
Akan tetapi perhatiannya segera tertuju kepada seorang laki-laki yang telah duduk di dalam sebuah ruangan di samping ruangan depan yang merupakan ruangan tamu di rumah itu.
Laki-laki itu berusia sekitar lima puluh tahun, akan tetapi wajahnya masih tampak gagah walaupun rambutnya ada sebagian yang telah memutih.
Laki-laki yang tadinya duduk dan menundukkan mukanya itu, kini mengangkat muka dan memandang kepada Hua Li dengan sinar mata penuh selidik.
Hua Li segera mengangkat kedua tangan di depan dadanya dan membungkuk untuk memberi hormat.
"Paman, mohon ma'afkan saya yang lancang berani datang menghadap tanpa diundang. Terimalah hormat saya Hua Li, paman." ucap salam Hua Li dengan ramah.
"Nona Li, namaku Sin Yang. Aku sudah mendengar dari anak-anakku bahwa engkau adalah seorang pendekar yang memiliki ilmu silat tinggi sehingga dapat mengalahkan kedua putraku. Sungguh membuat aku kagum karena sesungguhnya, pada waktu ini jarang ada orang muda yang akan mampu mengalahkan kedua orang puteraku ini." ucap laki-laki yang bernama Sin Yang itu.
"Aih, Ayah! Bikin malu saja memuji-muji kami padahal kami sama sekali tidak mampu menandingi nona Hua," kata Sin Lin.
"Nona Hua, silakan duduk," ucap Sin Lan seraya menunjuk pada sebuah kursi yang berhadapan dengan ayahnya.
"Terima kasih," kata Hua Li yang lalu duduk di atas kursi itu.
Setelah Hua Li duduk, Sin Lin Dan Sin Lan segera mengambil tempat duduk di atas kursi yang berada di kanan kiri Ayah mereka.
"Nona, kedua orang puteraku hanya dapat memberitahu bahwa engkau bernama Hua Li, akan tetapi mereka tidak tahu akan riwayatmu. Dapatkah engkau memberitahu, di mana orang tuamu, siapa mereka dan di mana mereka tinggal?" tanya Sin Yang yang memandang Hua Li penuh selidik.
"Ibu saya telah meninggal dunia, paman. Saya dulu terbawa arus banjir dan tinggal di sekitar aliran sungai Kuning. Saya di selamatkan dan di rawat oleh sepasang suami istri yang menjadi orang tua angkat saya. Ibu angkat saya sudah meninggal dunia sedangkan ayah angkat saya tinggal di desa Bambu Kuning." jawab Hua Li.
"Ah, apakah ayah angkatmu itu masih ada hubungannya dengan perguruan bambu kuning, yang merupakan orang-orang gagah perkasa yang berani memberontak atas ke sewenang-wenangan pejabat kerajaan Ming?" tanya Sin Yang yang mengerutkan alisnya.
"Iya benar paman." ucap Hua Li demgan kedua mata yang berbinar-binar.
"Aih! Kalau begitu, siapakah Ayah angkatmu? Apakah yang bernama Hua Tian yang menjadi ketua perguruan bambu kuning?" tanya Sin Yang yang semakin menggebu-gebu.
"Iya benar paman, nama ayah angkat sekaligus guru saya bernama Hua Tian!" jawab Hua Li.
"Ayah, memangnya ada apa?" tanya Sin Lin yang penasaran tapi Sin Yang nampak tak menghiraukan apa yang ditanyakan salah satu putranya.
__ADS_1
"Nona Hua, katakan sejujurnya. Dari mana dan bagaimana engkau mendapatkan kecapi itu, sedangkan kamu tinggal di aliran sungai kuning?" tanya Sin Yang yang penasaran.
Hua Li terkejut karena tiba-tiba pertanyaan Sin Yang menyangkut kecapi yang selalu dia bawa, sinar mata laki-laki itu dan suaranya penuh tuntutan.
"Paman Sin, kecapi ini sudah bersama saya pada waktu saya diketemukan ayah dan ibu angkat saya. Dan pada waktu berada di kerajaan Manchu, saya bertemu dengan sahabat ibu saya dan katanya kecapi ini milik ibu kandung saya sewaktu masih muda." jelas Hua Li yang semakin penasaran dengan raut wajah Sin Yang.
