Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 61


__ADS_3

Terdengar suara seorang gadis, dengan lembut sekali memanggil Liu Ceng di belakangnya.


Kemudian Liu Ceng berdiri dari bangku dan memutar tubuhnya. Mereka berdiri berhadapan. Liu Ceng melihat betapa sinar mata gadis itu tampak aneh, tidak seperti biasanya.


Sepasang mata itu bersinar tajam mencorong dan bibir itu tersenyum. Wajah Yauw Lie tampak cantik bukan main. Ada suatu dorongan kuat sekali yang membuat hati Liu Ceng tertarik dan seolah terpesona oleh kecantikan wajah gadis itu.


Namun, ia kembali mengambil napas panjang dan dapat membebaskan diri dari pengaruh daya tarik ini, walaupun jantungnya masih berdebar aneh. Ia tahu bahwa perasaan tertarik ini terdorong nafsu berahi yang tidak wajar, maka ia segera melangkah mundur.


"Ah, kiranya kau adik Yauw," kata Liu Ceng dengan lembut.


"Silahkan duduk, adik Yauw." lanjut kata Liu Ceng yang memberikan jalan untuk Yauw Lie duduk.


"Terima kasih kakak Ceng. Aku tidak tahu kalau kakak Ceng ada di sini dan maaf kalau aku mengganggu ketenanganmu." ucap Yauw Lie dengan sopan.


"Ah, sama sekali tidak adik Yauw. Aku sedang menikmati malam yang begini indah." kata Liu Ceng bersungguh-sungguh sambil menarik napas panjang.


Yauw Lie memandang ke sekitanya lalu menengadah memandang bulan dan dia pun menarik napasnya panjang dan mengeluarkannya pelan-pelan.


"Benar sekali, benar sekali kakak Ceng. Malam ini sungguh teramat indah. Kakak Ceng, bisakah kamu menerangkan kepadaku mengapa aku saat ini memiliki perasaan yang begini berbahagia dan segala sesuatu tampak indah sekali?" ucap dan tanya Yauw Lie.


"Adik Yauw, sebenarnya kebahagiaan tidak pernah meninggalkan kita. Kalau kita dapat menerima segala sesuatu seperti apa adanya tanpa menolak tanpa mengharapkan, maka bahagia juga akan selalu ada bersama dengan kita. Hanya kalau nafsu perasaan menguasai hati akal pikiran, maka segala sesuatu tidak akan terasa bahagia lagi karena muncul segala macam keinginan akan kesenangan yang tak kunjung habis ingin kita raih. Adik Yauw, kamu berbahagia saat ini karena kamu menikmati apa adanya dan tidak menginginkan apa pun yang tidak ada padamu. Bukankah demikian, adik Yauw?" jelas Liu Ceng seraya menatap Yauw Lie.


"Pendapatmu itu memang benar sekali, kakak Ceng. Akan tetapi kebahagiaan dan keindahan yang kurasakan saat ini bukan hanya disebabkan oleh penerimaan keadaan tanpa diganggu hati akal pikiran, kakak Ceng. Aku yakin betul bahwa kebahagiaan ini muncul dalam hatiku hanya oleh adanya suatu sebab." ucap Yauw Lie.


"Eh? Apakah yang menjadi sebabnya, adik Yauw?" tanya Liu Ceng seraya mengangkat wajahnya menatap wajah gadis itu.


Yauw Lie juga sedang menatapnya dan dua pasang mata bertemu dan bertaut. Kembali Liu Ceng merasa getaran yang amat kuat menyentuh perasaannya dan jantungnya berdebar.


"Yang menyebabkan semua keindahan dan kebahagiaan ini adalah kamu kakak Ceng, iya, dirimu!" jawab Yauw Lie yang seketika membuat Liu Ceng sangat terkejut.


 "Tidak, tidak mungkin adik Yauw!" seru Liu Ceng yang kemudian melangkahkan kakinya sedikit menjauh dari Yauw Lie.

__ADS_1


"Ma'af permisi!" ucap Liu Ceng yang kemudian membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkan taman menuju rumah utama di mana ia bermalam


Yauw Lie masih berdiri dan pemuda itu menundukkan kepalanya, rupanya sikap Liu Ceng tadi membuat dia terkejut dan kecewa.


Tak disangka sama sekali Liu Ceng itu akan menolak pendekatannya. Padahal setiap harinya, sikap Liu Ceng demikian ramah dan akrab padanya. Sejak pertemuan pertama dia memang sudah kagum sekali kepada Liu Ceng.


