
Pemuda itu semakin kaget dan diapun mempergunakan kelincahan tubuhnya untuk mengelak kesana-sini dan kadang-kadang menggunakan kedua pedangnya untuk membendung serangan lawannya itu, dan dia terdesak dengan hebat.
Melihat betapa jago muda mereka terdesak walaupun mempergunakan sepasang pedang sedangkan Hua Li bertangan kosong, tiga belas orang anggota perguruan Harimau Hitam tingkat tinggi itu lalu menyerbu dan mengepung Hua Li.
Mereka itu adalah Barisan Tiga Belas yang diciptakan oleh perguruan Harimau Hitam dan dilatih selama setahun ini untuk menghadapi Hua Li. Yang mana tadinya, mereka mengharapkan Coa Siang akan mampu menandingi musuh besar mereka itu.
Coa Siang memang saudara kembar mendiang Coa Kun. Dimana Coa Kun ketika masih hidup terkenal sebagai seorang laki-laki perayu wanita. Banyak sudah korban berjatuhan akibat rayuannya.
Dua murid pilihan perguruan Harimau Hitam segera maju setelah melihat kenyataan bahwa Coa Siang telah terdesak oleh Hua Li.
Kini barisan itu mengepung gadis yang berjuluk si pendekar kecapi itu dan pedang mereka menyerang secara bertubi-tubi dan teratur sekali. Setiap kali Hua Li mengelak dari suatu sambaran pedang, sudah ada pedang lain yang menyambutnya dengan tusukan atau bacokan.
Semua bergerak secara otomatis dan kemana pun dia mengelak, selalu disambut serangan pedang lain. Dan setiap kali dia hendak membalas, sudah ada dua tiga batang pedang lain menyerangnya dari kanan kiri dan belakang, membuat dia sama sekali tidak sempat untuk balas menyerang lawan.
Tiba-tiba, tiga belas buah mulut mengeluarkan suara melengking panjang, sambung menyambung dan karena mereka itu mengerahkan tenaga dalam, maka tenaga yang tergabung ini menjadi kuat sekali, disusul gerakan pedang mereka menyerang secara berbareng dari semua jurusan, dan sempat membuat Hua Li terkejut.
Harus diakuinya bahwa kedua murid pilihan perguruan Harimau hitam ini hebat dan berbahaya. Dia cepat ********* tubuh keatas untuk menghindarkan diri dari serangan tiga belas batang pedang itu. Akan tetapi dua sinar terang meluncur dan menyerangnya selagi tubuhnya masih meloncat keatas.
Sepasang pedang di tangan Coa Siang yang kini membantu salah satu murid terpilih itu meloncat dan tubuhnya meluncur seperti terbang saja, didahului dua batang pedangnya yang lihai.
"Ahhh....!"
Hua Li terkejut dan mengeluarkan bentakan ini, tangannya diputar untuk menangkis sinar pedang. Lengannya menangkis pedang.
Namun sebatang pedang yang menyeleweng pundak kiri Hua Li sehingga bajunya terobek dan kulitnya terluka mengeluarkan darah.
Hua Li berjungkir balik dan tubuhnya dapat turun diluar kepungan para murid pilihan perguruan Harimau hitam, dan kini barisan itu sudah berlari-larian mengepungnya lagi, dari jarak agak jauh.
Sedangkan Coa Siang yang paling lihai diantara mereka, kini berada di bagian kepala seolah-olah barisan itu membentuk seekor ular yang melingkari tempat itu dengan Hua Li di tengah, dan Coa Siang memimpin atau menjadi kepala ular.
Coa Siang berdiri tegak, kedua kakinya dipentang lebar, tubuhnya tidak bergerak, hanya matanya yang melirik ke kanan kiri pemperhatikan gerakan barisan itu.
Perlahan-lahan dia melolos sabuknya ketika barisan yang mengepung sambil berlari mengitarinya itu mempersempit. lingkaran.
__ADS_1
Melihat hal ini, seorang diantara murid-murid pilihan itu ada yang mengeluarkan isyarat pada kawan-kawannya, terutama kepada Coa Siang agar berhati-hati. Karena dia tahu betapa lihainya Hua Li yang mulai menggunakan kecapinya sebagai senjata yang kelihatan sederhana itu.
