu nafsu berhasil membunuh guruku si pendekar Kecapi dan kemudian mendapat kenyataan bahwa pembunuh orang tuamu bukan Hua Li si pendekar Kecapi melainkan Mo Li sendiri?" tanya Han Beng.
"Ahhhhh .....!" Hok Cu menjadi semakin ragu,
"Tapi ..... tapi, apa yang harus kulakukan?" tanya Hok Cu yang bingung.
"Hok Cu, dengarlah baik-baik. Kita masih sahabat seperti dahulu, bukan? Dahulu, kita menghadapi ular itu bersama, kita bersama menggigitnya sampai dia mati. Kita bersama menghadapi ancaman maut di tangan orang-orang jahat. Nah, maukah engkau kuajak untuk bersama-sama pula menghadapi semua ini? Aku akan membantumu, Hok Cu. Demi langit dan bumi, aku tidak akan memihak guru kalau memang dia bersalah. Kita selesaikan dulu urusan di sini urusan yang penting sekali karena akan terjadi pemberontakan. Kita menghadap Liu Tai, maksudku bukan menghadap beliau, melainkan menyampaikan semua hasil penyelidikan kita tentang Cang Jin dan para pemberontak. Keteranganmu merupakan berita yang penting sekali. Sesudah itu, barulah kita berdua akan mengunjungi mereka." jelas dan saran Han Beng.
"Mereka siapa maksudmu?" tanya Hok Cu.
"Yang pertama, kita kunjungi guruku, pendekar Kecapi dan aku yang akan terang-terangan bertanya apakah di telah membunuh orang tuamu dengan obat beracun!" jelas Han Beng.
"Tentu dia akan menyangkalnya!" seru Hok Cu.
"Lalu bagaimana setelah kita menemui gurumu dan dia menyangkal?" tanya Hok Cu.
"Setelah itu, kita pergi menemui gurumu, Mo Li." jawab Han Beng.
"Ia akan memusuhiku karena aku telah melarikan diri darinya dan membuatnya marah." kata Hok Cu yang berhenti sebentar lalu melanjutkan.
"Aku kini tidak takut kepadanya dan aku akan mampu menandinginya, akan tetapi bagaimana kalau ia pun menyangkal bahwa ia telah membunuh Ayah Ibuku? Apakah aku hanya akan puas dengan keterangan dua orang itu dan tidak lagi membalaskan kematian orang tuaku?" tanya Hok Cu yang bingung.
"Kita coba saja dulu, Hok Cu. Perkembangannya bagaimana nanti kita lihat dan kita tentukan tindakan kita lebih lanjut. Maukah kau bekerja sama dengan aku seperti dulu ketika kita menghadapi mereka yang hendak menawan kita di sungai itu?" tanya Han Beng.
__ADS_1
Hok Cu teringat akan masa dulu dan ia pun tersenyum, menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, Han Beng. Tapi, bagaimana dengan orang tuamu sendiri? Siapakah yang membunuh mereka?" tanya Hok Cu yang penasaran.
"Mereka terbunuh dalam keributan itu. Demikian banyaknya orang persilatan yang jahat dan pandai di sana sehingga sukar diselidiki siapa yang telah membunuh Ayah dan Ibu. Akan tetapi ketika tadi aku melihat kau dikeroyok aku melihat dua orang yang kalau tidak salah dahulu ikut pula memperebutkan anak naga, kemudian memperebutkan diri kita di Sungai kuning." jawab Han Beng.
"Eh? Benarkah? Aku tidak mengenal mereka! Yang manakah?" rentetan pertanyaan dari Hok Cu.
"Dahulu guruku Hua Lipendekar Kecapi pernah menceritakan siapa adanya mereka yang ikut memperebutkan diri kita seorang demi seorang, dan kalau tidak salah yang menggunakan golok rantai bertubuh tinggi kurus tadi, dan seorang lagi yang gendut pendek dan tongkatnya dilapisi warna emas." jelas Han Beng.
"Hmm, mereka adalah ketua perguruan Serigala Emas yang yang bernama Gan Lok dan wakilnya yang bernama Kim Kauw!" jawab Hok Cu.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1