
"Ayahmu adalah calon ayah mertuaku, sedangkan guruku sekarang adalah Beng Ong dan Mayat betina!" seru Kong Sek dengan senyum mengejek.
"Keparat....!" bentak ayah Cu Ai yang menatap wajah Kong Sek dengan mata terbelalak marah.
"Siapa sudi mempunyai mantu atau murid seorang jahanam macam kamu!" lanjut seru ayah Cu Ai yang masih geram.
Suasana menjadi tegang dan kacau karena perebutan harta Karun itu.
Pada saat itu tanpa diketahui banyak orang Hua Li juga berada di situ. Dia bersembunyi di atas sebuah pohon besar dan hanya mengintai untuk menyaksikan apa yang sedang terjadi.
Diam-diam dia telah melakukan penyelidikan setelah berpisah dari kakak beradik Sin Lan dan Sin Lin. Gadis itu mendengar berita bahwa harta karun berada di perguruan Ular kobra.
Demikian pula dengan Yauw Lie dan Liu Hong yang tetap bersembunyi, mengintai dan melihat perkembangan selanjutnya.
Dulu Liu Hong merupakan seorang pemuda yang berwatak liar dan galak, tidak dapat dikendalikan siapa pun. Akan tetapi kini, setelah ia menyerahkan dirinya dan menjadi kekasih Yauw Lie, ia seolah-olah menjadi jinak dan penurut.
Melihat keadaan menjadi tegang dan gawat, Thian Yu dan beberapa orang muridnya dari perhguruan walet putih segera maju dan menggabungkan diri dengan tuan rumah, yaitu perguruan ular kobra.
Mereka berdiri disamping Liu Ceng dan memandang kepada Beng Ong dengan mata berapi karena dendam dan marah teringat akan dua orang murid wanita yang telah dihina dan dibunuh kakek iblis itu.
"Ketua, kami dari walet putih akan membantu menghadapi para iblis dan manusia sesat yang hendak mengganggu perguruan ular kobra!" kata Thian Yu setelah memberi hormat kepada ketua Thio Kong.
Ketua Thio Kong membalas penghormatan itu sambil membungkuk hormat dan senang.
Setelah orang-orang dari perguruan walet putih maju membela perguruan ular kobra, kini mereka yang berjiwa pendekar dan tahu bahwa Liu Ceng bermaksud mendapatkan harta karun untuk diserahkan kepada para patriot pejuang.
__ADS_1
Dan mereka berbondong menggabungkan diri dengan perguruan ular kobra. Mereka adalah dari perguruan Hoa-san, perkumpulan pengemis tongkat merah dan beberapa orang tokoh aliran putih di ia persilatan.
Hanya lima orang pendeta dari perguruan Siauw lim yang sejak tadi hanya diam saja, kini masih berdiri, agaknya tidak memihak dan hanya ingin melihat perkembangan keadaan yang menegangkan itu.
Pemerintah Kerajaan Mongol berusaha mendekati perguruan Siauw Lim. Pemerintah Mongol bersikap longgar kepada para pendeta, bahkan membebaskan mereka dari pajak dan kewajiban lain yang memberatkan.
Oleh karena sikap yang baik dari Pemerintah Mongol inilah yang membuat para pimpinan perguruan Siauw-lim berhati-hati dan berpesan kepada para muridnya agar bersikap bijaksana dan lunak, tidak memperlihatkan sikap bermusuhan atau menentang pemerintah Kerajan Mongol.
Ini pula yang menyebabkan lima orang tokoh perguruan Siauw-lim itu kini hanya sebagai penonton yang tidak berpihak.
Melihat betapa banyaknya orang yang menggabungkan diri dengan perguruan ular kobra, rombongan perguruan tengkorak hitam dan aliran hitam lainnya menjadi ragu.
Perguruan ular kobra kini sungguh kuat dan tidak boleh dipandang ringan, kini yang bergabung dengan mereka adalah wakil-wakil dari perguruan bunga persik, perguruan walet putih, perguruan Hoa-san, perkumpulan pengemis tongkat merah dan masih ditambah lagi dengan adanya Liu Ceng, kakak beradik Sin Lan dan Sin Lin dari Lembah Seribu Bunga, dan beberapa orang pendekar lain yang siap membela perguruan ular kobra.
