
"Biksu Hek Bin sungguh telah memperoleh kemajuan, dapat mencegah pembunuhan. Memang, menyadarkan penjahat adalah perbuatan mulia, membunuh orang jahat adalah perbuatan kejam! Hanya Tuhan yang berkuasa menentuk mati hidupnya setiap orang manusia." kata Kwe Ong.
"Pendekar sekalian, saya mengucapkan terima kasih dan saya akan membawa semua tawanan pergi meninggalkan tempat itu." kata perwira Yap.
"Iya perwira, silahkan!" sahut Han Beng dan Hok Cu yang hampir bersamaan.
Han Beng, Hok Cu, Biksu Hek Bin dan pendekar tua Kwe Ong meninggalkan bekas sarang aliran Bumi dan Langit yang kini telah diduduki oleh pasukan pemerintah.
Dengan bijaksana perwira Yap menyuruh pasukan untuk memulangkan semua wanita yang menjadi korban perkumpulan agama sesat itu ke tempat asal masing-masing
Di lereng yang indah dan sunyi, bawah pohon yang rindang, siang itu mereka berempat duduk di atas akar pohon sambil bercakap-cakap.
"Han Beng," panggil Kwe Ong kepada muridnya.
"Iya guru." jawab Han Beng.
"Kami berdua, saya dan biksu Hek Bin, telah mengambil suatu sepakatan mengenai kau dan Nona Hok Cu ini, sebelum kami berdua pergi kami ingin mendengar dulu pendapat kalian. Bukankah begitu, biksu Hek Bin?" lannjuk kata dan tanya Kwe Ong.
"Ha....ha....ha....! Amitabha kenapa kau begitu sungkan, Kwe Ong? Katakan saja apa yang menjadi isi hatimu, kau sudah tahu bahwa kau menyetujui sepenuhnya, Ha...ha...ha...!" seru Biksu Hek bin pada Kwe Ong.
"Guru, sebenarnya ada apa sih yang kalian berdua bicarakan dengan pendekar tua Kwe Ong?" tanya Hok Cu memandang kepada gurunya.
"Biar pendekar tua Kwe Ong saja yang membicarakan karena dialah yang memiliki prasaran itu, prasaran yang baik sekali dan yang telah kusetujui sepenuhnya. Katakanlah, Kwe Ong!" jawab biksu Hek Bin.
Kemudian Han Beng dan Hok Cu, juga bikau Hek Bin menatap wajah pendekar tua itu. Kwe Ong adalah seorang kakek yang biasanya pendiam dan serius, tidak seperti BiksubHek Bin yang suka berkelakar dan tertawa. Akan tetapi sekali ini, Kwe Ong nampak agak kemerahan menjawabnya, tanda bahwa apa yang akan dibicarakan mendatangkan ketegangan juga di hatinya.
"Hm.....!"
Setelah berdehem dua kali, dia memandang kepada Han Beng dan Hok Cu.
__ADS_1
"Begini Han Beng dan Nona Hok Cu, mengingat bahwa kalian berdua adalah anak-anak yatim piatu yang hidup sebatangkara di dunia ini. Oleh karena itulah, kami dua orang tua memberanikan diri mewakili kalian masing-masing sebagai guru dan juga pengganti orang tua, dan eehhh .......!" kata Kwe Ong yang nampak sukar bagi pendekar tua itu untuk melanjutkan kata-katanya yang mendadak macet. Dia menoleh kepada biksu Hek Bin,
"Biksu Hek Bin, kau bantulah aku!" seru Kwe Ong.
"Ha....ha...ha....! Amitabha, engkau terlalu sungkan, Sahabat!" seru Biksu Hek bin yang dengan tertawa.
"Begini, Han Beng dan Hok Cu. Pendekar tua Kwe Ong akan mewakili Han Beng meminang Hok Cu. Dan aku sebagai wakilmu, Hok Cu, karena aku merasa setuju sekali jika kalian bisa berjodoh!" jelas Biksu Hek Bin.
