
Han Beng mengerutkan alisnya, tadi memang menolong pembesar yang sedang dikepung dan diserang para penjahat atau perampok itu, akan tetapi dia sesungguhnya tidak ingin berkenalan dengan pembesar itu.
Siapapun orangnya yang diserang perampok dan terancam bahaya tentu akan dibelanya. Dia tidak mengharapkan jasa atau imbalan.
Akan tetapi, memang dia tadi sedang melamun dan rasa ingin tahu sekali mengapa pembesar itu dimusuhi orang-orang yang lihai tadi.
Dan siapa pula pemuda bercaping dan gadis cantik yang amat lihai tadi? dia merasa seperti pernah mengenal pemudanya, akan tetapi dia lupa lagi, hal ini karena dia tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas, wajah yang banyak tutup caping lebar.
"Sebetulnya aku tidak mempunyai urusan dengan majikanmu itu, akan tetapi karena dia sudah memerlukan mengundangku, biarlah kutemui dia sebentar Han Beng lalu meloncat ke atas punggung kuda dan bersama prajurit pengawal itu dia pergi menuruni lereng.
Yang penting baginya bukan memenuhi panggilan pembesar itu, melainkan karena ingin memperoleh keterangan tentang peristiwa tadi.
Pembesar Liu sudah menanti di depan kereta ketika Han Beng tiba. Dan kini bukan hanya belasan orang perajurit pengawal yang berjaga di situ melainkan ada kurang lebih seratus orang perajurit.
"Hm...! Pembesar ini tentu orang penting, kalau tidak begitu, bagaimana mungkin dia dapat dijaga oleh demikian banyaknya perajurit yang melihat pakaiannya, juga bukan perajurit penjaga keamanan biasa, melainkan seperti perajurit-perajurit dari kota raja." kata dalam hati Han Beng.
Laki-laki yang setengah baya dan tinggi kurus itu bersikap agung dan sepasang matanya mengeluarkan sinar yang dingin penuh wibawa.
Han Beng meloncat turun dari kudanya yang segera diurus oleh seorang perajurit. Dia menghampiri pembesar itu dan memberi hormat, dibalas dengan hormat pula oleh pembesar itu.
"Terima kasih, pendekar anda sudah memenuhi undangan kami," kata pembesar itu dengan ramah.
Han Beng menganggukkan kepalanya dan mengulas senyumnya.
__ADS_1
Setelah duduk berhadapan di dalam kereta sedangkan para perajurit menjaga di seputar kereta dalam keadaan siap siaga, pembesar itu memperkenalkan diri.
"Pendekar, kami adalah seorang pejabat dari kota raja yang melakukan pemeriksaan terhadap pelaksanaan pengumpulan tenaga kerja pembuatan terusan yang dilakukan oleh para pejabat di sepanjang Sungai kuning. Kami menerima perintah langsung dari Sribaginda Kaisar sebagai utusan istimewa yang membawa kekuasaan penuh." jelas Liu Tai.
Mendengar ini, Han Beng terkejut cepat dia memberi hormat.
"Maafkan saya, pembesar Liu Tai."
"Tidak perlu banyak sungkan, kau tadi telah menyelamatkan kami dan telah membuat jasa besar...." kata Liu Tai yang kemudian dipotong oleh Han Beng.
"Maaf p3mbesar Liu. Hal itu saya anggap sebagai suatu tugas dan kewajaran, sama sekali bukan jasa!"
Pembesar Liu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan mengelus jenggotnya.
"Saya memang selalu membela siapa saja yang tertindas dan menjadi korban kejahatan, tidak peduli dia itu dari golongan mana. Saya sendiri juga merasa heran, kenapa pembesar Liu yang merupakan seorang pejabat tinggi dari kota raja, ada yang berani menghadang dan hendak merampok? Siapa pula pemuda dan gadis yang memiliki ilmu kepandaian tinggi itu? Saya ingin sekali mengetahui semua itu, kalau saja pembesar Liu dapat memberi penjelasan kepada saya." jelas Han Beng.
"Memang kau sengaja saya undang untuk saya beri penjelasan, dan kami harapkan kau dapat membantu pemerintah dalam tugas yang amat penting ini, pendekar. Bolehkah kami mengetahui namamu?" tanya apembesar Liu.
"Saya bernama Han Beng, maaf, terus terang saja, saya kehilangan Ayah Ibu dan keluarga karena menjadi korban paksaan untuk dijadikan pekerja paksa pembuat terusan. Orang tua saya melarikan diri dan celaka dalam perjalanan..." jawab Han Beng yang menghentikan ucapannya.
