Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 80


__ADS_3

"Sekarang katakan siapa kau dan mau apa engkau malam-malam masuk ke sini seperti pencuri!" seru Sin Lin dengan mengernyitkan kedua alisnya.


"Hei, apa yang telah terjadi!" seruan kaget dan muncullah Sin Lan yang terbangun mendengar ribut-ribut itu. Mereka kini berdiri dekat Sin Lin dan Ling Ling dan memandang ke arah Liu Ceng dengan heran, kenapa ada penyusup dipergiruan ular kobra.


"Saya mohon maaf kepada kalian dan kepada semua warga perguruan ular kobra atas kelancanganku memasuki tempat kalian ini malam-malam dan tanpa ijin. Hal ini terpaksa kulakukan melihat keadaan yang mengancam perguruan ular kobra. Aku sengaja menyelundup ke sini dengan niat untuk menghadap ketua perguruan ular kobra dan membicarakan hal yang amat penting mengenai harta karun Kerajaan Han." jelas Liu Ceng.


"Saudaraku, katakan dulu siapakah kau?" tanya Sin Lan yang penasaran.


"Namaku Liu Ceng." jawab Liu Ceng yang memperkenalkan dirinya.


"Jadi kau putra mendiang Panglima Kerajaan Han yang terkenal bernama Liu Bok itu?" Sin Lan yang sangat terkejut.


"Memang benar, mendiang Liu Bok itu adalah Ayahku." kata Liu Ceng yang mempertegas ucapannya.


"Wah, kami sudah mendengar banyak sekali tentang saudara Ceng dari saudari kami Hua Li !" seru Sin Lin.


"Hua Li? Apakah Hua Li berada di sini?" tanya Liu Ceng yang jantungnya terasa berdebar.


"Tadinya dia bersama kami berkunjung ke tempat ini, akan tetapi kini dia melakukan penyelidikan terpisah dan belum kembali ke sini." jawab Sin Lin.


"Drapp.....drapp....drappp...!"


Terdengar langkah suara banyak orang memasuki ruangan itu.


Ternyata ketua Thio Kong bersama belasan orang muridnya datang ke ruangan itu, siap dengan senjata di tangan.


 "Apa yang terjadi? Siapakah pemuda ini?" tanya ketua Thio Kong dengan heran.

__ADS_1


"Ketua, pemuda ini adalah saudara Liu Ceng!" jawab Sin Lan.


"Oh, rupanya putra mendiang Panglima Liu Bok, pewaris peta harta karun itu? Pendekar Ceng, kami sudah mendengar tentang anda dari saudari Hua Li. Tapi kenapa malam-malam begini pendekar Ceng datang, dan ada keperluan apakah kiranya pendekar?" tanya Ketua Thio Kong yang penasaran.


"Maafkan saya, ketua! Sesungguhnya saya bermaksud menghadap dan bicara denganmu, dan karena di luar perkampungan terdapat banyak orang kang-ouw, saya tidak ingin diketahui orang dan menyelinap masuk ke sini." jawab Liu Ceng.


"Tidak mengapa, pendekar Ceng. Mari kita bicara di dalam rumah!" kata Ketua perguruan ular kobra itu.


"Baik, ketua!" jawab Liu Ceng dan kemudian mereka masuk ke rumah utama perguruan ular kobra itu.


Namun sebelumnya Ketua Thio Kong menyuruh para muridnya untuk keluar lagi melakukan penjagaan.


Setelah masuk ke dalam ruangan itu, mereka duduk mengelilingi meja besar.


 "Ketua, saya mendengar berita yang mengatakan bahwa harta karun itu berada di sini...." ucap Liu Ceng yang kemudian dipotong oleh ketua Thio Kong.


"Seperti saya katakan tadi, saya mendengar berita tentang harta karun Kerajaan Han yang dikabarkan berada di sini......"


"Kabar itu bohong, fitnah belaka!" seru Sin Lin.


"Adik Lin, biarkan saudara Ceng melanjutkan ceritanya," kata Sin Lan yang menegur adiknya.