Han Beng tidak merasa kaget dan dia menoleh ke arah Hok Cu yang juga mengerling kepadanya. Dua orang muda ini ingat kalau tadi, dalam keadaan nyawa mereka yang terancam, mereka telah saling menyatakan perasaan hati masing-masing, saling menyatakan cinta!
Dan kini guru-guru mereka menjodohkan mereka. Tentu saja mereka tidak merasa kaget, bahkan merasa berbahagia sekali.
"Bagaimana, Han Beng? Setujukah kau kalau kujodohkan dengan Nona Hok Cu?" tanya Kwe Ong kepada muridnya.
Han Beng mengulas senyumnya dan memandang wajah gurunya dan dengan wajah yang cerah dan berbahagia dia kemudian menganggukkan kepalanya,
"Murid setuju, guru." kata Han Beng.
Pada saat itu, Hok Cu merasa hatinya seperti diremas-remas, la teringat akan keadaan dirinya, teringat akan tahi lalat merah kecil di lengan kirinya, di bawah siku. Tahi lalat merah itu adalah penanaman racun yang dilakukan Mo Li kepadanya dahulu.
Kalau ia menyerahkan diri kepada seorang pria, begitu ia kehilangan keperawanannya, tanda tahi lalat merah itu pun akan lenyap, akan tetapi akibatnya, dalam waktu sebulan ia akan tewas karena racun yang amat hebat dan tidak ada obatnya akan bekerja membunuhnya.
Akan tetapi, didepan dua orang kakek itu bagaimana ia dapat membuka mulut menceritakan hal yang memalukan itu kepada Han Beng. Maka, khawatir di desak gurunya yang suka berkelakar, ia pun mengangguk tanda setuju tanpa dapat mengeluarkan suara karena ia haru menekan guncangan hatinya.
"Ha ..ha...ha...! kenapa mendadak kau menjadi seorang gadis pemalu, Hok Cu Mana jawabanmu? Jawablah agar lega hati orang yang meminangmu!" kata biksu Hek Bin.
Hok Cu menundukkan wajahnya karena tidak ingin nampak mukanya yang berduka.
"Murid setuju, guru!" jawab Hok Cu secara lirih.
__ADS_1
"Ha ..ha...ha...! bagus, bagus...! Guru ucapkan selamat kepadamu!" seru Biksu Hek Bin.
"Sama-sama, aku juga mengucapkan selamat kepadamu!" seru pendekar tua Kwe Ong, dan dua orang kakek tu tersenyum dan saling memberi hormat.
"Nah, tentang upacara pernikahan-iya, kami serahkan kepada kalian berdua. Kami berdua akan berkelana dan menikmati keindahan Gunung Thai-san. Kelak kalau sudah ada ketentuan waktunya ilian boleh mencari kami ke Thai-san mtuk memberitahu." kata kwe ong lan bersama biksu Hek Bin, dia lalu pergi meninggalkan dua orang muda itu yang segera berlutut untuk mengantar kepergian guru mereka.
Setelah dua orang kakek itu lenyap, Han Beng bangkit berdiri, juga Hok Cu. Mereka berdiri berhadapan, saling pandang dan Han Beng melangkah maju.
"Hok Cu ...............!"
Han Beng yang merasa berbahagia sekali, bukan saja karena ikatan perjodohan antara mereka, akan tetapi juga teringat akan ucapan gadis tadi yang menyatakan cinta kepadanya, segera merangkul.
"Han Beng ..............!" balas Hok Cu yang membenamkan mukanya di dada peniuda yang dicintainya.
"Hok Cu, kita saling mencinta, dan guru-guru kita menjodohkan kita. Betapa bahagianya rasa hatiku, Hok Cu....!" bisik Han Beng di dekat telinga gadis itu.
Dan tiba-tiba Hok Cu menangis tanpa mengangkat mukanya dari dada Han Beng. Air mata menembus baju dan membasahi dada pemuda itu.
Han Beng terkejut, akan tetapi lalu tersenyum dan tangannya membelai rambut kepala kekasihnya. Tentu kekasihnya itu menangis karena bahagia, menangis karena terharu, barangkali teringat bahwa ia tidak mempunyai orang tua lagi.
... ~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih ini...
__ADS_1
...Bersambung...
... ...