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki orang di belakangnya. Yauw Lie yang menyadari keadaannya dan bersikap biasa kembali.


 "Adik Yauw......!"


Mendengar ada yang memanggil namanya, Yauw Lie dengan cepat membalikkan badannya dan Liu Hong sudah berdiri di depannya


"Eh, kakak Hong." kata Yauw Lie dengan sikap ramah dan lembut seperti biasanya.


Akan tetapi pemuda itu tidak duduk dan matanya menatap wajah Yauw Lie dengan penuh selidik.


"Adik Yauw, apa yang terjadi dengan kau dan kakak Ceng tadi?" tanya Liu Hong penasaran.


 "Ketika aku memasuki taman ini tadi, aku melihat kakak Ceng berada di sini denganmu, lalu ia pergi. Apa yang kalian lakukan, berduaan di sini?" tanya Liu Hong penasaran.


 "Kakak Hong, kenapa kau bersikap seperti ini dan seperti menyangka yang bukan-bukan? Kami hanya bicara biasa, tidak terjadi sesuatu yang tidak semestinya. Akan tetapi, kalau kamu masih penasaran, tanyakan saja kepada kakak Ceng sendiri. Kenapa kau tampak seperti orang marah, kakak Hong?" kata Yauw Lie yang sudah tahu akan watak Lie Ceng, yang pasti Like Ceng tidak akan bicara tentang peristiwa dengannya tadi.


"Betulkah tidak terjadi sesuatu antara kalian, Adi Yauw? Aku hanya khawatir. Perlu adik ketahui kalau kakak Ceng menyukai saudari Misanku!" seru Liu Hong.


"Ha...ha....ha...! kau ini lucu dan aneh. Kakak Hong. Aku tidak berbuat apa-apa terhadap kakak Ceng dan syukurlah kalau ia sudah memiliki pilihan hati. Aku memang sayang ia sebagai seorang sahabat, Kakak Hong, lain tidak!" seru Yauw Lie dengan tertawa.


"Apakah kau tidak sayang padaku?" Liu Hong seraya melirik ke arah Yauw Lie.


"Sayang padamu? Aih, kakak Hong aku memang sayang padamu, karena saat ini aku menganggap sayangku pada kakak Ceng sebagai kakak." jawab Yauw Lie.


"Betulkah begitu?" tanya Liu Hong yang penasaran.

__ADS_1


"Tentu saja kakak Hong." ucap Yauw Lie dan Liu Hong semakin penasaran dan tertarik. Saking tegang hatinya, ia memandang tajam pada Yauw Lie.


"Aku juga sayang padamu adik Yauw, maukah kamu jadi teman hidupku?" ucap dan tanya Liu Hong yang tentu saja membuat Yauw Lie sangat terkejut.


  


"Ah...!"


Yauw Lie menjatuhkan diri duduk di atas bangku. Rasanya lemas seluruh sendi tulangnya. Jantungnya berdebar kencang dan tubuhnya agak gemetar. Karena perasaannya ternyata tak seperti tadi saat bersama Liu Ceng.


Berbagai perasaan mengaduk hatinya. Ada rasa senang bahagia, ada terharu, ada pula perasaan lain yang ia tidak mengerti benar. Ia hanya menundukkan mukanya karena baru pertama kali ini ia menerima pengakuan cinta seorang pemuda yang memang telah menjatuhkan hatinya.


Dengan hati-hati Liu Hong duduk pula di atas bangku, namun tidak terlalu dekat dengan Yauw Lie, melainkan di ujung bangku.


"Maafkan aku, adik Yauw. Maafkan kalau ucapanku tadi menyinggung hatimu. Ah, aku terlalu lancang dan kurang ajar. Bagaimana mungkin seorang pemuda seperti aku ini berani mencinta seorang gadis Pendekar seperti dirimu? Maafkan aku, atau kalau engkau tersinggung dan marah, pukullah aku, aku tidak akan melawan, adik Yauw!" ucap Liu Hong dengan suara parau, bernada penuh sesal dan sedih.


Mendengar ucapan itu, Yauw Lie mengangkat wajahnya dan menatap Liu Hong. Dua pasang sinar mata bertemu, bertaut, dan jantung keduanya begetar hebat.


Sinar mata pemuda itu demikian penuh kasih sayang, seolah membelal-belai hati Yauw Lie.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2