Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 18


__ADS_3

"Nona, silakan masuk!" seru salah satu penjaga pintu gedung itu.


Ternyata ruang dalam gedung itu luas sekali dan beberapa belas orang, di antaranya tiga orang wanita, duduk mengitari meja besar sambil menghadapi hidangan dan arak.


Melihat kedatangan Hua Li semua orang memandang dengan penuh perhatian.


"Maafkan aku, saudariku." kata Hua Li sambil mengangguk sederhana,


"Apakah di antara kalian ada yang tahu patriak Bao?" tanya Hua Li seraya menatap satu persatu ketiga wanita itu.


Seorang laki-laki tinggi kurus kurang lebih berusia empat puluh tahun berdiri dan menjura pada saat mendengar namanya dipanggil oleh gadis yang membawa kecapi itu.


"Nona mencari aku, ada keperluan apa?" tanya laki-laki itu yang penasaran.


"Aku membawa surat dari Kasim Mo!" seru Hua Li yang tentu saja membuat semua orang yang berada di situ mendengar hal ini pun terkejut dan ketua dari perguruan tengkorak hitam itu sendiri buru-buru maju dan memberi hormat.


"Maaf, kiranya nona utusan dari kerajaan, mari silakan duduk." ucap patriak Bao itu seraya menerima surat yang diberikan Hua Li padanya.


Kemudian Hua Li duduk dan melirik semua orang yang duduk di situ dengan sudut matanya. Mereka semua tampak gagah dan mempunyai jurus yang tinggi-tinggi. Karena itulah dia harus selalu waspada.


Patriak Bao itu setelah membaca habis surat dari Kasim Mo, segera tertawa dan kembali menjura kepada Hua Li.


"Nona, maaf kami tidak tahu dan kurang menghormati Nona yang datang tiba-tiba ini, maka mohon maaf. Nona ini membawa surat dari Kasim Mo yang mempercayakannya untuk menjadi penghubung." jelas Patriak Bao yang membuat semua orang terkejut.


"Patriak Mo sungguh menghina kita! Dia terlalu memandang rendah kita rupanya! Masa ia mengirim seorang nona muda ini untuk menjalankan pekerjaan itu? Apakah ia menganggap kita anak-anak kecil yang tidak becus apa-ap!" seru laki-laki yang bertubuh Gemuk itu memandang kepada Thian Hwa dengan mata tajam dan memandang rendah, sedangkan mendengar ini semua orang diam.


Untuk sesaat suasana menjadi sunyi sekali, tak seorang pun berani mengeluarkan suara dan Si Gemuk lalu duduk kembali dan mengangkat cawan araknya ke mulut. Tapi pada saat itu terdengar suara nyaring dan cawan beling di tangannya telah pecah menjadi dua.

__ADS_1


Ketika semua orang melihat, ternyata yang membuat pecah cawan itu adalah sebutir kacang tanah. Mereka terkejut sekali dan cepat memandang ke arah Thian Hwa.


Gadis itu dengan tenangnya memakan kacang tanah yang tersedia di atas piring dan agaknya dengan menggunakan jari tangan ia menyentil sebutir kacang tanah untuk memecahkan cawan Si Gemuk yang tadi telah mencelanya.


Si Gemuk yang tidak melihat bagaimana caranya cawan di tangannya itu tahu-tahu menjadi pecah, lalu tersenyum dan sambil berdiri dia mengambil secawan arak lain lalu diangkatnya tinggi-tinggi


"Aku harap Saudara yang tadi membikin pecah cawanku tidak mengulangi lagi perbuatannya sehingga kita semua dapat melihatnya, jangan berlaku sembunyi-sembunyi seperti tindakan seorang pengecut!" seru Si Gemuk itu adalah seorang yang ahli ilmu golok dan kepandaian silatnya tergolong tinggi juga, maka dia merasa penasaran telah dipermainkan orang.


Kini dia siap sedia untuk membuat malu orang yang mengganggunya itu. Dia yakin bahwa kini orang takkan mudah begitu saja membuat pecah cawan di tangannya, dan jika orang itu berani lagi mencoba, tentu ia akan dapat mengelak dan orang itu akan mendapat malu.