"Siapa nama ibu kandung kamu? apakah namanya Siauw Eng?" tanya Sin Yang yang mencoba menebak.
"Benar Paman, kata sahabat ibu bahwa nama ibu kandung saya adalah Siauw Eng." jawab Hua Li yang mengernyitkan kedua alisnya.
Wajah laki-laki itu menjadi pucat dan bibirnya gemetar, lalu dia memeluk kecapi yang di letakkan Hua Li diatas meja itu dengan eratnya dan terdengarlah isak tangis dan racauan laki-laki itu.
Hua Li tertegun. Tentu ada hubungan erat antara ibu kandungnya dan laki-laki ini, pikirnya.
"Paman, bolehkah saya tahu apakah bibi mengenal ibu kandung saya?" tanya Hua Li yang penasaran dengan tingkah ayah Sin Lan dan Sin Lin.
Sin Yang yang tadinya mengangkat kecapi diatas meja, begitu mendengar ucapan Hua Li ini, seketika lemas dan terkulai sambil terus memeluk kecapi di dadanya lalu mulai menangis lagi.
Dua orang puteranya ituvsaling pandang dan menoleh kepada Hua Li.
"Kakak Lan, jangan begitu!" Sin Lin mencela kakaknya.
"Sin Lan, Nona Hua tidak bersalah apa-apa, jangan engkau bersikap kasar kepadanya." ucap Sin Yang yang menyeka air matanya.
"Tapi ayah!" seru Sin Lan yang tak terima.
"Sebaiknya kalian duduk, dan dengarkanlah cerita ayah!" seru Sin Yang.
Kedua putranya itu kemudian mengikuti perintah ayahnya untuk duduk di kursi semula.
Sin Yang lalu menyerahkan kecapi itu kepada Hua Li dan ia sudah menghapus semua air mata dari kedua pipinya. Wajahnya sudah pulih dan merah kembali.
Pada saat itu, seorang wanita setengah tua yang berpakaian sebagai pembantu rumah tangga, masuk membawa baki terisi empat buah cawan, sepoci besar air teh dan beberapa macam kue kering di atas piring. Setelah mengatur suguhan itu di atas meja, wanita pelayan itu mengundurkan diri.
__ADS_1
"Akin, engkau dan para pelayan lain tidak boleh memasuki kamar ini sebelum aku panggil." pesan Sin Yang.
"Baik tuan." ucap Pelayan wanita itu seraya memberi hormat dengan membungkuk lalu keluar dari kamar atau ruangan tamu itu, tidak lupa menutupkan daun pintu ketika ia keluar.
Kemudian Sin Lan mempersilakan Hua Li minum air teh yang dituangkan dalam cawan oleh Sin Lan.
"Maafkan aku nona Hua, aku tidak dapat menahan kesedihan melihat kecapi ini, lebih-lebih mendengar ibu kandungmu yang telah meninggal dunia." ucap Sin Yan yang menatap Hua Li.
"Apakah ayah mengenal ibu nona Hua yang telah meninggal dunia itu?" tanya Sin Lan yang menatap ayahnya dengan penasaran.
"Ayah, siapakah Siauw Eng itu, dan mengapa Ayah bersedih mendengar dia meninggal dunia?" tanya Sin Lin.
Sin Yang menarik napasnya panjang lalu mengeluarkannya pelan-pelan.
"Kalau saja nona Hua tidak muncul bersama Kecapi ini, rahasia ini tentu akan kubawa sampai mati karena tidak ada sangkut-pautnya dengan kalian. Akan tetapi sekarang aku tidak ingin membuat kalian bertiga menduga yang bukan-bukan, maka sebaiknya kuceritakan pengalamanku di waktu aku masih remaja dan belum menikah dengan ibu kalian berdua." ucap sin Yang yang berusaha menceritakan kejadian masa lampaunya.
"Wah, jadi ibu nona Hua itu dulu pacar ayah" tanya Kui Lin.
"Adik Lin, diam dan dengarkan cerita ayah!" Sin Lan menegur adiknya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1