Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 239


__ADS_3

Kemudian mereka saling memberi hormat dan mengulas senyum secara bersamaan.


Mereka bertiga itu duduk diatas rerumputan yang tak jauh dari tempat itu.


"Saudara Lan! mari kita bicara sebagai rekan. Kuharap Nona Cu yang berkepandaian tinggi juga sependapat dengan Saudara Lan dan sudi mencurahkan tenaga membantu perjuangan kami." kata ketua itu.


Hok Cu merasa heran sekali melihat Hong Lan yang menyatakan ingin membantu kelompok pejuang yang bergabung dalam perkumpulan itu.


Akan tetapi hal itu bukan urusannya dan ia pun hanya secara kebetulan saja berada di situ bersama Hong Lan dan mendengar ucapan ketua perkumpulan itu, ia pun menggeleng kepala sambil tersenyum.


"Tentu saja aku sependapat kalau kalian atau siapa saja menentang para pejabat yang makan uang rakyat dan uang negara, pejabat yang menindas rakyat jelata, memaksa rakyat menjadi pekerja pembuatan terusan sebagai pekerja rodi tanpa dibayar. Akan tetapi aku sendiri tidak mau terikat, karena aku masih mempunyai tugas-tugas pribadi yang sangat penting dan yang harus kulaksanakan," katanya halus namun tegas.


"Ha ..ha...ha....!"


Tiba-tiba terdengar suara tawa dan Hok Cu melirik ke arah wakil ketua karena mendengar mereka itu mengeluarkan suara tawa.


"Ha...ha...ha..! kenapa Nona tidak sekalian membantu kami? Dengan demikian, kita akan dapat mempererat persahabatan antara kami dengan Nona. Bukankah kita sudah saling berkenalan di rumah makan Ho Tin, Nona?"


Yang mengeluarkan kata-kata itu adalah si Tinggi Kurus dengan Hidung Besar, orang termuda yang kenal mata keranjang.


"Benar sekali," sambung temannya.


 "Setelah Pendekar Hong Lan menjadi pembantu ketua Gan Lok, berarti dia juga sekutu kami, dan kami akan merasa gembira kalau dapat bersekutu dengan Nona Hok Cu." kata Si kurus berhidung besar.


Hok Cu tersenyum, tapi dalam pikirannya kalau orang-orang macam ini sungguh berbahaya untuk didekati. Belum apa-apa, setelah mereka dikalahkan Hong Lan, kini sikap mereka sudah berbalik sama sekali, dan dengan nada menjilat mereka menyebut Hong Lan sebagai pendekar. Dan dia dapat menangkap makna yang genit cabul dalam kata-kata laki-laki disamping si kurus berhidung besar itu.


"Hmm, sungguh aku masih merasa terheran-heran melihat kalian bertiga tiba-tiba saja dapat berada di sini menjadi sekutu perkumpulan ini. tidak melihat kalian sebagai orang-orang yang menentang kepala daerah Siong-an ketika berada di rumah makan!" seru Hok Cu.


"Perlu Nona Hok Cu ketahui bahwa mereka ini ialah orang-orang kepercayaan yang menjadi utusan dari Cang jin yang menjadi sekutu kami." jelas Gan Lok.

__ADS_1


Mendengar ini, sepasang mata Hok Cu terbelalak, bahkan Hong Lan juga merasa heran.


"Bagaimana ini bisa?" tanya Hok Cu yang merasa heran.


"Kalian adalah pejuang pembela rakyat yang menentang pembesar yang menindas rakyat jelata dan kini kalian bersekutu dengan Cang Jin, seorang pembesar yang korup dan penyogok atasan!" lanjut seru Hok Cu.


"Ha...ha...ha...! inilah yang merupakan hal-hal yang perlu dimiliki seorang pemimpin di samping hanya berkepandaian silat saja. Nona Hok Cu, harap jangan heran mendengar ini. Kita menentang pemerintah yang menindas rakyat, maka perlu sekali bagi kita untuk bersekutu dengan beberapa orang pejabat yang dapat menyetujui perjuangan kita, atas dasar keuntungan bersama. Cang Jin merupakan seorang pejabat yang dapat kami percaya dan yang dapat diajak bekerjasama." jelas Gan Lok.


