
"Hm, ciuman maut.....I" seru Hok Cu, tenang akan tetapi ia pun mengerutkan alisnya karena ia sudah dapat menduga bagaimana caranya iblis betina bekas gurunya itu berhasil meloloskan diri.
"Dua orang yang lain tewas dengar biru menghitam di leher dan pangkal paha mereka, seperti bekas terkena gigitan." lanjut jelas Perwira Yap.
"Hemmm, itu bekas kuku beracun!" seru Hok Cu yang sudah yakin akan serangan yang dilakukan bekas gurunya itu.
"Ehhh? Apa yang kau maksudkan dengan ciuman beracun dan kuku beracun, pendekar?" tanya perwira itu dengan heran.
"Mo Li adalah seorang iblis betina. Nama julukannya saja sudah menyebutkan keadaan dirinya. MobLi si Iblis Betina Selaksa Racun, karena itulah dia memiliki banyak ilmu beracun. Dan di antaranya adalah ciuman beracun dan kuku beracun, yang mana sekali cium dan sekali gores dengan kuku sudah cukup untuk membunuh orang. Rupanya iblis betina itu mempergunakan kecantikannya untuk merayu sehingga ia berhasil keluar atau dikeluarkan dari kamar tahanan oleh empat orang penjaga itu.Ia pura-pura suka diajak bermesraan, lalu membunuh mereka dengan mudah selagi bermesraan." jelas Hok Cu.
Kalau bukan Hok Cu, gadis lain tentu akan bermerah muka dan segan memberi keterangan seperti itu. Akan tetapi Giok Cu adalah seorang gadis yang sudah digembleng oleh keadaan yang keras dan beraneka macam kehidupan.
"Hmm, sungguh keji seperti iblis!" seru Perwira Yap dengan geram.
"Ayo kita mengejarnya!" ajak Han Beng yang teringat akan keadaan kekasihnya, sudah menggandeng tangan gadis itu dan keduanya meloncat pergi dengan amat cepatnya, membuat perwira Yap merasa kagum bukan main.
Perwira Yap teringat akan tawanan yang lain. Mereka adalah orang-orang yang lihai, maka dia tidak ingin kehilangan tawanan lagi. Diperintahkan orang-orangnya untuk membelenggu kaki tangan para tawanan itu dan mengawal mereka dengan ketat sampai mereka itu dijatuhi hukuman oleh pengadilan.
Selama tiga hari tiga malam Han Beng hampir tidak pernah mau berhenti, mengajak Hok Cu untuk mencari jejak Mo Li. Namun, semua usahanya sia-sia belaka. Mereka tidak mampu menemukan jejak iblis betina itu. Mo Li lenyap tak meninggalkan jejak, seperti ditelan bumi.
Pada hari ke empat, pagi-pagi setelah semalam suntuk mereka mencari di perbukitan di tepi jurang atau tebing sungai Kuning, Hok Cu telah menjadi putus asa. Gadis itu memandang Han Beng yang duduk bersila di tepi jurang dengan hati yang pilu. Ia merasa kasihan sekali kepada pemuda itu, karena tahu betapa besarnya cinta Han Beng kepadanya sehingga pemuda itu seperti tidak mengenal lelah untuk dapat menemukan Mo Li untuk dapat membebaskannya dari cengkeraman maut yang ditandai bintik merah di bawah siku lengan kirinya.
Kalau dia membiarkan dirinya menjadi isteri Han Beng, kemudian tewas dalam waktu sebulan, tentu Han Beng akan tenggelam dalam kedukaan yang hebat.Dan sekarang, merekapun gagal untuk menemukan Mo Li.
Jika mereka dapat menemukannya sekalipun, belum tentu iblis betina itu mau memberikan obat penawarnya, itupun kalau ada obat seperti itu.
__ADS_1
"Ah, aku hanya akan menjadi beban, hanya menyusahkan Han Beng saja dengan ikatan perjodohan itu. Tidak, itu tidak boleh menyusahkan Han Beng. Aku terlalu sayang kepada dia. Biarlah dia memperoleh jodoh gadis lain yang sehat, yang akan membahagiakannya, bukan ia yang menderita penyakit maut, yang hanya akan menyusahkannya." gumam Hok Cu dalam hati.
