
"Wah merdu sekali, siapa yang memainkan kecapi itu?"
"Iya, ayo kita dekati dan lihat siapa yang memainkan kecapi itu!"
Seru beberapa orang yang penasaran dengan suara kecapi yang dimainkan oleh Hua Li.
Dan mereka berduyun-duyun mencari asal suara dan kemudian mendekati Hua Li yang masih sibuk memetik kecapinya.
"Teng...teng...teng...!"
Suara kecapi terus mengalun dan perlahan-lahan akhirnya berhenti.
"Kenapa berhenti nona? indah sekali permainan kecapi anda ini" ucap salah satu orang yang menggembalakan ternaknya.
"Iya nona, suara kecapi anda mengingatkan kami pada pemimpin perguruan Bambu kuning sebelumnya!" seru seorang nenek yang ikut mendengarkan alunan kecapi Hua Li.
"Memangnya kenapa dengan ketua perguruan yang sekarang?" tanya Hua Tian yang bangkit dari duduk bersandarnya dan melangkahkan kakinya menghampiri Hua Li yang berhadapan dengan para penggembala ternak dan petani lainnya.
"Ketua Hua Tian!":panggil semua orang yang kemudian berlutut dengan posisi menundukkan kepalanya.
"Sudahlah, cepat bangkit lalu ceritakan apa yang telah terjadi!" seru Hua Tian yang penasaran.
"Baiklah ketua. Semenjak anda mengundurkan diri dan digantikan oleh ketua Chen, pada awalnya semua berjalan seperti apa adanya. Lambat lain kami menyadari kalau ketua Chen tak pernah menyambangi kami warga pinggiran , dan seolah tak mau mendengar keluh kesah kami ketua Hua!" jawab salah satu orang penggembala ternak itu.
"Kenapa anda tidak menjadikan diri anda menjadi seorang Patriak, ketua Hua?" tanya orang yang ada disampingnya.
__ADS_1
"Iya kami rindu akan kepemimpinan seorang Patriak!" seru seorang nenek yang berada disamping kedua penggembala tadi.
"Apakah kepemimpinan saudara Chen tidak bisa mengatasi permasalahan di perguruan dan perkampungan bambu kuning?" tanya Hua Li yang penasaran.
"Ketua Chen saat ini jarang sekali meninggalkan perguruan yang kini menerima banyak murid dari luar perkampungan bambu kuning, dan boleh dikata tak pernah ketua Chen itu mendayung perahunya lagi menjelajah sepanjang sungai Kuning ini."' ucap laki-laki tua yang bertubuh kurus, ikut dalam pembicaraan mereka.
"Lambat laun kekuatan para bajak sungai yang berdatangan dan sengaja mengganggu perahu-perahu nelayan dan merampas hasil-hasil yang didapatnya, bahkan ada yang merampok hasil pertanian yang didapat dengan bekerja keras seharian. Salah satu ketua bajak laut yang berdatangan itu bernama Tek San, yang memimpin bajak sungai Buaya Kepala Besi. Tek San adalah seorang pimpinan bajak sungai yang ganas, karena kepandaian silatnya yang tinggi, ditambah dia pernah mempelajari ilmu dalam air, karena itulah para pengikutnya adalah orang-orang yang sifatnya sesuai dengan dia, yakni kejam dan berani mati." jelas si Nenek.
"Apakah tidak ada yang menyampaikan kabar ini pada paman Chen Kun?" tanya Hua Li yang telah menghentikan memetik kecapi dan tertarik dengan cerita para penggembala ternak itu.
"Setiap kali kami ke keprguruan, selalu dihadang oleh dua orang yang mengaku sebagai perwakilan murid dari perguruan Bambu kuning. Entah apa pesan kami disampaikan oleh ketua Chen atau tidak. Yang jelas selama ini ketua Chen tak pernah lagi datang ke perkampungan. Jadi Tek San sepertinya tidak pernah bertemu muka dengan ketua Chen, dan karenanya tidak menaruh hormat sedikitpun juga pada ketua Chen." ucap si kakek kurus itu.
