
"Siapakah guru pertama kamu itu, Hok Cu?" tanya Han Beng yang penasaran.
"Ahhhhh ........!" Han Beng berseru, kaget karena dia sudah amat mengenal nama datuk sesat itu.
Bahkan puteri dari Mo Li itu, ialah Cu Ming, adalah Nyonya Coa Siang yang telah menjadi saudara angkatnya.
"Kau sudah mengenal guru?" tanya Hok Cu sambil memandang tajam dan penuh selidik.
"Tidak, akan tetapi aku sudah sering mendengar nama besarnya. Dan siapa nama gurumu yang ke dua itu?" tanya Han Beng yang penasaran.
"Nama guru keduaku adalah Biksu Hek bin. Apakah Kau juga sudah mengenalnya?'' tanya Hok Cu yang penasaran.
"Aku hanya pernah mendengar ilmu kepandaian Biksu Hek-bin yang amat tinggi. Tidak heran Kau begini lihai Hok Cu. Kiranya kau murid Biksu Sakti Hek-bin." kata Han Beng yang kagum.
"Han Beng, Kau ingin tahu segalanya dariku, akan tetapi Kau sendiri tidak menceritakan apa-apa tentang dirimu. Siapakah nama guru-gurumu itu Tentu mereka merupakan orang-orang yang sakti di dunia persilatan maka Kau dapat memiliki ilmu kepandaian sehebat itu." kata Hok Cu yang juga penasaran dengan kisah Han Beng.
"Ah, boleh jadi guru-guruku pandai akan tetapi aku sendiri hanya seorang murid bodoh yang masih harus banyak belajar. Guruku yang pertama berjuluk Pendekar Kecapi, yang kedua Kwe Ong dan yang ke tiga adalah Hek Cu." jawab Han Beng.
Hok Cu tidak mendengarkan lagi nama-nama berikutnya setelah mendengar nama guru pertama dan ia sudah bangkit berdiri, memandang kepada Han Ben dengan sinar mata bersinar aneh dan muka kemerahan karena marah.
"Pendekar Kecapi! Hua Li si Pendekar Kecapi!" seru Hok Cu yang tampak geram.
"Benar dia, apakah Kau sudah kenal dengan guru, Hok Cu?" tanya Han Beng yang penasaran.
"Tentu saja aku kenal dia! Di mana dia sekarang? Di mana aku dapat bertemu dengan Hua Li si Pendekar Kecapi itu?" tanya Hok Cu yang sedikit meninggikan suaranya.
Han Beng yang berwatak jujur itu tidak melihat perubahan sikap gadis itu. Dia bahkan merasa girang bahwa Hok Cu mengenal gurunya.
"Guru Hua Li masih berada di tempat pertapaannya yang dulu, yaitu di puncak Kim-hong-san di lembah Sungai Kuning." jawab Han Beng.
__ADS_1
"Bagus sekali! Sekarang juga aku akan mencarinya di sana!" seru gadis itu yang siap untuk pergi meninggalkan tempat itu.
Akan tetapi tentu saja sikap ini membuat Han Beng terkejut dan heran. Dia sudah melangkah ke depan Hok Cu, memandang gadis itu dengan penuh selidik.
"Hok Cu, nanti dulu. Mengapa Kau tergesa-gesa mencari guru Pendekar Kecapi? Ada urusan apakah dengan dia?" tanya Han Beng yang penasaran.
"Bukan urusanmu, dan Kau tidak boleh mencampuri. Ini urusan pribadiku!" jawab Hok Cu dengan berseru.
"Akan tetapi, ada apakah, Hok Cu?
Aku adalah sahabatmu, dan aku muridnya, jadi aku berhak tahu Hok Cu!" seru Han Beng yang penasaran.
"Hmm, jadi Kau hendak membelanya, ya?" tanya Hok Cu yang menatap Han Beng dengan tajam.
"Membelanya? Apa maksudmu dengan mencari guru?" tanya Han Beng yang penasaran.
Tentu saja Han Beng merasa terkejut bukan main sehingga sejenak dia tidak mampu mengeluarkan kata-kata, hanya memandang kepada Hok Cu dengan mata terbelalak. Lalu dia teringat bahwa gadis ini adalah murid Mo Li, ibu kandung Cu Ming.
