Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 16


__ADS_3

Ia kini meluncur dengan cepat sekali ke arah gadis itu dengan mulut dibuka selebar-lebarnya.


Ketika ular datang mendekat dan menerjangnya dengan mulut terbuka lebar sehingga giginya yang runcing tampak nyata, Hua Li memapakinya dengan dayung di tangan dan gerakan dayungnya sedemikian rupa sehingga dayung kecil itu tepat sekali memasuki mulut ular dan terus disodokkan ke dalam sehingga memasuki perutnya.


Dan ular hitam itu berontak, sebagian tubuh belakang dan ekornya menyabet-nyabet dan berdaya melepaskan diri, tapi tusukan dayung itu terlampau dalam sehingga hampir saja seluruhnya masuk ke dalam tubuh si ular hitam itu.


Si Ular hitam itu tidak dapat menyelam dan berenang pun sukar karena kepala dan leher tidak dapat digerakkan lagi,


Maka ia hanya dapat menggerak-gerakkan tubuh belakangnya melilit-lilit dan berputar-putar menimbulkan ombak besar pada air yang telah mulai memerah bercampur dengan darahnya yang keluar dari mulut yang tak berdaya itu.


Sementara itu Hua Li berenang cepat menuju ke perahu kecil indah yang kini terputar-putar di tengah sungai karena tidak ada dayung yang mengemudikannya lagi.


Orang tua tadi hanya duduk bengong karena masih merasa ngeri dan heran melihat perkelahian antara ular dan gadis aneh itu.


Hua Li lalu menghampiri perahu dan sambil berenang ia mendorong perahu itu ke pinggir di mana orang-orang menyambut perahu itu dengan teriakan-teriakan girang.


"Apa kau Dewi air?" tanya orang tua itu yang penasaran.


Hua Li memandangnya dengan senyum manis. Wajah laki-laki setengah baya itu mendatangkan rasa simpatinya, karena wajah itu membayangkan watak yang agung dan lincah..


"Aku hanya orang biasa saja yang kebetulan lewat di sini." balas Hua Li dengan ramah.


Laki-laki tua itu hendak memberikan hadiah pada Hua Li, Namun gadis itu menolaknya secara halus.


"Ma'af saya membantu anda dengan tulus, saya tidak mengharapkan imbalan dari tuan!" ucap Hua Li.


"Baiklah kalau begitu nona, sebaiknya kau pakailah pakaian luar ini dan naiklah ke daratan. Aku ingin sekali bicara denganmu dan menyatakan terima kasihku." ucap laki-laki itu yang pada akhirnya Hua Li makin tertarik melihat kesopanan dan kebaikan orang tua itu, apalagi sikap orang tua yang terus terang dan tanpa banyak peradatan itu mengingatkan ia akan ayahnya.


Hua Li tahu kalau saat ini dia memakai pakaian mandinya dan tak pantas kalau ia keluar dari air, maka ia lalu menggunakan pakaian luar pemberian laki-laki itu untuk menutupi tubuhnya dari pundak sampai ke lutut, lalu Hua Li naik ke daratan.

__ADS_1


"Siapakah gadis cantik ini?" tanya salah satu orang yang sejak tadi memperhatikannya, Hua Li menjadi tidak senang dan malu.


Melihat hal itu laki-laki setengah baya itu memarahi orang-orang itu.


"Kalian semua manusia yang tidak bisa diharapkan! Baru ada serangan ular begitu saja kalian melarikan diri! Lihatlah nona ini, Ia adalah seorang gadis yang gagah perkasa. Dengan sebatang dayung kecil ia berhasil membuat ular hitam tadi tak berdaya!" seru laki-laki setenga baya itu.


Semua orang diam terpaku, seolah memahami maksud dari laki-laki itu.


"Nona, kalau boleh saya tahu, siapkan nama nona dan dari manakah nona berasal?" tanya laki-laki itu dengan ramah pada Hua Li.


