Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 206


__ADS_3

"Bagus! Jadi rencana kita berjalan lancar, Beng-cu? Ah, cepat ceritakan bagaimana hasilnya!" seru salah satu perwira yang agaknya menjadi tamu itu menepuk meja dengan wajah gembira.


 "Iya, tadinya memang sangat mengkhawatirkan sekali, ketua," kata Hai Jin yang duduk di sebelah pemimpinnya, dia bertugas untuk mengamati pertemuan antara rombongan biksu dan para pendekar di puncak Bukit Kijang.


"Mereka sudah saling siap untuk bertempur ketika tiba-tiba muncul seorang pemuda seorang pertapa yang berhasil melerai sehingga dua pihak tidak jadi berkelahi!" seru Hai Jin dengan geram.


 "Wah, sungguh sayang sekali kalau begitu!" kata perwira itu kecewa.


"Akan tetapi, rombongan pendekar palsu yang kita buat telah berhasil menyergap para biksu itu di luar hutan!" kata Beng Cu dengan bangga.


"Kita sekarang tinggal menanti hasil penyergapan para biksu palsu buatan yang bertugas untuk menyerang rombongan pendekar itu." sambung Beng Cu.


"Syukurlah kalau berhasil. Para biksu dan pendekar itu merupakan orang-orang yang keras kepala. Merekalah yang merupakan golongan yang menentang kebijaksanaan pemerintah. Karena pengaruh mereka maka rakyat juga menentang pembuatan terusan dan mereka kurang semangat. Padahal, pembangunan terusan itu membutuhkan biaya yang amat banyak, terutama tenaga manusia yang besar jumlahnya. Terutama para pendekar dan biksu dari perguruan Elang Sakti yang merupakan penghambat besar. Karena itulah maka kita sudah mengadakan siasat mengadu domba antara mereka agar mereka sibuk dengan permusuhan mereka sendiri dan tidak ada lagi waktu untuk mengganggu lancarnya pembangunan terusan." kata Beng Cu panjang lebar yang kemudian tertawa seraya menganggukkan kepalanya.


"Serahkan saja kepada kami, ketua. Asal ketua tidak lupa memberi laporan yang baik buat kami ke atasan Ciang Kun." kata Hai Jin ya g juga tertawa.


"Jangan khawatir! Bukankah selama ini kami dari pihak pasukan pemerintah telah bekerja sama dengan baik sekali denganmu? Bukankah kami juga mengakui kedaulatan dan kekuasaanmu di antara para tokoh persilatan!" seru Beng Cu.


Dan semuanya tertawa menikmati hasil mengadu domba mereka.


Para pelayan wanita datang membawa hidangan dan mereka pun makan minnum dengan gembira.


Tak lama kemudian, muncullah tiga orang biksu palsu, kepala mereka memang tidak berambut, akan tetapi pakaian mereka telah menjadi pakaian yang ringkas karena mereka telah menanggalkan jubah mereka seperti yang dilakukan para pendekar palsu tadi sebelum mereka memasuki ruang itu.


Setelah memberi hormat kepada pimpinan mereka dan orang-orang lain dan dipersilakan duduk, seorang di antara tiga orang biksu palsu ini yang kemudian membuat laporan.


Seperti juga rombongan pendekar palsu yang menghadang para biksu, juga tiga orang bikau palsu itu melaporkan kegiatan mereka dengan rombongan biksu palsu telah berhasil menghadang dan menyerang para pendekar yang meninggalkan puncak Bukit Kijang.


Mereka pun dipukul mundur, akan tetapi mereka berhasil membuat para pendekar yang mereka serang itu tentu saja menjadi marah dan permusuhan di antara kedua pihak kobar lagi

__ADS_1


.


"Ha....ha...ha..., bagus sekali! Beng Cu kami akan melaporkan hasil ini kepada atasan kami dan tentu Beng Cu dan kawan-kawan akan menerima balas jasa!" kata perwira itu.


"Terima kasih perwira!" balas Beng Cu dan yang lainnya.


Han Beng sejak tadi mendengarku mengepal tinju.