Hok Cu mengerling ke arah Han Beng. Pemuda itu masih duduk bersila dan agaknya tenggelam dalam semedinya. Rambutnya dan pakaiannya kusut, wajahnya menunjukkan kelelahan. Hatinya seperti ditusuk-tusuk rasanya. Han Beng membuka matanya, terkejut mendengar suara angin itu. Dan dia menjadi lebih kaget ketika tidak melihat Hok Cu yang berada di situ.
"Hok Cu.....!"
Han Beng berteriak memanggil sambil meloncat berdiri. Tiada jawaban yang dia inginkan.
"Hok Cu, di mana kau!" seru Han Beng yang kini mencari ke sekeliling tempat itu sambil memanggil-manggil. Ketika menjenguk ke bawah tebing, dia bergidik membayangkan Hok Cu yang terjatuh ke bawah sana.
Akan tetapi dia tidak melihat apa-apa di bawah sana. Lalu dia berlari menuruni bukit karang itu.
"Hok Cu.....!"
Wajah Han Beng menjadi pucat, hatinya gelisah sekali ketika sampai di bawah bukit, dia belum juga melihat bayangan Hok Cu.
"Hok Cu.....! Kembalilah.....! Aku tak sanggup hidup sendirian tanpa kau.....!" teriaknya berulang kali.
Pemuda itu berlari mendaki bukit di depan dan akhirnya, dia melihat gadis itu dipuncak bukit batu karang itu, di tepi tebing yang lebih curam daripada yang tadi. Gadis itu menangis tersedu-sedan, berlutut hampir menelungkup. Agaknya teriakannya yang terakhir itu, yang diulang-ulang, terdengar oleh gadis itu dan teriakan itu yang menahannya, membuat kedua kakinya lemas dan iapun menjatuhkan diri berlutut di situ dan menangis tersedu-sedu.
"Hok Cu.....!" Han Beng lari menghampiri, menubruk dan merangkul gadis itu yang menangis semakin menjadi-jadi Han Beng mendekap kepala itu ke dadanya, seolah takut kalau sampai kehilangan dan terlepas lagi.
"Aih, Hok Cu kenapa engkau meninggalkan aku!"'seru Jam Beng dan Hok Cu terisak-isak. Ketika ia mengangkat muka memandang melalui genangan air matanya, ia melihat pemuda itu menangis! Hal ini membuat ia menjadi semakin terharu dan sedih.
"Han Beng.....!" panggil Hok Cu yang kemudian menjerit dan merangkul pemuda itu. Mereka bertangisan dan berpelukan di tepi jurang yang curam itu.
__ADS_1
"Han Beng, lepaskan aku! biarkan aku pergi. Aku hanya menyusahkan kamu saja, Han Beng. Aku tidak dapat menjadi isterimu!" seru Hok Cu.
"Hok Cu, jangan putus harapan. Aku akan mencarikan obat untukmu, sampai dapat. Percayalah, aku akan dapat menolongmu, jangan engkau khawatir akan keselamatan dirimu, Hok Cu....." kata Han Beng yang berusaha menghibur kekasihnya itu.
Gadis itu menyusut air matanya.
"Han Beng, kau salah sangka, Aku tidak takut mati. Aku rela mati setelah menjadi isterimu selama satu bulan. Aku rela dan aku tidak takut. Hanya aku.... aku tidak tega membayangkan kau menangisi kematianku, Han Beng. Tidak, lebih baik kita tidak menikah, kau carilah gadis lain yang sehat....." kata Hok Cu yang tiba-tiba dipotong oleh Han Beng.
"Hok Cu! Kenapa engkau berkata demikian? Ucapanmuitu menusuk perasaanku. Hidup ini tidak ada artinya bagiku tanpa kau di sisiku, Hok Cu!" seru Han Beng.
"Tapi.....tapi.....kalau kita menikah..... hanya sebulan kita berkumpul, lalu aku harus meninggalkan kau untuk selamanya....." kata Hok Cu dengan terbata-bata.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih ini...
...Bersambung...
... ...
__ADS_1