
Dengan cepat ia mengambilnya dan menyambit-nyambitkan empat batang piauw itu dengan hati-hati, agar jangan mengenai suaminya sambil berteriak nyaring.
"Suamiku, mundur! Jahanam busuk, makanlah piauw-ku!" seru Cu Ming.
Terdengar suara bersiutan ketika empat batang piauw itu menyambar, dan Coa Siang sudah melompat ke belakang, empat batang senjata rahasia beracun itu menyambar dengan cepat sekali ke arah tubuh Hong Lan.
Namun betapa kagetnya hati nyonya muda itu ketika tiba-tiba saja tubuh pemuda bercaping lebar itu berkelebat lenyap dan tahu-tahu telah berada di belakangnya, menyentuh pinggulnya dengan jari tangan, mencubit pinggul itu.
"Hah...!"
Cu Ming membalik dan seperti sekor singa betina mengamuk ia pun menyerang dengan ilmu silat yang amat dahsyat.
Hong San semakin kagum dan terkejut. Kiranya wanita ini memiliki ilmu silat yang lebih lihai daripada suaminya,
Coa Siang sudah maju menerjang dan Hong Lan dikeroyok suami isteri itu di dalam kamar yang tidak begitu luas.
Hong Lan merasa terkejut akan kemampuan suami istri itu, dengan terpaksa dia melawan suami isteri itu satu demi satu.
Coa Siang dan Cu Ming mengeroyok pemuda itu, kini menjadi yakin bahwa pemuda ini memang datang bukan sekedar tertarik oleh kecantikan Cu Ming, melainkan tentu mempunyai tujuan yang sudah direncanakan untuk mencelakan mereka.
Mereka merasa menyesal sekali kenapa selama ini mereka lengah sehingga bukan saja mereka tidak pernah berlatih silat sehingga tentu saja gerakan mereka tidaklah selincah dahulu, akan tetapi juga mereka telah menyimpan pedang mereka dan sudah lupa lagi dimana mereka menyimpan senjata mereka itu.
Kalau mereka kini dapat memegang senjata pedang mereka, kiranya mereka akan dapat mengalahkan musuhnya dengan cepat.
Walaupun begitu, suami isteri yang memang lihai itu mulai dapat mendesak Hong San. Mereka berkelahi mati-matian untuk mempertahankan kehormatan. Sebaliknya, Hong Lan hanya main-main saja karena memang maksudnya bukan memusuhi suami isteri itu, melainkan "meminjam" sang isteri.
Biarpun tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi dari mereka namun dikeroyok dua oleh suami isteri yang nekat itu dia menjadi kewalahan juga.
"Ayah........, Ibu...........!"
Tiba-tiba terdengar suara anak kecil ini dan yang muncul di pintu tembusan adalah Coa Ki, anak laki-laki berusia tiga tahun itu. agaknya dia terbangun karena suara ribut-ribut.
"Coa Ki..........! Kembali ke kamarmu......!" seru Cu Ming yang kaget bukan main, namun terlambat.
__ADS_1
Melihat munculnya anak itu, Hong Lan yang cerdik seperti setan itu sudah menyambut ke belakang dan tahu-tahu anak itu telah berada dalam pondongannya.
"Aaaa....! Lepaskan! Dasar orang jahat!"
Anak itu menjerit-jerit, akan tetapi sekali Hong Lan menekan tengkuknya. Anak itu terkulai lemas, tertotok dan tak mampu bergerak atau berteriak lagi.
Melihat anak mereka berada dalam cengkeram penjahat itu, suami isteri yang tadinya mengamuk itu, terpaksa menahan gerakan mereka dan memandang dengan mata terbelalak dan pucat.
"Kembalikan anakku.........!" seru Cu Ming yang siap untuk menubruk maju.
"Heiittttt............ tenanglah, manis. Apakah kalian menghendaki aku membanting anak ini di depan kaki kalian sampai remuk, baru kemudian kubunuh kalian!" seru Hong Lan yang mengancam dan mengangkat anak itu, siap untuk membantingnya.
"Jangan....! jangan lakukan itu..!'' seru Coa Siang yang nampak wajahnya semakin pucat.
"Apa yang kau inginkan sebenarnya? Dan siapakah kau? Jangan membunuh anak kami yang tidak berdosa!" seru Cu Ming yang air matanya kini tak terbendung lagi.