Liu Ceng tersenyum. Di bawah sinar lampu yang terang, ia segera dapat membedakan mana Sin Lan dan mana Sin Lin. Ia melihat persamaan watak antara Sin Lin dan Liu Hong yaitu bersemangat, dan galak. Sedangkan Sin Lan berwatak tenang dan serius.


"Ketua, mungkin semua orang sudah mendengar bahwa mula-mula mendiang Ayah saya mewariskan peta harta karun kepada saya. Kemudian peta dirampas Panglimaim Bao dan saya dipaksa untuk membantunya mencari harta karun. Akan tetapi setelah tempat harta karun ditemukan, hanya ada peti kosong yang terdapat ukiran ular kobra. Maka banyak orang kang-ouw berdatangan ke sini, karena perguruan ular kobra inilah yang simbolnya sama persis pada ukiran itu. Saya sendiri juga menyelidiki ke sini dan saya bertemu dengan Thian Yu dari perguruan walet putih bersama lima orang muridnya. Ternyata mereka dari perguruan walet putih mendukung dan hendak membantu saya menemukan harta karun itu. Kemudian saya mendengar bahwa harta karun itu berada di perguruan ular kobra yang berada di pegunungan Thai San ini. Saya dan Thian Yu tentu saja tidak mempercayai berita itu. Melihat betapa perkampungan perguruan ular kobra ini yang telah dikepung banyak orang yang tentu berniat merebut harta karun yang dikabarkan berada di sini, maka saya diam-diam lalu menyuaup ke sini untuk bertemu dan bicara dengan ketua Thio Kong." jelas Liu Ceng.


   Thai-san Sianjin menghela napas panjang.

__ADS_1


"Huff, entah siapa yang menyebar berita bohong itu dan entah apa maksudnya mengabarkan bahwa harta karun itu berada di sini. Akan tetapi kami siap menghadapi segala kemungkinan. Tentu saja kami akan menyangkal dan membela diri. Kebetulan sekali kedua saudara dari lembah seribu bunga datang bersama nona Ling Ling ini yang dari perguruan bunga persik, siap membela kami." kata ketua Thio Kong.


"Harap ketua tidak perlu khawatir. Untuk mendapatkan kembali harta karun agar saya dapat memenuhi pesan mendiang Ayah. Karena saat ini perguruan walet putih dan perkumpulan pengemis tongkat merah, pada saat ini telah berada pula di luar perkampungan ini." kata Liu Ceng seraya menatap satu persatu orang dihadapannya.


 "Wah! Itu bagus sekali!" seru Ketua Thio Kong dengan mengulas senyumnya.


"Karena itulah ketua, apabila terjadi sesuatu yang buruk menimpa perguruan ini, kami sudah siap untuk membantu. Dan saya kira, hanya mereka dari aliran sesat saja yang mempunyai niat buruk terhadap perguruan ular kobra. Mereka yang terdiri dari aliran putih atau para pendekar pasti tidak mau memusuhi perguruan ular kobra tanpa alasan yang kuat dan hanya karena desas-desus itu saja," kata Liu Ceng yang meyakinkan.


"Akan tetapi, kami merasa dikepung tanpa mengetahui apa yang mereka kehendaki, tidak tahu pula apa yang akan mereka lakukan terhadap perguruan ular kobra. Hal ini sungguh membuat hati kami merasa tidak tenang. Apa yang sebaiknya yang harus kami lakukan dalam keadaan seperti ini?" kata Ketua perguruan ular kobra sambil memandang kepada empat orang muda itu.


"Maaf ketua Thio Kong! kalau menurut pendapat saya, hal ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Kita harus bertindak!" seru Ling Ling yang sedari tadi diam saja.


"Aku setuju sekali!" seru Sin Lin yang bersemangat.


"Kalau ketua diam saja, tentu mereka itu semakin percaya bahwa perguruan ular kobra merasa bersalah dan benar-benar telah mengambil harta karun itu. Mereka telah memasuki wilayah ini, sebaiknya usir saja mereka, kalau tidak mau pergi secara halus, kita usir dengan kekerasan. Kami akan membantumu, ketua!" seru Ling Ling yang juga bersemangat.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


   


__ADS_2