"Aku adalah seorang dari lembah sungai kuning, dan hidup sebagai nelayan. Aku pada waktu ini sedang merantau meluaskan pengalaman." jawab Hua Li dengan mengulas senyumnya.


"Oh, sungguh anda seorang pemberani nona. Perkenalkan nama saya Ciu Lan, saudagar yang hendak kembali ke kota raja." ucap laki-laki itu yang memperkenalkan dirinya.


"Oh, jadi begitu ya. Berarti anda adalah seorang pedagang begitu?" tanya Hua Li yang memastikan.


"Iya nona." jawab laki-laki paruh baya itu seraya mengangguk pelan.


"Aku bernama Hua Li dan sudah lama ada orang menyebut diriku pendekar kecapi, itu karena saya selalu membawa kecapi kemanapun saya pergi." jawab Hua Li yang kemudian teringat akan kecapinya yang dia tinggalkan di tepi sungai sebelum dirinya mandi tadi, dan kemudian gadis itu memohon diri dari laki-laki itu dan rombongannya.


Hua Li lalu meloncat ke dalam air kembali dan dari situ ia melemparkan jubah luar laki-laki itu ke daratatan.


"Saya kembalikan pakaian luar anda, dan terima kasih!" seru Hua Li, yang kemudian ia menggerakkan kaki tangannya dan sebentar saja ia lenyap di bawah permukaan air.


Saudagar Ciu Lan dan anak buahnya merasa kagum dan heran sekali, dan berkali-kali saudagar tua itu menghela napas karena merasa kecewa dan menyesal tak dapat bicara dan mengetahui riwayat gadis itu lebih banyak lagi.


Dia merasa tertarik dan suka sekali kepada gadis itu. Kemudian setelah menegur lagi orang-orangnya yang memperlihatkan sifat pengecut ketika menghadapi bahaya, dia lalu kembali ke kota raja.


Sementara itu Hua Li berenang kembali ke tempat semula dan alangkah kagetnya ketika ia tidak melihat lagi kecapi miliknya di tempat tadi,

__ADS_1


Kecapi dan bungkusan pakaiannya telah lenyap, Hua Li menjadi bingung sekali dan hampir saja menangis di pinggir sungai itu karena tak mungkin ia melanjutkan perjalanan dengan pakaian seperti itu dan pakaian mandinya basah pula.


Kemudian Hua Li berlari dengan cepat menuju ke arah jembatan untuk menyeberangi sungai itu, karena ia merasa di tempat itu tentu terdapat kampung di mana ia bisa mendapatkan pakaian baru.


Tak berapa lama, Hua Li melihat ada sebuah rumah yang lsepwrti lama ditinggalkan penghuninya.


Gadis itu memberanikan diri memasuki rumah yang agak besar dan indah itu secara mengendap-endap. Dan akhirnya dia bisa masuk ke dalam rumah kosong itu.


Kemudian dia mencari kamar dan mencari lemari pakaian. Setelah membuka lemari itu, Hua Li segera memilih seperangkat pakaian wanita.


Dan pada akhirnya Hua Li mendapatkan juga pakaian berwarna biru yang lumayan dan segera dipakainya lalu ia pergi dari rumah itu. Karena ia tidak ingin lagi keesokan harinya terlihat oleh pemilik pakaian yang dicurinya itu, maka malam itu juga ia menyeberang sungai dan tiba di sebuah dusun.


Kembali gadis itu mencari rumah kosong, dan tak berapa lama dia mendapati sebu rumah kosong. Walaupun rumahnya lebih kecil dari rumah sebelumnya, tapi Hua Li sangat nyaman dirumah itu.


Dan dalam waktu sebentar saja ia telah tidur nyenyak di dalam kamar rumah orang.


Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Hua Li telah meninggalkan rumah itu. Ia mengambil keputusan untuk melanjutkan perjalanan kembali menyusuri sungai aliran dari sungai kuning itu.


Tiba-tiba Hua Li merasa lapar sekali dan bingunglah dia.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2