Sementara itu Pembesar itu menarik napas panjang
"Karena kenyataan itulah yang membuat kami dijadikan utusan oleh Baginda Kaisar agar melakukan penelitian. Kenyataan itu merupakan kejahatan besar yang dilakukan banyak pejabat yang menyalahgunakan kekuasaan mereka, membuat rakyat sengsara kepada rakyat. Ketahuilah bahwa pengumpulan tenaga kerja itu sama sekali bukan paksaan. Rakyat diminta pengertiannya betapa pentingnya pembuatan terusan itu, dan dibuat justru demi kepentingan rakyat. Dan rakyat yang mau membantu pekerjaan itu, diberi upah sebagaimana pantasnya. Namun sayang, banyak di antar para pejabat daerah yang menyalahgunakan wewenang mereka, biaya untuk pembayaran para pekerja masuk ke dalam kantung mereka sendiri sedangkan mereka mempergunakan kekuasaan mereka untuk memaksa rakyat menjadi pekerja tanpa bayaran. Kami ditugaskan untuk melakukan penyelidikan tentang semua Itu, tentang penyelewengan yang dilakukan para pejabat daerah." jelas pembesar Liu Tai.
__ADS_1
Han Beng teringat akan makian pemuda bercaping lebar kepadanya. Dia memaki penjilat pembesar korup.
"Jadi kalau begitu, mereka yang menyerang tuan itu adalah mereka yang menentang pembesar yang melakukan penyelewengan? Kalau begitu, mengapa mereka menyerang tuan?" tanya Han Beng yang penasaran.
"Mungkin mereka mengira bahwa kami juga termasuk pembesar yang melakukan penyelewengan. Begini persoalannya pendekar, kami datang ke daerah Siong-an karena mendengar bahwa Cang Jin juga seorang pembesar dan pejabat daerah yang melakukan penindasan terhadap rakyat dan mempergunakan kekuasaan menangkapi banyak rakyat untuk dijadikan pekerja paksa, sedangkan biaya untuk itu dikantunginya sendiri. Kami datang dan melakukan penelitian, dan apa yang dilakukannya? Dia telah menyogok kami dengan dua orang gadis cantik dan seperti penuh barang berharga yang dimaksudkan agar kami memberi laporan yang baik-baik tentang dirinya ke kota raja. Untuk memperoleh bukti, maka kami sengaja menerima pemberian itu. Dengan adanya bukti itu, kelak tidak akan dapat menyangkal kalau sudah dituntut di depan pengadilan. Akan tetapi, di dalam hutan itu tiba-tiba kami diserang oleh segerombolan orang, dibantu oleh dua orang pendekar. Karena itulah kami menaruh curiga, apakah benar para penyerang itu merupakan pendekar yang membela rakyat membenci pembesar yang korup dan menindas rakyat? Ataukah ada sesuatu balik itu? Siapa tahu kalau Cang jin menaruh curiga kepada kami, dan menghilangkan bukti! Setelah kau membantu dan kami dapat lolos, kami segera menyembunyikan dua orang gadis, dan peti harta itu untuk dijadikan bukti kelak." jelas pembesar Liu panjang lebar.
"Kalau begitu boleh jadi kalau para penyerang itu adalah mereka yang membenci pejabat yang menyeleweng dan menindas rakyat, kemudian karena Paduka menerima pemberian sogokan dari Cang jin, mereka tentu saja menganggap bahwa Paduka juga sama dengan Cang jin. Bukankah begitu kiranya, pembesar Liu?" kata Han Beng yang menerka-nerka.
"Kalau memang mereka itu benar orang-orang gagah yang melindungi rakyat jelata dan membenci pembesar yang menyeleweng dan menindas rakyat, tentu mereka sudah mendengar siapa dan bagaimana watak kami. Di mana pun juga kami selalu bertindak tegas terhadap para pejabat yang menyeleweng. Tidak pendekar, pasti ada sesuatu di balik ini semua dan ketahuilah, kami percaya kepadamu maka kami berterus terang bahwa bukan hanya penyelewengan Cang jin yang kami dengar dari para penyelidik kami. Akan tetapi bahwa di samping itu juga ada kemungkinan besar Cang jin mengadakan persekutuan dengan gerombolan yang diduga kerena akan mengadakan pemberontakan." jelas Liu Tai.
"Ahhh! Pemberontak!" seru Han Beng sangat terkejut karena hal ini dapat membuat urusan menjadi besar dan penting sekali.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...