Tanpa banyak bertanya lagi ia pun dapat menilai macam apa adanya orang-orang yang menyebut diri para pejuang ini. Mereka tidak segan bersekutu dengan seorang pembesar atas dasar keuntungan bersama.


Jelas bahwa yang menjadi dasar "perjuangan" mereka itu bukan demi rakyat, melainkan demi keuntungan bersama itulah.


Kemudian Hok Cu menoleh kepada Hong Lan, dan pemuda itu kebetulan sedang memandang kepadanya.


"Nona, memang baik sekali kala kita berdua membantu rakyat jelata dan melaksanakan tugas sebagai pendekar-pendekar sejati!" kata Hong Lan dengan suara lembut.


"Membela rakyat atau mencari kedudukan dan keuntungan pribadi?" tanya Hok Cu dengan mengernyitkan kedua alisnya.


Akan tetapi dia memang seorang pemuda yang aneh dan cerdik, biarpun hatinya panas, dia mampu menahannya dan tetap tersenyum.


"Kedua-duanya, Nona Hok Cu. Membela rakyat memang penting, akan tetapi mencari kemajuan pribadi juga penting." lanjut kata Hong Lan.


Hok Cu bangkit berdiri.


"Hemmm, bagiku, kedua kepentingan itu tidak mungkin dapat sejalan. Kalau sejalan, tentu perjuangan itu akan diselewengkan dan tersesat. Sudahlah, bukan urusanku, akan tetapi aku harus pergi sekarang. Ketua Gan Lok dan Saudara sekalian, selamat tinggal! Aku harus pergi sekarang!" ucap Hok Cu lalu meninggalkan ruangan itu tanpa banyak cakap lagi.


Mereka yang melihatnya hanya memandang dengan heran. Tadinya mereka mengira bahwa nona itu adalah rekan atau teman baik Hong Lan, tidak tahunya agaknya di antara mereka tidak ada hubungan sama sekali.


"Pendekar Hong Lan, kenapa engkau tidak menahannya? Apakah ia bukan sahabat baikmu?" tanya Gan Lok yang kini juga menyebut pensekar kepada Hong Lan karena selain dia tahu bahwa pemuda itu pandai sekali dan berjiwa pendekar, juga untuk menyenangkan hati pemuda yang hendak diikatnya menjadi sekutu yang amat tangguh itu.

__ADS_1


"Kami baru saja berkenalan," jawab Hong Lan dengan sejujurnya dan dia mengerutkan alisnya dengan kecewa. Dia tidak rela membiarkan gadis itu pergi meninggalkannya begitu saja.


"Aih, kalau begitu, berbahaya sekali. Jangan-jangan ia akan menjadi mata-mata pemerintah dan membuka rahasia kita," kata Gan Lok yang khawatir.


Hong Lan bangkit berdiri,


"Ayo, kalian membantuku. Kita harus susul tangkap Hok Cu itu kalau ia tidak mau membantu gerakan kita!" seru Hong Lan.


Tanpa menanti jawaban, Hong Lan segera melangkah keluar setelah mengeluarkan ucapan yang bernada memerintah itu. Dan seperti dengan sendirinya, sembilan orang pimpinan persekutuan itu ditambah tiga orang berpakaian serba kuning itu sudah bangkit dan mengikutinya.


Dari sini saja sudah nampak pengaruh dan wibawa Hong Lan yang memiliki suatu sikap aneh dan tegas di samping kelembutannya.


...***...


Sementara itu Han Beng menahan langkahnya ketika mendengar derap kaki kuda dari depan itu. Ternyata penunggang kuda itu orang di antara belasan orang perajurit pengawal yang tadi mati-matian membela Liu Tai dan dia datang berkuda sambil menuntun seekor kuda lain.


Begitu melihat Han Beng yang berdiri di tepi jalan setapak itu, dia menahan kudanya dan cepat meloncat turun, lalu memberi hormat kepada Han Beng.


"Pendekar, saya diutus oleh Liu Tai untuk mengundang anda untuk menghadap beliau karena beliau ingin bicara denganmu. Silakan, pendekar, saya sudah membawa seekor kuda untukmu." kata orang suruhan Liu Tai.


Han Beng mengerutkan alisnya, tadi memang menolong pembesar yang sedang dikepung dan diserang para penjahat atau perampok itu, akan tetapi dia sesungguhnya tidak ingin berkenalan dengan pembesar itu.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2