
"Aku...... aku pun...... cinta padamu, kakak Hong......" bisik Yauw Lie.
Liu Hong merangkul gadis yang telah menjatuhkan hatinya padanya terasa hangat dalam dekapannya, membuat Liu Hong gemetar.
Pengakuan cinta Yauw Lie terasa merdu sekali, mengobati hatinya yang tadinya akan dipaksa oleh sepasang suami istri dari Mongol tadi.
Dia lalu mendekatkan mukanya dan mencium pipi Yauw lie. Akan tetapi, mendadak Yauw Lie memperketat rangkulannya dan membalas ciumannya dengan panas.
"Kakak Hong...!" tegur Yauw lie terkejut yang kemudian menarik dan menjauhkan mukanya dari Liu Hong.
Saat itu, semua pertahanan dalam batin Liiu Hong sudah buyar dan hilang. Pengaruh racun perangsang yang diminumnya secara paksa kini sedang bekerja mencapai puncaknya.
Tadi daya rangsangan itu sudah menyerangnya, namun dengan sekuat tenaga batinnya ia melawan dan mempertahankan diri agar tidak hanyut, dengan penanaman dendam kebencian terhadap wanita yang akan memperkosanya tadi.
Akan tetapi sekarang, ia merasa lega, girang, dan terharu ketika diselamatkan oleh Yauw Lie. Gadis yang memang telah menarik hatinya.
Semua ini merupakan dorongan sehingga rangsangan yang dibangkitkan racun perangsang itu menjadi berlipat ganda kuatnya, membuat ia tidak ada keinginan lain kecuali ingin tidur bersama gadis yang dicintanya itu.
Dalam pandangan sepasang mata Yauw Lie, Liu Hong demikian gagah dan tampan cemerlang, sehingga membuat ia kagum dan tunduk. Akan tetapi melihat Liu Hong semakin kuat merangkulnya dengan napas terengah-engah, Yauw Lie menarik diri ke belakang dan kedua tangannya menahan pundak pemuda itu dengan matanya memandang tajam.
"Kakak Hong, ingat dan sadarlah! Perbuatan ini kalau dilanjutkan tidak baik sama sekali! Jangan kakak Hong aku hanya seorang manusia biasa, kalau kau bersikap seperti ini, kau akan menyakitiku. Kakak Hong aku cinta padamu, dan aku tidak ingin kau merusak kehormatanku, aku cinta dan hormat padamu!" seru Yauw Lie yang kemudian dia menjauh dari Liu Hong dan mengambil pakaian Liu Hong yang berserakan.
Lalu dia memberikan pakaian Liu Hong dengan tidak memandang tubuh Liu Hong yang masih telanjang itu.
Liu Hong menerimanya tapi tidak memakai pakaiannya. Namun dia langsung memeluk Yauw Lie dari belakang.
"Aku cinta padamu, adik Yauw. Aku ingin menyerahkan segala milikku, kalau perlu nyawaku, kepadamu. adik Yauw!" bisik Liu Hong yang kembali menubruk, merangkul dan Yauw Lie tidak kuat bertahan untuk menolak lagi.
Gadis itu membalas merangkul dan keduanya tenggelam dalam nafsu berahi, terbuai asmara yang membuat manusia lupa akan segala sesuatu, lupa akan baik buruk, kehilangan semua pertimbangan, bahkan kehilangan kesadaran, diri sendiri pun terlupa dan yang hidup menguasai seluruh diri hanya nafsu berahi yang mendesak untuk disalurkan dan dipuaskan.
...****...
... ...
__ADS_1
Pada keesokan harinya, ketika matahari mulai bersinar mengusir kegelapan malam dan mengangkat halimun membubung ke atas, ketika burung-burung menyanyikan pujian bagi Sang Maha Pencipta sebelum mereka mulai dengan kehidupan baru di hari itu, diseling kokok ayam hutan yang membungkam segala macam jangkerik belalang dari senandung malam mereka, Liu Hong terbangun dari tidur nyenyak.
Dia melihat dirinya tadi rebah di dipan kayu yang kasar dalam gubuk itu. Dia terkejut ketika teringat akan peristiwa semalam. Yauw Lie tidak ada di situ dan dengan cepat dia mengenakan pakaiannya dan keluar dari gubuk.
