
Mo Li adalah seorang janda yang mempunyai seorang saja anak, seorang anak perempuan yang diberi nama Cu Ming.
Iblis betina selaksa racun itu mengembleng puterinya sehingga Cu Ming memiliki kepandaian yang tinggi walaupun belum dapat menyamai tingkat ibunya.
Cu Ming tertawan oleh Hua Li, akan tetapi tidak dibunuh melainkan diberi obat perangsang ketika pingsan sehingga keduanya melakukan hubungan badan dengan Coa Siang.
Saat ini mereka menghadap untuk minta izin agar mereka berdua menikah, Coa Song menarik napas panjang dan ibu kandung Coa Siang menangis.
"Hemmm, sungguh keparat jahanam pendekar kecapi itu! Dia tidak membunuhmu akan tetapi melakukan penghinaan dan melemparkan aib yang lebih hebat daripada maut! Hemmm, apa boleh buat, memang tidak ada jalan lain untuk membersihkan nama keluarga dari aib itu kecuali menikah dengan gadis ini. Pernikahan yang terpaksa! Hemmm, siapakah sebetulnya gadis ini dan mengapa pula ia bermusuhan dengan Pendekar kecapi itu?" tanya Coa Tiong kakek Coa Siang.
"Namanya Cu Ming kakek, dan ia mencari pendekar kecapi untuk membalas dendam atas kematian bibinya, yaitu mendiang Mo Hui.
Coa Tiong mengerutkan alisnya dan memandang tajam penuh perhatian kepada Cu Ming. Seorang gadis yang cantik yang menarik, dengan pakaian serba hitam yang membuat kulit muka, leher dan tangannya nampak putih mulus.
"Benar, kakek. Cu Ming adalah putri tunggal dari Mo Li yang tinggal di Ceng-touw." jawab Coa Siang.
"Apa? Mo Li yang kau maksudkan itu wanita yang berjuluk si Iblis Betina Selaksa Racun itu?" tanya Coa Tiong yang bertanya dengan suara kaget, setengah berteriak dan Coa Siang menganggukkan kepalany dengan heran.
"Nona, benarkah kau puteri Mo Li?" tanya Coa Tiong dengan sikap tenang kepada Cu Ming. Gadis itu dengan sikap tenang membalas pandang mata kakek itu dan menganggukkan kepalanya.
"Benar, saya adalah puteri tunggal dari ibu yang berjuluk si Iblis betina selaksa racun itu." jawab Cu Ming yang apa adanya.
Wajah Coa Tiong berubah agak pucat dan matanya terbelalak, kemudian dia berkata kepada cucunya,
"Coa Siang apakah kau tidak tahu siapakah Mo Li itu? Ia adalah seorang pendekar aliran hitam yang amat jahat, kejam seperti iblis! Tidak mungkin keluarg kita menerima ia sebagai anggota keluarga!" bisik Coa Tiang yang sangat khawatir
"Kakek, aku tidak menikah dengan ibunya, melainkan dengan puterinya!" balas Coa siang yang
mengerutkan kedua alisnya.
__ADS_1
"
Apa bedanya? Bagaimana mungkin kami harus berbesan dengan Mo Li si wanita iblis itu? Apa akan kata orang di dunia persilatan kalau perguruan Harimau hitam bisa berbesanan dengan si iblis betina selaksa racun itu!" seru Coa Tiong yang kalut.
"Kakek, Cu Ming bukan seorang gadis jahat, dan kami sudah saling mencinta. Selain itu, kami berdua telah terkena aib, dan jalan satu-satunya adalah menjadi suami isteri." kata Coa siang yang membela diri.
"Coa Siang, kau masih muda dan tidak mengerti urusan! Ketahuilah bahwa kalau pernikahan itu kau lakukn berarti engkau menghindari Lumpur dengan masuk ke pencomberan! Aib yang telah kau derita karena perbuatan si Jahanam pendekar kecapi, tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan aib yang menimpa kalau kita berbesan dengan Mo Li! Seluruh perguruan Harimau hitam akan terseret." jelas Coa Tiong.
"Kakek, bagaimanapun juga aku akan menikah dengan Cu Ming!" seru Coa Siang,
dengan penasaran.