Pernah Hua Li dikeroyok puluhan orang murid perguruan Harimau hitam yang kesemuanya bersenjata pedang dan golok, namun dengan kecapi itu membuat para pengeroyok tidak berdaya, bahkan banyak diantara mereka yang mengalami luka-luka berat, dan ada pula yang tewas.
Coa Siang adalah seorang pemuda yang sudah tinggi ilmu silatnya. Mendengar suara isarat ini, dia pun berhati-hati. Dia tidak berani memandang ringan kepada lawan ini, karena tadi, ketika berkelahi satu lawan satu, dia sudah merasakan kehebatan jurus Silat Hua Li.
Kini diapun mengerti mengapa banyak sekali murid dan anak buah Perguruan Harimau tewas ditangan musuh besar mereka ini.
Dan memang sesungguhnya Hua Li amat berbahaya kalau sudah mempergunakan kecapinya sebagai senjata. Dia seorang ahli senjata apapun, dan permainan pedangnya juga hebat. Akan tetapi, untuk menghadapi pengeroyokan banyak lawan yang menggunakan pedang, senjata kecapi itu sungguh amat tepat.
"Teng....teng....teng......teng....!"
"Derr....derr.....derr....derr....!"
Ledakan demi ledakan menghantam para murid perguruan Harimau hitam itu.
"Aaaarghh.....!"
"Ugh....!"
Di setiap petikan dawai kecapi mengandung tenaga dalam yang kuat, sehingga tepat sekali untuk menghadapi senjata pedang atau golok yang keras dan petikan kecapi itu dapat menimbulkan ledakan dari jarak dekat maupun jauh.
Hua Li maklum bahwa Cao Siang itu lihai, begitu juga para murid terpilih perguruan Harimau hitam lainnya yang juga berbahaya sekali. Maka dia pun tidak menunggu dan membiarkan dirinya didesak, begitu pengepungan itu mengetat dan di berhadapan dengan mereka yang melingkarainya dalam jarak dua meter, dia terus memetik dawai kecapinya.
"Teng....teng....teng......teng....!"
"Derr....derr.....derr....derr....!"
"Aaaarghh.....!"
"Ugh....!"
Barisan itu belasan para murid yang membawa pedang itu tetap saja tidak mampu membendung daya ledakan bunyi dawai kecapi yang bertenaga dalam yang hebat itu.
__ADS_1
Terdengar bunyi ledakan-ledakan, disusul teriakan-teriakan para anggota perguruan Harimau hitam yang menyayat hati itu.
Walaupun mereka itu mempertahankan diri dan saling Bantu, tetap saja mereka dilanda oleh ledakan-ledakan dawai kecapi itu, dan susunan barisan mereka pun cerai berai dan kacau balau.
Pendekar kecapi itu terus menambah tenaga dalamnya pada setiap dentingan dawai dan terdengar teriakan susul-menyusul diikuti robohnya para pengeroyok seorang demi seorang. Para anggota perguruan Harimau hitam yang masih melawan itu terus sekuat tenaga, dipelopori oleh Coa Siang yang memaonkan pedangnya dengan cepat dan kuat.
Namun, mereka itu bagaikan semut-semut yang mengeroyok seekor jangkerik. Tubuh mereka berpelantingan, dan akhirnya yang masih dapat bertahan hanyalah Coa Siang seorang. Pemuda ini masih memainkan sepasang pedangnya melakukan perlawanan mati-matian, sedangkan tiga belas orang anggota perguruan Harimau Hitam itu telah tewas semua.
Tentu saja Coa Siang tidak tahu bahwa andaikata Hua Li menghendaki, diapun tentu sudah roboh dan tewas.
Ada sesuatu yang aneh terjadi di dalam perasaan hati pendekar kecapi itu, pada saat melihat betapa Coa Siang demikian mirip wajahnya dengan Coa Kun dan melihat keberanian pemuda itu, besarnya semangatnya untuk membalas dendam atas kematian saudara kembarnya, timbul suatu perasaan sayang dan iba kepada pemuda itu.
Kalau sampai saat itu Coa Siang masih belum roboh bahkan terluka, hal itu adalah karena perasaan ini yang mengganjal di hati Hua Li.
... ~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
... ...
__ADS_1