"Ha...ha...ha....!"


Tiba-tiba Thian Hwa tertawa nyaring dan sambil memperlihatkan sebutir kacang tanah di ujung kedua jarinya.


"Eh, tuan yang gemuk, aku datang-datang telah mendengar kata-katamu yang mengejek Kasim Mo dan memandang rendah padaku. Aku habiskan perkara itu karena mengingat bahwa aku sedang mabok. Tapi jangan harap kau akan mencegah aku memecahkan setiap cawan arak yang hendak kau minum, karena aku tidak senang melihat kau semakin mabuk bicara tak karuan. Lihat ini!" seru Hua Li yang kemudian beraksi.


Dengan jari telunjuknya, Hua Li menyentil kacang tanah itu yang meluncur cepat sehingga tak terlihat ke arah cawan di tangan Si Gemuk.


Dia merasa betapa benda kecil itu menyambar di dekat lengannya dan tidak mengenai sasaran.


"Ha..ha ...ha..! tidak kena!" ucap si gemuk itu yang merasa girang sekali .


"Prak!"


Tiba-tiba cawan di tangannya itu pecah sehingga araknya tumpah membasahi lengan dan tangan kanannya!


Ternyata bahwa Hua Li menggunakan dua butir kacang tanah yang dilepas bergiliran. Yang pertama hanya untuk memancing saja dan pada saat ia berkelit, ia lepaskan pula yang kedua sehingga tepat mengenai sasarannya.

__ADS_1


Tentu saja kepandaian ini membuat semua orang merasa kagum. Mereka yang terdiri dari ahli-ahli silat berilmu tinggi maklum bahwa untuk dapat menggunakan kacang tanah itu memecahkan cawan dengan hanya disentil dengan jari tangan, orang harus mempunyai tenaga dalam yang sangat tinggi dan latihan yang sempurna.


Mereka tidak tahu bahwa sentilan jari telunjuk Hua Li sering dilatih untuk menggunakan benda-benda kecil apa pun saja disentilkan ke arah ikan-ikan di Sungai lembah kuning pada saat ikan itu berenang,


Sekali terkena benda yang disentilkan dari atas biduk oleh Hua Li pasti akan mati dan terapung.


Si Gemuk itu kini tak dapat menahan lagi marahnya. Dia memang terkenal berangasan dan sangat mengagungkan kepandaiannya bermain golok.


Goloknya besar dan berat sehingga permainan goloknya yang istimewa itu sangat ditakuti orang. Namanya adalah Sang Hauw dan dia dijuluki orang Si Golok Terbang.


Kini melihat betapa seorang gadis muda yang masih hijau berani menghinanya sedemikian rupa di muka orang banyak, dia memukul meja sehingga cawan arak berhamburan dan membentak keras dengan rasa marah yang luar biasa.


"Brakk...!"


"Nona, kau sebagai utusan Kasim Mo seharusnya mengenal dan tahu bahwa aku bukan orang yang mudah saja menerima hinaan! Tapi, mengingat nama Kasim Mo dan melihat muka para saudara di sini, aku masih mau mengampuni perbuatanmu tadi karena kau masih begini muda dan bodoh. Akan tetapi untuk menerima kau sebagai penghubung sebagaimana yang diusulkan beliau sungguh aku masih sangsi! Sekarang kau cabutlah senjatamu dan coba kaulayani golokku. Jika kau sanggup bertahan sampai lima puluh jurus, barulah aku mau menerimanya sebagai penghubung!" seru Sang Hauw yang menantang Hua Li.


Hua Li sebenarnya marah sekali melihat lagak Si Gemuk itu dan kalau menuruti hatinya ingin benar ia sekali serang merobohkan orang angkuh itu.


Tapi karena gadis itu teringat akan kepentingannya sendiri, yakni untuk menghubungi pangeran dan mencari orang tuanya, maka ia menahan kemarahannya.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2