"Sungguh licik dan jahat orang-orang ini. Aku dapat membayangkan kenapa permusuhan antara para pendekar dan para biksu semakin meluas sejak perguruan Elang Sakti itu dibakar. Tentu juga atas usaha orang-orang seperti inilah maka kedua pihak itu semakin mendendam dan saling membenci. Tentu ada di antara mereka ini yang membunuh para pendekar dengan menyamar sebagai biksu atau sebaliknya." gumam dalam hati Han Beng.


Dia bergidik membayangkan betapa luasnya akibat yang disebabkan oleh usaha yang amat jahat itu. Tentu para biksu dan para pendekar menjadi semakin saling membenci, maka permusuhan itu akan jadi malapetaka yang mengerikan.


Akhirnya Han Beng tak tahan lagi, dan dia pun segera keluar dari persembunyiannya.


"Sungguh keji sekali kalian ini orang-orang jahat!" bentak Han Beng dan di lain saat, tubuhnya sudah melayang turun ke dalam ruangan itu.


Tentu saja semua yang menjadi terkejut bukan main ketika melihat seorang pemuda bertubuh tinggi besar dan bersikap gagah telah berdiri disitu, menentang mereka dengan pandangan mata mencorong penuh kemarahan.


 "Wah, ada mata-mata musuh kesini! Dia harus ditangkap!" seru Perwira itu yang terkejut dan marah.


Perwira itu mengeluarkan teriakannya sebagai aba-aba dan dari luar ruangan yang luas itu berhamburan masuk dua puluh perajurit pengawalnya.


Dengan isyarat yang diberikan oleh perwira itu sendiri yang sudah mencabut pedang dan memimpim langsung pasukannya, Han Beng segera dikepung.


"Hmm, mata-mata keparat! Menyerahlah kau sebelum kami melakukan kekerasan! Menyerahlah untuk kami tangkap!" seru Hai Jin denga geram.


Han Beng bersikap dengan tenang.


"Aku tidak dapat menyalahkan kau karena bagaimanapun juga, kau adalah seorang perwira yang melaksanakan tugas untuk atasanmu. Akan tetapi, mereka ini adalah orang-orang jahat yang ingin mengadu domba dan mencelakakan orang lain hanya untuk mendapatkan imbalan jasa. Merekalah yang aku tentang bukan engkau, perwira!" seru Han Beng dengan lantang.

__ADS_1


 Akan tetapi perwira itu tidak peduli dan memberi aba-aba untuk menyerang pemuda itu.


"Tangkap dia dan bunuh kalau melawan!" bentak perwira itu pada dua puluh prajurit itu yang bergerak dan banyak sekali tangan dijulurkan untuk mencengkeram dan menangkap Han Beng.


Pemuda ini meloncat dan mereka semua hanya mencengkeram udara kosang. Tahu-tahu pemuda itu telah berada di luar kepungan. Mereka membalik dan kembali mengepung, sekali ini mereka mempergunakan senjata untuk menyerang.


Han Beng menggerakkan kaki tangannya dan segera terdengar para pengepungnya berrteriak kesakitan, pedang, dan golok beterbangan dan lima orang roboh susul-menyusul oleh dorongan tangan, tamparan atau tendangan kakinya.


Namun, Han Keng membatasi tenaganya karena dia tidak ingin membunuh orang.


Perwira itu marah sekali. Dia meloncat, menubruk dengan pedangnya yang menyambar ganas ke arah leher Han Beng.


"Aku tidak mau bermusuhan dengan pasukan pemerintah!" kata Han Beng dan tangan kirinya menyambar, menangkap pedang itu. Perwira itu membetot sekuat tenaga, namun pedang seperti terjepit jari-jari baja saja. mengerahkan tenaga sekuatnya, menarik lagi dan tiba-tiba saja dia terjengkang dengan pedang yang tinggal sepotong karena yang sepotong lagi tertinggal tangan Han Beng.


Melihat kehebatan pemuda ini, yang begitu saja menangkap pedang telanjang komandan mereka, apalagi kemudian mematahkannya, para perajurit menjadi gentar dan ragu-ragu untuk melanjutkan pengeroyokan mereka.


Sebelum perwira itu dapat memberi aba-aba baru karena dia sendiri masih terkejut melihat kelihaian pemuda itu, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.


"Saudara-saudara mundurlah semua. Biarkan aku yang menghadapi bocah sombong ini!"


  


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2