
Dengan bersungut kesal dan membanting kaki kirinya beberapa kali, Hok Cu lalu membalikkan tubuhnya dengan cepat, dan sekali meloncat ia sudah lenyap dari ruangan itu, berlari keluar dari tempat itu.
Ketika Hok Cu tiba di luar, ia melangkah pergi di bawah sinar bulan purnama. Tiba-tiba ia mendengar jerit dua kali. Ia berhenti melangkah dan memejamkan mata.
Akan tetapi tetap saja ia dapat membayangkan betapa pisau belati itu menancap di dada dua orang korban yang mungkin dibebaskan dulu dari totokan ketika hendak ditusuk dadanya, la menggunakan kedua tangan menutupi telinganya, lalu ia berlari menuju ke luar kota, ke pantai lautan.
Gadis itu tidak melihat apa yang dibayangkannya itu masih jauh daripada kenyataan yang amat mengerikan sekali bagi orang awam.
Setelah sinar bulan tiba di atas dada kedua orang muda itu Mo Li yang sudah siap dengan pisau belati di tangan, lalu membebaskan totokan mereka, akan tetapi secepat kliat pisaunya menyambar ke arah dada, sedemikian cepatnya sehingga kelihatannya seperti dua batang pisau bekerja dalam waktu yang sama.
Dua orang remaja itu hanya mengeluarkan jeritan masing-masing satu kali menggelepar dan tewas seketika karena jantungnya telah ditarik keluar oleh Mo Li seperti yang diharuskan dalam upacara itu.
Bagi orang lain, perbuatan seperti ini tentu saja amat mengerikan.
Akan tetap bagi seorang pendekar sesat seperti Mo Li, pekerjaan itu biasa saja. Dalam waktu beberapa detik saja, tangan kirinya sudah mengambil jantung manusia yang masih bergerak-gerak, dan meletakkan dua buah jantung itu ke atas baki perak yang lebar yang dipegang oleh Lui Seng.
Dua buah jantung itu masih bergerak-gerak seperti hidup, akan tetapi hanya sebentar saja dan Mo Li sudah membersihkan tangannya dari darah menggunakan kain sutera yang menyelimuti tubuh dua orang remaja itu.
Sikapnya tenang saja, bahkan mulutnya tersenyum. Dan mereka yang hadir itu adalah tokoh-tokoh sesat yang berhati kejam. Melihat pertunjukkan itu, mereka tidak merasa ngeri hanya tegang dan kagum.
Dengan dipimpin oleh Lui Seng, Mo Li bersembahyang di depan meja sembahyang di mana dua buah jantung itu dihidangkan. Banyak dupa dibakar dan mereka menyembah sambil berlutut.
Lui Seng mengambil sebuah guci yang terisi anggur. Mulut guci itu lebar dan dia memasukkan dua jantung manusia itu ke dalam guci. Di kocoknya anggur dalam guci bersama dua buah jantung itu, kemudian dia menuangkan anggur itu ke dalam sebuah cawan, lalu disiramkan dari atas patung, sehingga patung itu menjadi basah oleh anggur.
Tiga kali patung itu disiram anggur bercampur jantung manusia itu. Kemudian, Lui Seng menuangkan anggur ke dalam cawan dan menyerahkan kepada Mo Li yang segera meminumnya.
__ADS_1
Setelah itu, mulailah mereka pesta minum anggur yang bercampur jantung manusia yang masih segar itu. Dan agaknya, mereka semua minum tanpa jijik sedikit pun, bahkan merasa seolah-olah mereka minum obat kuat yang ampuh.
Mo Li menyuruh beberapa orang pelayan untuk menyingkirkan dua mayat yang masih hangat itu, membawanya jauh ke belakang, ke dalam kebun yang luas di mana siang tadi mereka telah menggali sebuah lubang besar, melempar dua mayat itu ke dalam lubang dan menimbun lubang dengan tanah tanpa banyak peraturan lagi.
Dua mayat manusia itu dikubur seperti orang mengubur bangkai binatang saja!