"Hok Cu, apakah Kau diutus Mo Li untuk memusuhi guru Pendekar Kecapi?" Suaranya mengandung teguran. Sikap ini membuat Hok Cu menjadi marah.
"Kalau betul Kau mau apa? Kau hendak membela gurumu? Boleh!" tantangnya dan gadis itu sudah mencabut pedangnya yang tumpul.
"Sabarlah, Hok Cu. Kau sendiri tadi mengaku bahwa gurumu itu, Mo Li adalah seorang datuk sesat. Kalau Kau mewakili Mo Li untuk menyerang guru karena urusan Cu Ming, maka aku dapat memberi penjelasan kalau guru tidak bersalah, bahkan kini dia sudah berbaikkan dengan Cu Ming dan suaminya, Coa Siang." jelas Han Beng.
"Aku tidak mengerti tentang apa yang kau bicarakan itu. Aku hendak membunuh Pendekar Kecapi bukan karena diutus guru, melainkan urusan pribadiku. Dia telah berdosa besar dan bagaimanapun juga, Han Beng, aku harus membunuhnya. Kalau Kau hendak membelanya, terpaksa Kau pun akan kuhadapi sebagai musuh! Aku siap mempertaruhkan nyawa untuk tugas ini!" seru Hok Cu dengan wajah yang memerah.
Tentu saja Han Beng menjadi semakin kaget. Tentu ada urusan yang amat besar telah terjadi antara gurunya yang pertama itu dengan gadis ini. Kalau tidak begitu, tidak mungkin Hok Cu mendendam sehebat ini.
"Hok Cu, aku bukan hendak membela guru, hanya aku sungguh tidak mengerti mengapa Kau memusuhi guru seorang pendekar yang budiman. Katakanlah agar aku tidak penasaran, Hok Cu mengapa Kau hendak membunuh guru Hua Li si Pendekar Kecapi?" tanya Han Beng yang sedikit memaksa.
__ADS_1
"Karena dia telah membunuh Ayah dan Ibuku!" jawab Hok Cu dengan lantang.
Han Beng tersentak kaget, matanya melebar dan mukanya menjadi agak pucat, bahkan dia seperti menerima pukulan pada mukanya yang membuat dia terhuyung ke belakang sampai lima langkah.
"Tidak ... tidak mungkin ...!" teriak Han Beng yang sangat terkejut.
"Tidak mungkin guru Pendekar Kecapi melakukan kekejian itu! Mengapa dia harus membunuh Ayah Ibumu? Ah, pasti Kau salah sangka, Hok Cu, guru Hua Li si Pendekar Kecapi sama sekali tidak membunuh Ayah Ibumu. Akulah yang menjadi saksinya. Sebelum dia membawaku pergi kami berdua telah bertemu dengan Ayah Ibumu karena aku mencari orang tuaku dan bahkan mereka diobati oleh guruku itu!" seru Han Beng.
"Diobati dengan racun! Ayah Ibuku telah diobati dengan racun oleh gurumu yang jahat itu, maka aku telah bersumpah bahwa aku akan membunuh Hua Li si Pendekar Kecapi!" seru Hok Cu yang geram.
"Hemmm, hal itu tidak mungkin sama sekali, Hok Cu. Pendekar Kecapi adalah seorang pendekar yang gagah perkasa, bagaimana mungkin dia membunuh orang dengan obat beracun? Lagi pula, kalau memang dia hendak membunuh Ayah Ibumu, mengapa pula harus memakai racun? Tentu dia dapat melakukannya dengan mudah." jelas Han Beng.
"Akan tetapi, Ayah Ibuku tewas karena racun setelah mereka diobati oleh Pendekar Kecapi, maka tidak salah lagi. Dialah yang membunuh Ayah Ibuku, dan kini aku ingin membalaskan kematian mereka. Siapapun tidak boleh menghalangi, Kau pun tidak!" bantah Hok Cu.
"Nanti dulu, Hok Cu, aku tidak akan menghalangimu bahkan mungkin aku juga akan menuntut guruku kalau memang dia demikian jahatnya. Akan tetapi aku tidak melihat sebab mengapa guruku membunuh orang tuamu. Apakah kau melihat sendiri ketika guruku memberi obat beracun kepada orang tuamu?" tanya Han Beng yang menatap Hok Cu.
"Aku melihat sendiri Ayah Ibuku mati karena keracunan!" jawab Hok Cu dengan berseru.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1