
Ucapan Yauw Lie ini tentunya telah menenangkan hati para pengemis itu. .
Mereka bertiga lalu mengikuti enam orang pengemis itu mendaki Bukit Tengkorak yang banyak ditumbuhi pohon pinus.
Ketika mereka tiba di perkampungan di puncak bukit, mereka pun kagum melihat betapa perkampungan itu tidak seperti daerah kumuh yang biasa merupakan ciri tempat tinggal para pengemis.
"Nah! Di situlah tinggal ketua perkumpulan kami!" seru pengemis tua seraya menunjuk pada sebuah rumah induk perkumpulan yang berada di tengah dan merupakan bangunan terbesar diantara yang lainnya, dan mereka bertiga diajak masuk ke dalam rumah besar itu.
Ketua perkumpulan pengemis tongkat merah menerima mereka di ruangan depan yang luas, sementara pengemis tertua yang tadi berkelahi melawan orang berpakaian hitam hadir pula dalam pertemuan itu dan yang lima lainnya tidak ikut hadir.
Ketua perkumpulan pengemis tongkat merah adalah seorang laki-laki bertubuh tinggi, berusia sekitar enam puluh tahun. Wajahnya masih membayangkan ketampanan dan jenggotnya panjang terpelihara rapi. Pakaiannya sederhana, juga tambal-tambalan namun bersih. Sikapnya penuh wibawa seorang yang biasa memimpin banyak anak buah.
Yauw Lie dan dua orang pemuda itu memberi hormat dengan merangkap tangan depan dada, dibalas dengan hormat oleh ketua itu yang lalu mempersilakan mereka duduk berhadapan dengannya.
Seorang pengemis melaporkan tentang pertemuan dengan Yauw Lie bertiga, setelah lebih dulu dia berkelahi melawan seorang anak buah dari Bukit tengkorak Hitam dan lawannya itu kemudian pergi sambil menantang agar Ketua perkumpulan pengemis tongkat merah yang bernama Kui Sin berani bertanding melawan ketuanya pada esok lusa pagi hari di tempat di mana mereka berkelahi tadi.
"Hm.., bagaimana engkau berani mengabaikan pesanku agar jangan membuat permusuhan, sekarang bahkan menimbulkan pertentangan sehingga aku terbawa-bawa ditantang olehnya!" seru ketua Kui yang mengerutkan alisnya. Suaranya mengandung teguran ketika dia berkata kepada anak buahnya.
"Mohon maaf, ketua. Sesungguhnya saya tidak berani melanggar pesan Ketua, akan tetapi orang itu muncul dan tanpa sebab memaki bahwa perkumpulan pengemis tongkat merah adalah pencuri-pencuri dan katanya perkumpulan kita mencuri harta karun. Dimaki pencuri, saya tentu saja membantah sehingga terjadi pertengkaran yang berekor menjadi perkelahian. Harap ketua sudi memaafkan saya." ucap Pengemis itu menjawab dengan sikap takut-takut.
"Ketua, kami yang menjadi saksi! Bukan Paman pengemis ini yang mulai dan menantang untuk mengadakan pertandingan antara pemimpin kedua golongan adalah orang berbaju hitam itu!" kata Liu Hong dengan lantang.
Ketua Kui menganggukkan kepalanya dan menghela napas sambil mengelus jenggotnya yang panjang.
__ADS_1
"Sudahlah, engkau boleh keluar, aku akan bicara dengan tiga orang tamu ini." perintah ketua Kui.
"Anggota perkumpulan kami tadi hanya mengatakan bahwa kalian bertiga adalah pendekar-pendekar muda yang sedang menyelidiki tentang harta karun yang dihebohkan di dunia persilatan, dan kalian hendak minta petunjukku tentang pencurian harta karun itu. Coba perkenalkan dulu, kalian ini siapa?" ucap dan tanya ketua Kui Setelah pengemis itu keluar, Kui memandang kepada Yauw Lie, Liu Ceng dan Liu Hong.
"Ketua, ini adalah Kakak Liu Ceng dan yang ini adalah kakak Liu Hong. Saya sendiri bernama Yauw Lie." ucap Yauw Lie yang memperkenalkan kedua temannya dan juga dirinya.
"Kenapa kalian hendak menyelidiki dan mencari pencuri harta karun itu?" tanya Ketua Kui yang menatap Yauw Lie dan yang lainnya satu persatu.
Kemudian Yauw Lie menceritakan asal mula pencarian harta karun itu, sampai mereka ada dihadapan ketua Kui.
