Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 303


__ADS_3

Dia berterima kasih kepada Coa Siang yang tidak mengajaknya bicara karena dia enggan bicara pada saat menegangkan seperti itu. Tak lama kemudian, terdengar suara Cu Ming yang tertawa dan ia nampak keluar bersama Hok Cu, diikuti pula oleh nenek itu.


"Bagaimana? Bagaimana keadaan istriku? apakah parah?" tanya Han Beng sambil meloncat berdiri dan memegang lengan isterinya.


"Parah!" seru Cu Ming yang tertawa-tawa.


"Memang benar Hok Cu telah keracunan! Keracunan cinta sehingga ia mengandung sebulan lebih!" lanjut seru Cu Ming yang masih tertawa.


"Meng..... mengandung.....?" tanya Han Beng yang berteriak.


Sementara itu Hok Cu yang mendengar teriakan suaminya, segera dia mengangkat wajahnya dan saling pandang dengan suaminya Han Beng. Mereka mengeluarkan suara setengah menangis setengah tertawa, dan mereka saling rangkul dalam pelukan yang ketat.


Mereka berciuman di depan Coa Siang, Cu Ming dan nenek itu tanpa mengenal malu lagi.


Nenek itu sampai terjongong. la sudah berpengalaman lima puluh tahun, sudah banyak melihat kegembiraan pada wajah calon ayah dan ibu yang mendengar berita baik ini, akan tetapi baru sekarang ini ia melihat calon ayah dan calon ibu demikian gembiranya sampai berpelukan dan berciuman sambil menangis dan tertawa.


Nenek itu tidak tahu. Akan tetapi Coa Siang dan Cu Ming tahu. Mereka pun tertawa dengan kedua mata basah. Mereka tahu bahwa Han Beng dan Hok Cu bukan saja berbahagia mendengar bahwa mereka akan memperoleh seorang keturunan, akan tetapi juga berbahagia karena kini mereka yakin bahwa tidak ada bahaya apa pun mengancam nyawa Hok Cu.


Mereka tidak sedang menghadapi bahaya maut atau bahaya apa pun,bahkan menghadapi peristiwa yang amat membahagiakan. Mereka akan menerima ganjaran yang tak ternilai harganya, yaitu seorang anak.


Fajar kehidupan baru mulai menyingsing bagi suami isteri ini, dan tidak atau belum nampak awan hitam di angkasa.


...***...

__ADS_1


Sementara itu terlihat seorang wanita yang berusia kurang lebih tiga puluh tahunan, melompat dengan lincahnya menuruni bukit. Wanita yang selalu membawa sebuah kecapi dipunggungnya itu, menempuh perjalanan yang nampaknya akan lama.


Dia terus berjalan melewati berbagai macam kota dan pedesaan.


Tanpa terasa wanita yang berjuluk si pendekar Kecapi itu, telah memasuki sebuah kota, yaitu kota  Kang Lam.


 Kang Lam memang sebuah daerah yang sangat indah mentakjubkan! Terletak di bagian selatan dari Negeri Tiongkok yang besar. Daerahnya amat luas, tanahnya subur dan airnyapun melimpah-ruah pula. Di beberapa tempat mengalir sungai-sungai kecil yang bening airnya. Penduduknya padat, namun karena tanahnya amat subur maka hasil pertaniannyapun lebih dari cukup untuk menghidupi mereka.


Apalagi matahari hampir selalu bersinar di sepanjang tahun. Kang Lam diperintah oleh seorang Kepala Daerah, yang pada saat cerita ini terjadi, yaitu pada waktu Kaisar Han pertama berkuasa Kaisar Liu Pang, dijabat oleh Cui Kok, seorang bekas jendral di masa peperangan dulu.


 Dan dalam mengatur roda pemerintahan daerahnya, bekas jendral yang sangat terkenal itu berkedudukan di Kota Soh-ciu. Soh-ciu sendiri merupakan sebuah kota yang sangat besar. Selain menjadi kota dagang yang ramai, kota Soh-ciu juga merupakan kota impian bagi orang-orang berduit.


Kota itu menyediakan hampir segala macam sarana untuk bergembira dan bersenang-senang. Berbagai macam hiburan dan pertunjukan yang menarik, sampai dengan tempat-tempat terlarang seperti tempat judi dan tempat pelesiran yang sangat istimewapun tersedia pula di kota itu.


