
"Ma'af saudara sekalian, kenapa Anda berdua mengganggu saya saat saya sedang mandi? dan siapakah kalian?" tanya Hua Li dengan sedikit menahan emosinya.
Laki-laki cebol yang tadi tersungkur itu hendak melarang adiknya memperkenalkan keluarga mereka, tapi adiknya terlanjur bicara. Maka ia diam saja dan hanya menegur adiknya dengan pandang matanya. Sementara itu si kurus pura-pura tidak tahu akan kemarahan kakaknya.
"Saya Sin Lin Dan kakak saya Sin Lan, kami berasal dari perguruan Bangau Putih. Mohon ma'afkan akan keusilan kami nona." ucap laki-laki kurus yang ternyata bernama Sin Lin itu.
"Kalau namaku Hua Li," kata Hua Li dengan singkat.
"Di mana tempat tinggalmu?" tanya Sin Lin.
"Aku pengembara, tidak mempunyai tempat tinggal." jawab Hua Li sembari mengulas senyumnya.
"Lalu apa maksud dan tujuanmu datang ke sini?"
"Tadi aku bilang kalau aku ini seorang pengembara. Jadi aku hanya menuju ke mana saja hati dan kakiku membawaku." jelas Hua Li.
"Apakah......" ucap Sin Lin yang kemudian dipotong oleh kakaknya si Cebol.
"Adik, engkau sungguh keterlaluan, menanyai tamu seperti hakim memeriksa pesakitan saja. Tidak sopan itu!" tegur Sin Lan yang yang menatap wajah adiknya.
"Ah, kakak Lan, kita kan sebagai tuan rumah harus mengenal betul siapa tamunya. Betul tidak, nona Hua?" ucap Sin Lin sekaligus tanya pada Hua Li untuk mengharapkan dukungan.
Hua Li hanya mengulas senyumnya, dan dia tak mau terlibat lebih jauh dengan mereka.
Tiba-tiba langit begitu gelap dan angin menderu dengan kencangnya.
"Wuuu.....! wuzz.....wuzz....!"
"Tampaknya akan ada badai malam ini, sebaiknya nona ikut kami. Agar nona tak terjebak badai nantinya." ajak Sin Lin yang mencemaskan Hua Li.
Hua Li melihat keatas memang langit begitu gelap dan angin yang begitu kencangnya.
__ADS_1
"Baiklah aku ikut dengan kalian." ucap Hua Li yang melihat sorot mata kedua laki-laki itu yang menurutnya mereka adalah orang baik-baik.
Ketiganya kemudian melangkahkan kaki memasuki hutan yang lebat dan ternyata setelah tiba di tengah, jalannya mulai mendaki sebuah bukit.
Perguruan Bangau putih berada di Lembah Seribu Bunga yang terletak di lereng bukit kecil dan setelah berjalan sekitar empat mil jauhnya, tibalah mereka di luar sebuah taman yang penuh dengan pohon-pohon dan tanaman bunga-bunga yang beraneka warna dan indah sekali.
Taman itu amat luas, ada rumpun bambu yang beraneka ragam, ada pula semak-semak yang teratur indah, padang rumput dan bunga-bunga yang amat banyak macamnya dan sebagian besar belum pernah ditemui Hua Li.
Sungguh bukan nama kosong kalau tempat itu dinamakan Lembah Seribu Bunga, karena banyak sekali bunga disekitarnya.
Hua Li berdiri dan memandang kagum sekali. Taman yang luas itu dikelilingi pagar tembok yang tingginya hanya setengah badannya sehingga dia dapat melihat tetumbuhan yang berada di balik pagar.
Amat luas dan terdapat jalan setapak yang terbuat dari batu-batu rata berwarna putih. Dari situ tampak agak jauh sebuah rumah berdiri megah di tengah taman, dan di sana-sini terdapat pula bangunan-bangunan kecil tanpa dinding yang merupakan tempat peristirahatan, berikut kolam-kolam ikan.