"Kakak Liu Ceng ini merasa berkewajiban untuk menemukan kembali harta karun yang ditinggalkan mendiang ayahnya. Sementara Kakak Liu Hong dan saya membantunya dan kami menghadap ketua Kui untuk mohon petunjuk, siapa kiranya yang patut dicurigai sebagai pencuri harta karun itu." jelas Yauw Lie.
"Katakan dulu, untuk apa kalian mencari pencuri harta karun itu nona Yauw?" tanya ketua Kui yang penasaran.
Kini ketua itu memandang kepada tiga orang muda itu dengan alis berkerut.
"Aku pernah mendengar akan nama Liu Bok sebagai seorang pendekar yang setia kepada Kerajaan Han dan berjiwa patriot dan aku akan suka membantunya mencari harta karun karena aku yakin bahwa dia akan mempergunakannya demi nusa dan bangsa. Akan tetapi kalau kalian orang-orang muda mencari harta karun untuk diri kalian sendiri, jangan harap akan mendapat dukungan dariku. Aku tidak sudi membantu orang-orang memperebutkan harta seperti anjing-anjing kelaparan memperebutkan tulang!" ucap ketua Kui.
"Apa? Anda menganggap kami ini anjing-anjing!" seru Liu Hong dengan kesal.
Liu Ceng menyentuh lengan Liu hong dan ketika adik angkatnya memandangnya, ia menggeleng kepala mencegah adiknya untuk tidak bicara terus.
"Ketua, agaknya Anda salah paham. Saya hendak menjelaskan keadaan kami yang sebenarnya. Ketika Ayah saya meninggal dunia karena terbunuh oleh panglima Mongol, Ayah meninggalkan sebuah peta harta karun kepada saya dengan pesan agar saya mencari harta karun itu dan menyerahkannya kepada yang berhak, yaitu para pejuang yang berjuang membebaskan tanah air dan bangsa dari penjajahan bangsa Mongol. Kenyataannya harta karun itu telah dicuri atau diambil oleh orang. Kami bertiga mencari harta karun yang dicuri itu, sama sekali bukan untuk kami miliki sendiri, melainkan untuk kami serahkan kepada para pejuang seperti yang dipesan Ayah Liu Bok. Kami mendengar bahwa perkumpulan pengemis tongkat merah juga menentang Pemerintah Mongol, maka kami percaya bahwa ketua Kui tentu akan membantu para pejuang kemerdekaan tanah air dari cengkeraman penjajah Mongol. Karena itu maka kami berani menghadap ketua untuk meminta petunjuk." jelas Liu Ceng.
__ADS_1
Mendengar penjelasan Liu Ceng, ketua Kui tersenyum dan wajahnya berubah cerah.
"Baiklah, sekarang aku tidak ragu akan kebenaran berita bahwa mendiang Liu Bok adalah seorang pendekar yang bijaksana setelah melihat puteranya! saudara Liu, maafkan sikapku tadi. Kalau memang kalian hendak mendapatkan kembali harta karun itu untuk diserahkan kepada para pejuang kemerdekaan, tentu saja kami sepenuhnya mendukung kalian!" ucap Ketua Kui.
"Terima kasih, ketua!" kata Yauw Lie dengan gembira.
"Akan tetapi kami kira belum tiba saatnya kami membutuhkan bantuan para anggota perkumpulan pengemis tongkat merah. Untuk saat ini kami hanya membutuhkan petunjuk dari ketua, siapa kiranya di antara para penghuni perguruan ular kobra yang patut dicurigai sebagai pencuri harta karun itu. Kami mohon petunjuk dari ketua." ucap Yauw Lie.
"Kami kira hanya ada dua golongan yang seyogianya tidak dimasukkan daftar mereka yang dicurigai, yaitu perguruan ular kobra dan perkumpulan pengemis tongkat merah. Kami kira kedua perkumpulan ini tidak mungkin melakukan pencurian itu karena kami berdua bukan golongan orang-orang yang murka akan harta benda. Akan tetapi ada banyak orang atau golongan lain yang terbesar dan mempunyai banyak murid adalah perguruan Kalajengking merah dan anak buahnya yang tinggal di daerah Barat pegunungan ini dan yang kedua adalah perguruan tengkorak hitam dengan murid mereka yang tinggal di Bukit Tengkorak hitam dan berada di daerah Utara pegunungan ini. Selain mereka tentu saja masih terdapat banyak pertapa yang kabarnya memiliki kesaktian, tinggal bertapa di tempat-tempat terasing di pegunungan yang luas ini." ucap Ketua Kui yang menerangkan.
"Orang berpakaian serba hitam yang berkelahi dengan anak buah perkumpulan pengemis tongkat merah itu, katanya adalah anak buah dari Bukit tengkorak Hitam. Kalau begitu, dia itu murid dari perguruan tengkorak hitam?" tanya Liu Hong.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1