Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 138


__ADS_3

Samar-samar masih teringat betapa kejamnya guru yang cantik ini terhadap musuh-musuhnya, akan tetapi gurunya ini lihai sekali dan sayang kepadanya.


"Nah, kini bersiaplah untuk menahan nyeri sedikit. Aku akan memberi suatu tanda kepadamu, demi kebaikanmu sendiri di kemudian hari. Luruskan lengan kirimu!" seru Mo Li.


Tanpa rasa takut sedikit pun dan dengan pandang mata penuh kepercayaan kepada gurunya, Hok Cu meluruskan lengan kirinya. Ketika gurunya menyuruhnya, tanpa ragu ia pun menggulung lengan bajunya sehingga lengan kecil berkulit putih mulus itu nampak dari atas siku sampai ke tangan.


Mo Li mengeluarkan sebuah kantong kuning yang sudah dipersiapkan, membuka kantong itu dan mengambil sebuah jarum emas yang dibungkus kain sutera putih.


Jarum emas itu ujungnya kelihatan merah sekali dan memang jarum itu sudah diberi semacam racun merah di ujungnya.


"Sekarang siaplah menderita sedikit nyeri pada lenganmu, Hok Cu. Tidak takutkah kau?" tanya Mo Li yang sedikit penasaran.


 Anak itu menggeleng kepala dan matanya bersinar-sinar.


"Apa yang harus kutakutkan, guru? Aku yakin bahwa guru akan melakukan segala hal yang baik bagiku." kata Hok Cu yang menatap Mo Li.


Diam-diam wanita iblis itu merasa senang. Anak ini memang menyenangkan sekali. Terbuka, jujur, polos, keras hati, pemberani dan anak seperti ini tentu kesetiaan yang boleh dipercaya.


 "Aku akan menusuk lenganmu dengan jarum ini!" seru Mo Li yang setelah meneliti lengan itu, ia pun menusukkan jarum emas itu pada bagian lengan Hok Cu sebelah dalam, sedikit di bawah siku.


Hok Cu merasa betapa lengan yang ditusuk itu nyeri sekali, perih dan panas, juga gatal. Namun, ia tidak mengeluarkan keluhan sedikit pun juga, bahkan menggigit bibirnya agar jangan sampai mengeluh.


Ketika rasa nyeri itu menjalar sampai ke seluruh lengan, Hok Cu memejamkan mata dan memusatkan kekuatan hatinya untuk menahan. Tak lama kemudian, jarum itu dicabut kembali.


 "Kau duduklah dengan bersila, biarkan rasa nyeri itu menyebar ke seluruh tubuhmu, sampai akhirnya melemah dan lenyap." Kata Mo Li dan Hok Cu mentaati perintah ini. Ia duduk bersila dan masih dengan memejamkan mata.

__ADS_1


Hok Cu merasa betapa rasa panas, perih dan gatal yang menimbulkan nyeri hebat itu benar saja menjalr ke seluruh tubuhnya. Dan masih juga belum pernah ia mengeluh. Akhirnya, rasa nyeri itu makin berkurang dan akhirnya lenyap. Barulah ia membuka matanya, memandang kepada gurunya dengan senang.


"Benar saja, guru tentu tidak akan mencelakai aku. Akan tetapi, bolehkah aku mengetahui apa artinya tusukan jarum dan rasa nyeri ini, guru?" tanya Hok Li yang penasaran.


"Lihatlah lenganmu di bagian yang kutusuk tadi." kata Mo Li seraya menunjuk pada lengan Hok Li.


Kemudian Hok Cu melihat lengannya. Disitu, di bawah siku di sebelah dalam lengannya, terdapat bintik merah seperti tahi lalat kecil. Tidak buruk, bahkan menjadi pemanis seperti hiasan pada kulit lengannya yang putih mulus itu.


 "Apa ini, guru?" tanya Hok Li yang menggosok-gosok dengan jari tangan kananya untuk mencoba apakah tahi lalat merah itu dapat dilenyapkan oleh gosokan.


 "Bintik itu takkan dapat kau lenyapkan, biar dicuci dengan apa pun, Hok Cu. Tanda merah itu hanya akan lenyap kalau kau kehilangan keperawanmu! Tanda merah itu tanda keperawananmu dan sekali kau berhubungan dengan pria, maka tanda itu akan hilang." jelas Mo Li.


