
Mendengar berita ini tentu saja para tokoh dunia persilatan itu, berbondong-bondong pergi ke tempat itu.
Dan sebelum dua orang jagoan itu sempat membawa dua orang bocah itu, para tokoh kang-ouw sudah berdatangan dan mengepung tempat itu.
"Berhenti...! Gan Lok, anak laki-laki itu harus diserahkan kepadaku!" seru seorang laki-laki tinggi besar muka hitam yang sudah memalangkan toyanya dengan sikap bengis.
"Kim Kauw! anak perempuan itu bagianku!" seru seorang laki-laki tua yang berpakaian seperti sastrawan sambil melintangkan sepasang pedang di depan dadanya.
Masih banyak orang lain yang mengambil sikap mengancam dan siap untuk menyerang siapa saja demi memperebutkan dua orang anak yang mereka percaya mempunyai darah yang ajaib dan yang akan banyak sekali manfaatnya bagi mereka.
Tentu saja Kim Kauw dan Gan Lok yang tadi telah menguasai dua orang anak yang diperebutkan, andaikan orang makan daging sudah dipegang dan dibawa ke depan mulut, tinggal telan saja, tidak rela menyerahkan anak itu kepada siapapun juga.
Mereka pun menggerakkan senjata dan tak dapat dicegah lagi terjadilaha perkelahian kacau-balau. Tidak ada kawan tertentu atau lawan tertentu.
Setiap orang lain menjadi musuh dan diserang karena mereka semua beranggapan bahwa siapa yang keluar menjadi pemenang tunggal dialah yang akan menguasai dua orang anak itu.
Suasana menjadi ribut dan ramai bukan main, seperti terjadi perang campuh saja dan beberapa orang sudah nampak roboh menjadi korban. Darah mulai mengalir dan nyawa melayang.
Tiba-tiba terdengar bentakan seorang gadis yang nyaring sekali, suaranya membawa getaran yang terasa oleh semua orang.
"Hai semua saudara sekalian...! hentikan perkelahian gila ini...!"
Di dalam suara itu terkandung tenaga dalam yang amat kuat, dan semua orang merasa betapa jantung mereka tergetar hebat.
Seketika itu mereka terkejut dan otomatis semua orang menghentikan perkelahian dan menengok kearah orang yang mengeluarkan teriakan itu. mereka melihat seorang gadis berusia dua puluh tahun lebih, bertubuh tinggi langsing dan gagah perkasa, dengan mata mencorong penuh wibawa.
Pakaiannya gadis itu sederhana sekali mendekati miskin, namun sikapnya anggun dan jelas bahwa dia bukan orang sembarangan, selain itu dia membawa sebuah pedang dan juga kecapi di punggungnya.
Akan tetapi, ada sebagian tokoh dunia persilatan itu tidak mengenalnya dan semua orang memandang dengan rasa penasaran.
__ADS_1
"Siapakah kau dan perlu apa menghentikan perkelahian kami?" tanya Gan Lok dengan suara heran.
"Tidak penting mengetahui siapa adanya aku," jawab gadis itu yang bukan lain adalah Hua Li.
Hua Li berhasil mendapatkan tubuh ular yang dijadikan perebutan sebagai anak naga itu, menggigit kepalanya dan menelan "mustika" yang terdapat di dalam kepala ular, lalu roboh pingsan di dalam perahunya.
Karena dia pingsan, tidak ada orang lain yang tahu apa yang telah terjadi dan mengira bahwa anak naga itu lenyap setelah darahnya dihisap oleh dua orang anak itu.
Lama juga Hua Li jatuh pingsan. Setelah sadar, dia merasa girang sekali mendapat kenyataan bahwa luka akibat pedang di tangannya yang mengandung racun jahat itu ternyata telah bersih dari racun.
Tidak lagi ada tanda menghitam, dan tidak ada perasaan nyeri. Ternyata "mustika" naga itu benar-benar ampuh dan telah menyembuhkannya.