Cu Liong adalah seorang pendekar yang berilmu tinggi dan gila untuk tanding. Kini, melihat banyaknya tokoh persilatan berkumpul di situ, kedua tangannya sudah gatal-gatal rasanya karena ingin sekali dia untuk mengadu jurus silat dengan mereka.
Dia tidak peduli akan harta karun, tidak membutuhkan harta karun. Dia ingin membuktikan bahwa tidak percuma dia berjuluk Tanpa Tanding. Dengan gagah dia lalu melangkah maju dan memandang ke sekeliling.
"Aku Cu Liong tidak peduli apakah harta karun itu ada ataukah tidak. Akan tetapi setelah di sini berkumpul banyak tokoh persilatan yang terkenal, aku tidak mau sia-siakan kesempatan ini! Aku tantang siapa saja yang berani maju untuk bertanding ilmu silat dengan aku untuk menemukan siapa yang pantas menjadi pendekar Silat Nomor Satu di Kolong Langit!" lanjut seru Cu Liong dengan sombongnya.
Walaupun tantangan ini membuat marah para pendekar yang tentu saja tidak takut melawan Cu Liong, namun pada saat itu mereka hanya memikirkan harta karun dan sama sekali tidak ingin bertanding hanya untuk mencari kemenangan kosong belaka.
Hua Li yang masih di persembunyiannya tahu bahwa tokoh dunia persllatan itu sudah dimabok harta karun. Untuk mendapatkan dan memperebutkan itu, agaknya mereka siap untuk mengadu nyawa.
Hal ini amat berbahaya karena darah mereka sedang panas. Kalau tantangan Cu Liong itu ada yang menyambutnya, bukan tidak mungkin perkelahian itu akan menjalar dan orang-orang akan nekat menyerbu perguruan ular kobra untuk merebut harta karun itu yang dikabarkan berada di perguruan ular kobra.
Biarpun banyak yang membela perguruan ular kobra, namun pertempuran besar itu pasti akan menjatuhkan banyak korban terbunuh.
__ADS_1
Pada saat itu juga Hua Li mengambil keputusan untuk bertindak. Gadis itu mengerahkan jurus meringankan tubuhnya yang memang menjadi keahliannya sehingga dengan jurus meringankan tubuhnya yang amat tinggi itu dia dapat bergerak cepat sekali sehingga bayangannya sukar diikuti dengan pandang mata.
Hua Li melompat ke hadapan mereka dan berkelebatan bagaikan seekor burung menyambar-nyambar. Semua orarg terkejut karena hanya melihat bayangan yang berkelebat ke sana sini, lalu terdengar suaranya lantang.
"Para ketua dan Saudara sekalian! Jangan mudah tertipu dengan berita bohong yang disebarkan orang untuk memancing kekacauan. Harta karun itu tidak berada di perguruan ular kobra. Harap kalian menyadari ini dan jangan tertipu. Harta karun itu berada di tangan orang yang sengaja menyebarkan fitnah kepada perguruan ular kobra agar kalian saling tuduh dan saling bentrok di sini. Kalau kalian memaksa dan menuduh perguruan ular kobra, terpaksa aku yang muda dan bodoh akan membelanya!" seru Hua Li yang berhenti bergerak cepat dan kini dia telah berdiri dekat ketua Thio Kong.
"Saudari Hua...!"
Panggilan ini keluar dari mulut Liu Ceng, Sin Lan, dan Sin Lin. Mereka girang melihat munculnya gadis yang berjuluk pendekar kecapi ini.
Terutama sekali Liu Ceng yang begitu pandangan matanya bertemu dengan pandangan mata Hua Li hati mereka berdua tergetar.
"Pendekar kecapi...! Jahanam busuk...!" Kong Sek yang memaki dan dia hendak langsung menyerang Hua Li.
Akan tetapi Beng Ong memegang lengannya dan mencegahnya. Orang-orang yang belum mengenal Hua Li, terkejut mendengar disebutnya pendekar kecapi karena nama ini menjadi amat terkenal setelah peristiwa pembunuhan atas diri Panglima Tek dan banyak perajurit di kota raja.
"Kami dari perguruan Hoa San tidak mencari permusuhan, akan tetapi kami percaya bahwa perguruan ular kobra tidak mencuri harta karun itu. Maka jika mereka difitnah, kami siap membelanya!" seru ketua perguruan Hoa San.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...