Dilihatnya Yauw Lie, dengan pakaian kusut dan rambut tidak tersisir, duduk di atas batu sambil menangis tanpa suara.
Liu Hong cepat menghampiri dan dia menjatuhkan diri berlutut di dekat batu di mana Yauw Lie duduk.
"Adik Yauw, aku telah berdosa padamu. Dosaku terlalu besar, kau boleh bunuh aku, untuk menebus kesalahanku padamu!" ucap Liu Hong dengan suara bergetar.
Yauw Lie menurunkan kedua tangannya yang tadi dipakai menutupi mukanya. Kedua matanya basah, wajahnya agak pucat dan ia memandang pemuda yang berlutut di depannya itu.
"Kakak Hong!" panggil Yauw Lie yang juga gemetar dan ketika Liu Hong mengangkat wajah memandangnya.
Melihat wajah yang memelas (menimbulkan iba) dengan sepasang mata basah itu, Liu Hong juga menangis tanpa suara. Air matanya bercucuran keluar dari sepasang matanya.
"Adik Yauw, ampuni aku...... ah, tidak, jangan, ampuni aku...... bunuhlah aku dengan pedangmu...... aku akan menerima kematian di tanganmu dengan bahagia karena telah dapat menebus dosaku!" racau Liu Hong dengan perasaan bersalahnya.
Dalam tangisnya Yauw Lie tersenyum, dia menjulurkan kedua tangannya, menarik Yauw Lie agar duduk di atas batu di sampingnya.
"Bukan salahmu, kakak Hong. Akulah yang salah, aku tidak dapat menahan diri, aku hanyut. Dan tak bisa menahan gejolak dalam diriku juga." ucap Yauw Lie yang menatap Liu Hong.
"Tapi...... engkau tadi menangis?" tanya Liu Hong yang penasaran.
"Aku menangis karena bahagia, kakak Hong. Aku kini menjadi milikmu, untuk selamanya! Bukankah kamu sangat mencintaku, kakak Hong?" jawab dan sekaligus tanya Yauw Lie.
"Tentu saja, aku sangat mencintamu, adik Yauw." jawab Liu Hong yang mengulas senyumnya.
"Dan engkau berjanji tidak akan meninggalkan aku?" tanya Yauw Lie penuh harap.
"Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu." jawab Liu Hong.
"Juga tidak akan mencinta wanita selain aku?" tanya Yauw Lie dan Liu Hong menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Yauw Lie menghela napas penuh kelegaan dan kebahagiaan dan ia lalu menyandarkan kepalanya di dada Liu Hong yang merangkulnya dengan mesra.
Sampai lama mereka hanya duduk diam, kediaman yang menenggelamkan keduanya dalam kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bagaikan dalam mimpi mereka membayangkan semua yang terjadi pada tadi malam.
"Adik Yauw, di mana mereka?" tanya Liu Hong yang tiba-tiba teringat akan sesuatu.
Yauw Lie kaget juga merasa betapa Liu Hong yang tadi begitu lembut, hangat dan pasrah dalam rangkulannya, kini menjadi tegang dan kekerasan membayang di sinar matanya yang jernih tajam
"Siapa maksudmu? Ah, dua orang penjahat itu? Aku sudah melempar mereka ke dalam jurang di sana." jawab Yauw Lie yang kemudian menuding ke arah jurang.
Dan Liu Hong melompat dari atas batu dan lari ke tepi jurang tak jauh dari situ. Yauw Lie menyusulnya.
"Nah, itu mereka kakak Hong. Mereka sudah tewas!" seru Yauw Lie sambil menunjuk ke bawah jurang.
Jurang itu cukup dalam dan Liu Hong melihat dua orang yang semalam menangkapnya itu. Yang wanita dengan posisi rebah miring dan yang laki-laki rebah telentang.
Dengan kebencian masih mengganjal hatinya, Liu Hong mengambil sebuah batu sebesar kepala orang lalu melontarkan batu itu ke bawah.
"Wuuuttt...... prakk!"
Kepala laki-laki yang telentang itu pecah tertimpa batu yang ditimpukkan dengan kuat. Batu kedua menyusul memecahkan kepala wanita setengah baya itu.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...