Daerah yang semula aman dan damai itu tiba-tiba digemparkan oleh munculnya seorang penjahat berkepandaian sangat tinggi, yang selalu mengganggu ketenteraman penduduknya. Dengan kesaktiannya yang seperti iblis, penjahat itu meraja-lela tanpa lawan. Kota demi kota dalam daerah itu dirusak dan diganggunya tanpa pandang bulu. Hampir setiap hari tentu terdengar berita tentang keganasan iblis itu.


 Terutama berita tentang kebiadabannya terhadap wanita atau gadis-gadis cantik yang diculiknya. Celakanya selama itu pula tak seorangpun yang bisa mengungkapkan siapa sebenarnya iblis itu. Hal itu disebabkan oleh karena iblis itu selain berkepandaian sangat tinggi juga selalu membunuh mati semua korbannya.


Bahkan orang-orang yang pernah melihat atau memergoki perbuatannyapun telah ikut dibunuhnya pula. Maka tidak mengherankan kalau hari demi hari jumlah korban kebiadaban iblis itupun semakin menumpuk pula. Dan akhirnya iblis itu berani pula memasuki kota Soh-ciu yang terjaga kuat. Seolah-olah tidak mempunyai perasaan takut terhadap para perajurit yang mondar-mandir di segala tempat, iblis itu mulai menyebar maut pula di kota itu. Akibatnya penduduk menjadi gelisah dan ketakutan.


Semua orang tidak berani keluar terlalu jauh dari rumahnya, terutama para wanita dan gadisnya. Dan bila malam telah datang, kota itu menjadi sepi luar biasa. Semuanya merasa takut menjadi korban berikutnya dari Si Iblis Penyebar Maut itu! Tentu saja berita tentang mengganasnya Si iblis Penyebar Maut di kota itu benar-benar sangat memerahkan telinga Kepala Daerah Gui Kok.


Dengan kemarahan yang meluap-luap Kepala Daerah itu memimpin sendiri para perajuritnya mencari penjahat yang sangat berani itu. Tapi usahanya itu tentu saja tidak membawa hasil, sebab tak seorangpun diantara mereka yang pernah melihat wajah buruan itu. Mereka bagaikan berburu hantu yang belum pernah mereka ketahui bentuk dan rupanya. Sementara itu para pendekar persilatan di daerah itu juga tidak mau ketinggalan pula.

__ADS_1


 Dengan bekal ilmu yang mereka miliki mereka ikut mencari iblis yang mengganggu daerah mereka itu. Namun seluruh kepandaian mereka itu ternyata juga tak mampu untuk menandingi kesaktian Si Iblis Penyebar Maut. Meskipun pada suatu saat mereka mendapat kesempatan untuk memergoki perbuatan iblis itu, tapi tak seorangpun di antara mereka yang mampu mengikuti bayangan iblis tersebut. Bahkan Kang Lam Koai-hiap (Pendekar Aneh dari Kang lam), tokoh yang paling disegani di daerah itupun tak berdaya pula menghadapi kesaktian Iblis itu. Orang tua itu terpaksa digotong pulang tanpa mendapat kesempatan sedikitpun untuk melihat wajah lawannya.


Demikianlah berita tentang keganasan si Iblis Penyebar Maut itupun akhirnya tersebar ke seluruh negeri bahkan sampai menyusup pula ke dalam tembok Istana di Kotaraja.


Malahan kabarnya Kaisar Han sendiri juga teIah mengirimkan pula utusannya untuk membuktikan kebenaran berita itu. Tetapi utusan yang sangat diharap-harapkan oleh penduduk Kang Lam itu ternyata tidak pernah sampai di kota Soh-ciu. Utusan yang membawa lima- ratus orang perajurit pilihan itu seolah-olah telah hilang lenyap di dalam perjalanannya.


Sementara itu Si Iblis Penyebar Maut justru semakin bertambah brutal dan meraja-lela tindakannya. Bagaikan sesosok hantu yang tak pernah dapat dilihat oleh siapapun juga, iblis itu selalu gentayangan setiap malam mencari korbannya.


Dan korban kebiadabannya sudah tidak dapat dihitung lagi, sehingga kota Soh-ciu dan sekitarnya benar-benar telah berubah menjadi neraka yang mengerikan bagi para penghuninya.



...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih ini...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2