Upacara selesai akan tetapi pesta itu masih belum selesai. Mereka minum-minum dan terdengar gelak tawa, bahkan ada pula di antara para tamu yang menarik pinggang seorang pelayan wanita.
Ada wanita yang mengelak dan menolak, dan tamu itu pun tidak berani memaksa, karena mereka menghormati dan segan kepada Mo Li.
Akan tetapi ada pula pelayan wanita yang mau melayani sehingga mereka itu bercumbu rayu begitu saja, di depan orang banyak di depan Mo Li sendiri yang hanya tertawa.
Akan tetapi kalau sampai ada tamu yang berani memaksa seorang pelayannya tentu tamu itu akan sukar keluar dari situ dalam keadaan hidup.
Memang aneh sekali cara hidup para pendekar sesat ini. Agaknya, mereka sudah tidak mengenal hukum dan peraturan lagi, baik hukum agama, hukum tradisi, hukum masyarakat maupun hukum negara.
Yang kuat dia menang, yang menang dia kuasa, yang kuasa dia benar! Tidak ada susila lagi. Tidak ada akhlak lagi, tidak ada rikuh lagi, yang ada hanya demi bersenang-senang.
Hok Cu menjatuhkan diri di atas pasir pantai dan ia menangis dengan tersedu-sedu, bahkan sampai sesenggukan. Agaknya seluruh rasa penasaran yang selama ini tertimbun di dalam batinnya, melihat hal-hal yang bertolak belakang dengan suara hatinya terjadi di depannya tanpa ia dapat menentangnya.
Semua perasaan duka yang dirasakannya semenjak ia kematian ayah ibunya perasaan dendam karena kematian ayah ibunya adalah perbuatan Hua Li, dan semua hal yang buruk-buruk dan yang terpendam di dalam hatinya kini terungkap keluar sehingga ia menangis sampai mengguguk.
Selama lima tahun ini, ia seolah-olah digembleng untuk memiliki watak yang tahan uji. Namun, ternyata kini ia dapat menangis seperti itu, tanda dari kelemahan hati.
Hatinya seperti diremas-remas, melihat dua orang remaja dibunuh begitu saja tanpa dosa, dan ia tidak mampu menolong mereka.
__ADS_1
"Apa gunanya selama lima tahun aku mempelajari ilmu silat, ilmu kesaktian kalau kini aku tidak berdaya sama sekali menghadapi seorang Lui Seng yang demikian jahat dan kejam!" gerutu Ho Cu dengan kesal.
Hok Cu menangis tanpa merasa khawatir dilihat atau didengar orang. Karena menurutnya siapa yang akan datang di pantai yang amat sunyi di malam hari itu, dan siapa dapat mendengar suara tangisnya yang ditelan suara ombak yang menderu-deru.
Tangisnya merupakan suatu penyaluran rasa duka. Duka yang tadinya membeku di dalam batinnya, seolah-olah mencair dan sedikit demi sedikit mengalir keluar dari dalam hatinya, hanyut melalui air mata.
Setelah menangis selama kurang lebih satu jam lamanya, akhirnya tidak ada lagi air mata yang keluar. Saat ini Hok Cu merasa betapa dadanya lega dan ringan sekali.
Pikirannya pun lelah dan kosong, dan akhirnya, dendang suara air lautan ditambah semilirnya angin, sinar bulan yang sejuk, membuat ia tidak dapat lagi menahan kantuknya dan bagaikan orang yang kehilangan kesadaran, tahu-tahu ia telah jatuh pulas, telentang di atas pasir pantai.
Langit amat bersih dan bulan purnama seperti tersenyum kepada dara itu, bintang-bintang yang agak suram juga melambaikan cahayanya kepada dara itu.
Suasana yang amat indah di pantai itu tidak meramalkan keindahan dan kedamaian. Sebaliknya malah. Di balik keheningan malam itu, bersembunyi bahaya yang amat mengerikan bagi diri Hok Cu.
Ketika Hok Cu yang berlari meninggalkan tempat pesta itu, diam-diam ada dua orang pemuda yang juga ikut pergi meninggalkan pesta.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...