"Aku tidak akan membunuh anak mungil ini kalau kalian menurut kata-kataku. Akan tetapi, sedikit saja kalian membuat gerakan mencurigakan atau tidak menurut perintahku, tentu aku akan membanting remuk anak mungil ini!" ancam Hong Lan.
"Jangan bunuh dia! katakan yang harus kami lakukan!" seru Cu Ming yang merasa khawatir dan merasa tidak berdaya sama sekali setelah, puteranya ditawan.
Sepasang mata Cu Ming terbelalak, alisnya berkerut dan tentu saja ia tidak setuju, akan tetapi tidak berani terang-terangan menolak. Melihat sikap ragu-ragu wanita itu, Hong Lan pun mengancam,
"Cepat lakukan perintahku, atau kau lebih suka melihat anakmu ini kubanting!" seru Hong Lan.
"Istriku, lakukanlah perintahnya." kata Coa Siang yang merasa tidak berdaya dan amat mengkhawatirkan keselamatan anaknya yang terjatuh ke tangan orang yang agaknya sinting itu.
Cu Ming menghampiri suaminya, pandang matanya sayu dan menderita sekali.
"Maafkan aku...." bisik Cu Ming dan ia pun menotok jalan darah di pundak suaminya.
Seketika tubuh itu lemas dan tentu roboh kalau tidak cepat ditangkap oleh Cu Ming yang memapahnya, menariknya ke tiang di sudut kamar.
Dengan begitu tidak karuan rasanya, Cu Ming pun terpaksa mengikat kaki tangan suaminya pada tiang itu, menghadap ke arah kamar karena ia ingin suaminya tetap waspada walaupun untuk sementara tidak mampu bergerak.
__ADS_1
"Ha....ha....! jangan mencoba menipu aku, Manis. Aku adalah seorang ahli totok jalan darah, tahu? Hayo totok lagi jalan darah thian hu-hiat agar dia tidak dapat lepas pula dari totokan, lalu ikat dia!" seru Hong Lan denga tawa sinisnya.
Cu Ming sangat terkejut, karena akalnya ketahuan dan hal ini hanya membuktikan betapa lihainya lawan itu. Memang tadi ia menotok lemas suaminya, hanya totokan hanya sementara saja, dan dalam beberapa menit suaminya akan pulih kembali.
Dengan terpaksa ia melaksanakan perintah dan sekarang keadaan suaminya benar-benar lemas dan tidak mampu bergerak untuk waktu sedikitnya dua jam.
Karena merasa percuma untuk menipu, ia pun mengikat kaki tangan suaminya dengan sabuk sutera yang kuat.
"Sudah kulaksanakan perintahmu, karang bebaskan anakku!" seru Cu Ming.
Pemuda itu menyeringai, walaupun dia tampan, namun pada saat itu bagi Cu Ming dia kelihatan seperti iblis yang menyeramkan. Cu Ming sendiri adalah Mo Li, jadi sudah biasa melihat kekejaman-kekejaman walau pun ia sendiri tidak berbakat untuk menjadi jahat.
Namun karena sekarang ia yang menjadi korbannya, maka ia merasa begitu marahnya sehingga kalau saja tidak teringat akan keselamatan puteranya, ingin rasanya ia menyerang dan mengadu nyawa dengan pemuda itu.
"He...he...he...! sudah kukatakan kalau aku datang bukan untuk membunuh kalian, cantik! Kalau aku ingin membunuh kalian, apa sukarnya? Aku hanya tergila-gila kepadamu, Cantik. Aku tidak akan membunuh kalian bertiga kalau kau bersikap manis padaku." kata Hong Lan.
Nah, sekarang perintahku yang kedua. Tanggalkan semua pakaianmu!" seru Hong Lan.
Sepasang mata itu terbelalak dan kedua pipi Cu Ming berubah merah lagi. Ada hawa keluar dari dadanya yang membuat ia ingin sekali menerjang laki-laki yang menghinanya itu.
"Jahanam keparat! Kau hendak menghinaku... memperkosaku di depan suamiku dan anakku? Keparat, iblis.........!" umpat Cu Ming yang memakai Hong Lan.
"Ingat, aku banting anakmu kalau kau bergerak menyerang!" seru Hong Lan yang kembali mengancam Cu Ming dengan mengangkat tubuh Coa Ki.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...