Taman itu dibuat seperti daerah perbukitan, ada yang menonjol dan menurun di sana-sini sehingga amat sedap dipandang. Anak sungai yang kecil dan jernih airnya mengalir di tengah-tengah taman, berkelak-kelok dan agaknya sungai inilah yang menembus ke tepi hutan di mana dia mandi tadi.
"Nona Hua, sekarang engkau kami persilakan menuju ke rumah kami di sana itu. Akan tetapi ada peraturan dari ibu kami bahwa hanya tamu yang mampu menembus taman ini yang dapat diterima kunjungannya. Karena itu, silakan nona memasuki taman dan mencari jalan menuju rumah kami di sana itu," kata Sin Lan dengan suaranya yang tenang.
"Maaf, tidak ada penunjuk jalan di sini,nona!" jawab Sin Lan sembari mengulas senyumnya.
"Tapi jika nona mau mengikuti kami, silakan kalau nona bisa!" seru Sin Lin sambil tertawa, dengan sikapnya yang seperti mengejek.
"Baik, akan kucoba untuk mengikuti kalian," katanya.
Dua orang laki-laki itu tanpa bicara lagi lalu memasuki taman lewat pintu pagar yang bercat merah. Tanpa tergesa-gesa Hua Li mengikuti mereka.
Sin Lin Dan Sin Lan terlalu memandang rendah pada gadis dibelakangnya.
Hua Li mengingat apa yang dikatakan Sin Lin tadi yang menantangnya, seolah dia tidak akan mampu mengikuti mereka.
Gadis itu semakin memperjauh jaraknya dari mereka. Membiarkan si Cebol dan si kurus mengira kalau dia tidak mampu mengikuti mereka.
__ADS_1
Melihat dua orang laki-laki itu sudah lari agak jauh, Hua Li tersenyum dan segera mengerahkan jurus meringankan tubuhnya untuk mengejar mereka.
Tubuhnya berkelebat cepat sekali seperti terbang. Dia melihat dua orang laki-laki itu, yang berlari di atas jalan setapak, berbelok ke kiri dan tertutup rumpun bambu kuning. Ketika dia tiba di dekat rumpun bambu dan memandang ternyata dua orang laki-laki itu telah lenyap.
"Hemm, kalian boleh mengambil jalan pintas yang bagaimanapun, aku tetap akan dapat mendahului kalian." ucap Hua Li sambil menahan tawa.
Kini dia tidak mempedulikan lagi dua orang laki-laki itu, tidak ingin mengikuti jejak mereka melainkan hendak mengambil jalan sendiri menuju rumah mereka dwnga mendahului mereka.
Maka, di jalan simpang empat itu dia mengambil jalan yang langsung menuju ke arah rumah itu.
Tumbuh-tumbuhan menghalanginya melihat gedung itu, akan tetapi dia yakin bahwa jalan setapak pasti menuju ke gedung di depan seperti yang dilihatnya tadi sebelum semak-semak yang tinggi menghalangi penglihatannya.
Setelah melewati deretan semak-semak yang cukup panjang dan tiba di tempat yang tidak terhalang, dia memandang ke depan dan rumah itu tidak tampak lagi berada di depannya.
Dia merasa heran lalu menoleh ke kiri dan ternyata gedung itu kini berada di sebelah kirinya, hanya saja tidak sedekat tadi, melainkan semakin jauh.
Ah, jalan setapak yang diikutinya itu tentu telah membelok tanpa dia sadari sehingga dia malah menjauhi gedung, bukan mendekati! Kini gedung itu sudah tampak lagi dan dia pun cepat berlari mengikuti jalan setapak yang menuju ke arah gedung itu. Kembali ada pohon-pohon yang menghalangi penglihatannya dan setelah dia berlari cukup lama, dia merasa heran mengapa belum juga dia tiba di gedung yang tadi sudah kelihatan itu.
Hua Li berlari lebih cepat dan melewati kelompok pohon yang menghalangi penglihatannya lalu memandang ke depan. Gedung itu hilang lagi dan setelah dia memandang ke sekeliling, gedung itu tampak di sebelah kanannya, semakin jauh.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1