Dia merasa bersukur sekali, akan tetapi juga kuatirkan nasib dua orang anak kecil yang tadi digigit oleh anak naga.
Kemudian Hua Li bangkit duduk mendayung perahunya sampai dia mendengar bahwa dua orang anak yang dikabarkan telah menghisap darah anak naga itu, kini terjatuh ke dalam tangan Gan Lok dan Kim Kauw di sebuah tepi sungai.
Dengan cepat diapun melakukan pengejaran kesana bersama dengan orang lain dan ketika para tokoh dunia persilatan itu berkelahi untuk memperebutkan dua orang anak itu, dia lalu turun tangan dan berteriak menyuruh mereka semua berhenti berkelahi.
Mendengar seruan ini, Kian Beng dan Hok Cu terkejut bukan main. Kiranya mereka diperebutkan untuk dibunuh dan diambil darah mereka. Kian Beng kini memandang kepada mereka semua dengan mata terbelalak dan muka yang panas itu kini menjadi marah sekali.
Dia benar-benar sangat marah. Kemarahan luar biasa yang belum pernah dialami selama hidupnya. Kemarahan yang seolah terdorong oleh hawa panas di tubuh dan dalam perutnya itu.
Sementara itu, para tokoh pendekar merasa rikuh mendengar ucapan Hua Li. Dua orng diantara para tokoh itu, segera melangkah maju mendekati Kian Beng dan Hok Cu.
Mereka tersenyum dan seorang diantara mereka berkata kepada Kian Beng.
"Anak baik, memang seharusnya kau diajak secara baik-baik. Marilah kau ikut bersamaku. Kau akan hidup berkecukupan, minta apapun akan kubelikan dan kalau ingin belajar silat akan kuajari ilmu silat tinggi sehingga kelak engkau akan menjadi seorang gagah perkasa!"
Dan kau ikut dengan aku, anak manis. Kau akan kuanggap seperti anakku sendiri," kata orang kedua kepada Hok Cu.
__ADS_1
Kian Beng yang sejak tadi sudah marah bukan main, hawa panas di dalam tubuhnya seperti berpusing di dalam tubuhnya, membuat kepalanya semakin pening dan pandang matanya berkunang.
Sepasang matanya mencorong seperti mata harimau dan wajahnya menjadi ganas sekali.
Kini melihat dua orang itu membujuk dia dan Hok Cu, teringat dia akan ucapan pendekar wanita tadi bahwa mereka semua itu hendak membunuh dia dan Hok Cu dan mengambil darah mereka berdua.
Kembali kemarahannya berkobar dan dia pun menerjang maju, menghantam dengan tangan terbuka, beruntun kepada dua orang itu. Dua orang dunia persilatan itu adalah orang-orang pandai, tentu saja tidak mempedulikan serangan Kian Beng, seorang anak kecil berusia dua belas tahun.
"Dess... Dess...!"
Dua tubuh orang itu terlempar sepeerti daun-daun kering tertiup angina, terhuyung kemudian roboh dan tidak bangkit kembali. Dari mulut, hidung, mata dan telinganya keluar darah dan jelas bahwa dua orang itu tidak dapat diselamatkan lagi.
Keadaan menjadi gempar, semua orang kini hendak menangkap Kian Beng karena mereka semua semakin yakin bahwa anak itu benar- benar menjadi kuat berkat minum darah anak naga.
Saat ini Kian Beng mengamuk. Dia kini sudah seperti orang yang mabuk, terhuyung-huyung dan memejamkan mata, mulutnya mengeluarkan suara tidak karuan.
Dia merasa betapa tubuhnya ringan dan seperti hendak terbang keatas, seluruh tubuh yang panas itu berdenyut-denyut tidak karuan, seolah-olah setiap saat dada, kepala dan perutnya akan meledak.
... ~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1