"Dia membajak sesuka hatinya, bahkan berani melanggar wilayah dari bajak-bajak lain, hingga terjadi pertempuran-pertempuran. Tetapi selama ini belum pernah ada bajak lain yang sanggup mengalahkannya, maka sebentar saja namanya menjadi terkenal dan sangat ditakuti. Walaupun demikian, Tek San juga mendengar tentang nama besar Chen Kun sehingga dia belum pernah mencoba masuk ke wilayah perguruan Bambu kuning." jelas laki-laki si penggembala ternak yang pertama.
"Aku orang tua sudah tiada guna, maka ada orang yang berani berlaku sewenang-wenang dan menjalankan kejahatan di depan mataku. Kalau hal ini kudiamkan saja, maka akan tercorenglah nama besar perguruan Bambu kuning, dan percuma saja aku hidup puluhan tahun di permukaan air ini! Biarlah aku mewakili kalian menghajar buaya kecil itu!" seru Hua Tian dengan geram.
"Ayah yang dihina oleh buaya itu adalah paman Chen, maka biarkanlah paman Chen sendiri yang mencoba sampai di mana keperkasaan buaya yang sombong itu. Ayah tidak usah turun tangan sendiri," kata Hua Li yang merasa bukan lagi urusan ayahnya.
"Kau ini, walaupun ayah sudah pensiun tapi darah ayah selalu ada untuk perguruan Bambu kuning!" seru Hua Tian dengan semangat menggebu.
"Ayah, jangan khawatir ada aku anakmu di sini. Kurasa kalau hanya orang macam dia itu saja, aku masih sanggup melawannya." kata Hua Li yang ikut bersemangat.
"Tapi putriku, kamu belum ada pengalaman melawan para bajak sungai! jadi ajaklah A Bun dan beberapa murid perguruan Bambu kuning bersamamu!" seru Hua Tian yang sangat khawatir.
"Hal seremeh ini tak perlu harus membuat ayah kesal hati. Untuk memukul anjing kecil tak perlu memakai tongkat besar. Dan juga, kurasa tak perlu harus repot-repot membawa banyak kawan. Hal ini hanya akan merendahkan nama kita saja. Cukup kakak Bun dan saya pergi untuk membereskan mereka!" ucap Hua Li yang sangat jumawa dan berani itu.
__ADS_1
"Ha...ha....ha....! Sikap dan semangat kamu ini membuat aku teringat akan masa muda ayah dan juga ibu saja! Yang waktu itu yang waktu itu banyak pejabat korup dan aliran hitam yang berlindung dibawah penguasa kerajaan Ming. Kami sering bergerilya mengacau perguruan aliran hitam. Baiklah aku inginkan kamu pergi, asalkan kamu ajak A Bun bersama kamu!" seru Hua Li seraya mengusap kepala putri angkatnya dengan lembut.
"Tapi ketua, mereka ini masih kecil dan belum berpengalaman. Kami merasa khawatir jika mereka akan terjebak oleh tipu muslihat para buaya itu!" seru si nenek yang mewakili para penggembala lainnya.
"Jangan cemas, aku sendiri akan mengamat-amati mereka! sekalian melihat siapakah sebenarnya orang kurang ajar itu." ucap Hua Tian dengan mengulas senyumnya.
Mendengar Hua Tian sendiri yang hendak ikut pergi dengan kedua anak muda itu, tenanglah pikiran mereka.
"Kalau begitu ayo kita jempu kakak Bun sekarang juga Ayah!" seru Hua Li dengan semangat.
"iya, dan untuk kalian semuanya jangan khawatir lagi. Semua akan kami selesaikan, sekarang fokuslah dalam pekerjaan masing-masing." pesan Hua Tian pada warga yang ada dihadapannya.
"Baik ketua, kami sangat berterima kasih karena kalian masih mendengarkan keluh kesah kami." ucap si kakek kurus yang mewakili yang lainnya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1