Sepasang mata kecil itu terbelalak memandang gurunya, mengandung keheranan dan ketidakpercayaan.


"Aih, guru, jangan main-main dan menakut-nakuti aku!" seru Hok Cu.


"Tapi... tapi...!"


Gadis itu bingung. Ia masih terlalu kecil, usianya baru sepuluh tahun, untuk mengerti tentang keperawanan segala macam, akan tetapi karena ia seorang anak yang cerdik, ia dapat menduga bahwa gurunya menanamkan semacam racun di tubuhnya yang merupakan semacam Hukuman atas dilanggarnya suatu larangan.


"Kenapa guru melakukan ini kepadaku?" tanya Hok Cu dengan polosnya.


"Ketahuilah muridku. Bagi seorang wanita, betapun tinggi ilmu kepandaiannya, ada suatu bahaya yang amat berbahaya dan besar sekali, yaitu pria! Pria adalah makhluk yang jahat, pandai merayu dan berpalsu-palsu untuk menjatuhkan hati seorang wanita. Semua rayuan itu hanya dipergunakan sebagai alat menjebak, dan celakalah seorang gadis yang lemah dan terbius oleh rayuan itu, karena ia akan kehilangan keperawananya, kehilangan kehormatan dan masa depannya, satu-satunya pantangan adalah kehilangan keperawanan. Oleh karena itu, terpaksa aku memberi tanda tahi lalat merah ini kepadamu, tanda keperawanan agar engkau selalu ingat bahwa engkau tidak boleh terbujuk rayuan pria. Kalau sekali waktu engkau tertarik, kemudian melihat tanda tahi lalat merah ini, engkau tentu akan sadar kembali. Ingat baik-baik. Kalau tanda ini lenyap, berarti engkau bukan perawan lagi, ilmu-ilmu yang kau pelajari dan belum sempurna akan rusak dan engkau akan mati dalam waktu satu bulan sesudah itu." jelas Mo Li.


Mendengar penjelasan Mo Li, Hok Cu bergidik. Ia tidak kuatir karena sedikit pun belum terbayang olehnya akan rayuan pria dan akan bahayanya terbius rayuan lalu kehilangan keperawananya.

__ADS_1


"Tapi, guru. Apakah tanda ini akan selamanya berada di lenganku? Kenapa guru sendiri tidak memiliki tanda seperti ini di lengan guru?" tanya Hok Cu yang tidak memperlihatkan keraguan atau ketidakpercayaan melainkan keheranan karena tidak mengerti.


"Tentu saja tidak selamanya, Hok Cu. Kalau kau menjadi murid yang baik, tidak melanggar pantangan sehingga tanda merah itu tetap ada padamu, tentu akan tiba saatnya aku melenyapkannya. Hanya aku seoranglah yang akan mampu menghilangkan tanda itu, tanpa harus menghilangkan keperawananmu." jelas Mo Li.


Hok Cu mengangguk maklum dan tidak banyak bertanya lagi. Biarpun masih kecil, namun ia dapat menduga bahwa perbuatan gurunya ini merupakan suatu tekanan baginya, merupakan suatu ancaman bahwa ia harus selalu mentaati guruya dan tidak melanggar semua perintah dan larangannya.


Hok Cu tidak tahu bahwa wanita iblis itu melakukan hal ini kepadanya karena pernah dikecewakan puteri kandungnya sendiri yang meyerahkan keperawanannya kepada cucu ketua perguruan Harimau hitam pada waktu itu.


Demikianlah mulai hari itu Hok Cu berlatih semakin tekun dan memang Mo Li tidak keliru memilih murid. Hok Cu merupakan seorang murid yang selain cerdas, juga amat rajin dan tahan uji.


Apalagi dengan modal tenaga sakti dari darah ular di tubuhnya, anak ini segera dapat menghimpun tenaga dalam dan mengendalikannya secara baik sekali. Kelak kalau ia dewasa, ia tentu memiliki kekuatan sinkang yang jauh melampaui tingkat gurunya sendiri.


...****...


Sementara itu, Hua Li yang membawa lari Si Kian Beng, Pendekar kecapi ini merasa berterima kasih sekali kepada Kwe Ong telah menolongnya.


Karena menurutnya tanpa pengemis ini, agaknya akan sukarlah baginya untuk dapat meloloskaan diri membawa Kian Beng dari kepungan para pendekar dan tokoh dunia persilatan, apalagi di situ terdapat Mo Li yang lihai.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2