"Putraku Coa Siang, Ibu sangat memohon agar kamu turuti kakek kamu!" bisik ibunda Coa Siang. Ibunya mulai menangis dan membujuk agar mentaati kakeknya.
"Tidak bisa, Ibu! Ini menyangkut kehidupan dan kebahagiaan sendiri. Perjodohan adalah urusan pribadi yang tidak boleh dicampuri oleh siapapun juga. kakek, aku tetap akan menikah dengan Cu Ming." kata Coa Siang.
"Kalau begitu, kami tidak akan turut campur, aku dan ibumu tidak akan merestui dan pernikahan itu tidak kami anggap!" bentak kakek Coa Siang yang sangat marah sekali.
"Aku akan pergi! Aku pun tidak ingin sekali menjadi memantu di perguruan Harimau Hitam ini!" seru Cu Ming, yang kemudian gadis itu melangkah keluar dengan alis berkerut.
"Adik Ming, tunggu...!" teriak Coa Siang yang mengejar Cu Ming, tanpa menghiraukan keluarganya lagi.
"Coa Siang! kalau engkau nekat, kami tidak mengakuimu lagi sebagai keturunan kami dan anggota perguruan Harimau Hitam!" seru CIA Tiong yang dengan marah sekali.
"Apa boleh buat, kong-kong, ibu, aku harus menuruti suara hatiku. Bukan hanya karena aku sudah mencinta Cu Ming, juga karena kami bernasib sama, berduanya tertimpa aib. Aku harus membersihkan aib dari namanya, seperti hanya ia akan membersihkan namaku kalau-kalau menjadi isteriku. Selamat tinggal kakek dan ibu, dan maafkan aku!" seru Coa Siang yang semakin menjauh.
Coa Siang terus meloncat keluar mengejar Cu Ming, sementara itu ibunya terus Ibunya berteriak memanggil putranya dan menangis.
Namun pemuda itu tidak mau kembali, maklum bahwa kakeknya adalah seorang yang keras hati dan tidak akan mau mengubah keputusannya.
__ADS_1
Cu Ming merasa senang sekali melihat Coa Siang menyusulnya, dan sambil bergandeng tangan kedua orang muda itu lalu pergi menuju ke Ceng-touw untuk menghadap ibu kandung gadis itu, yaitu Mo Li.
Mereka sudah saling mencinta dan sudah mengambil keputusan nekat untuk tetap bersatu, apa pun yang akan terjadi. Karena itu, dalam perjalanan yang cukup jauh ini pun mereka sudah hidup sebagai suami isteri saja sehingga cinta kasih mereka menjadi semakin kuat.
Mo Li menerima dua orang muda itu dengan mata berkilat dan alis berkerut. Ia memang selamanya bukan merupakan seorang ibu yang penuh kasih saying kepada puterinya.
Mo Li memang mengembleng Cu Ming dengan ilmu-ilmu silat yang tinggi, akan tetapi hal itu bukan terjadi karena ia ingin sayang kepada Cu Ming, melinkan karena ia ingin mendapatkan seorang pembantu yang tangguh.
Bagi wanita Mo Li, Cu Ming hanya seorang gadis yang diharapkan akan membantunya dengan setia. Bahkan kadang-kadang timbul rasa iri dalam hatinya melihat Cu Ming makin besar menjadi semakin cantik.
Mo Li kuatir kalau Cu Ming akan mengalahkannya dalam hal kecantikan sehingga sinar kecantikannya akan meredup. Kadang-kadang timbul rasa benci dan iri dalam hatinya terhadap putrinya, gadis yang dulu dikandung dan dilahirkannya sendiri.
Iblis betina selaksa Racun itu mendengarkan cerita Cu Ming tentang kegagalannya membalas sakit hati kepada Pendekar kecapi, tentang tertawannya gadis itu dan kemudian bahkan oleh perbuatan pendekar kecapi yang membuat gadis itu melakukan hubungan badan dengan Coa Siang yang juga tertawan oleh pendekar kecapi.
Mo Li juga mendengar pula bahwa Coa Siang adalah putera mendiang Coa Song, putera ketua perguruan Harimau Hitam yang menjadi kekasih gelap Mo Hui adiknya.
Marahlah Mo Li walaupun mulutnya masih tersenyum dingin.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1