
"Krek....!"
Kaki meja di toko itu mengeluarkan bunyi hampir patah-patah ketika dia meletakan guci itu di atas meja.
"Heiiiii, jangan taruh benda berat itu di situ! " teriak seorang pegawai toko.
"Turunkan saja!"lanjut pegawai itu.
Melihat betapa laki-laki tinggi kurus itu sama sekali tidak bergerak untuk menurunkan gucinya, hanya berdiri seperti patung membisu, Si Pegawai toko lalu menghampiri dan mencoba untuk menurunkan guci itu.
Akan tetapi, benda itu sama sekali tidak bergerak saking beratnya! Beberapa kali dia mengerahkan tenaga namun sia-sia belaka.
"Ayo, bantu untuk menurunkan benda ini. Meja kita bisa runtuh kalau tidak diturunkan!" teriaknya kepada .seorang temannya. Dua orang pegawai itu mengerahkan tenaga dan mencoba, akan tetapi tetap saja benda itu tidak bergerak! Bukan main beratnya benda itu.
Pengurus toko, seorang laki-laki berusia enam puluhan, kepercayaan Sang Gu, segera menghampiri dan memberi isyarat kepada dua orang bawahannya untuk mundur.
Dia tahu bahwa laki-laki tinggi kurus ini tentu seorang pendekar maka dia pun merangkap kedua tangan ke depan dada memberi hormat.
"Harap maafkan dua orang pembantu kami. Tidak tahu siapakah pendekar dan apa puia keperluan pendekar berkunjung ke toko kami? Harap jelaskan agar kami dapat menyampaikan kepada majikan kami." kata Sang Gu dengan sopan
Orang itu agaknya senang disebut pendekar, akan tetapi masih bersikap angkuh.
"Hmm, di mana Sang Gu? Suruh dia keluar bicara dengan aku!" seru laki-laki itu.
Melihat sikap ini, tentu saja para pegawai di toko itu menjadi tidak senang. Akan tetapi, pengurus itu menyabarkan mereka dan dia pun tidak ingin majikannya harus turun tangan sendiri menghadapi peristiwa yang dianggapnya hanya gangguan kecil ini. Dia akan mengatasinya sendiri.
"Pendekar datang membawa guci untuk minta derma? Baiklah, kami akan menderma. Nah, ini sumbangan kami, kiranya cukup banyak dan tidak kalah dibandingkan sumbangan para pemilik toko lainnya." kata pegawai itu seraya mengeluarkan dua potong uang perak dan memasukkannya ke dalam guci.
Suara nyaring dari dua potong perak itu menunjukkan bahwa guci itu masih kosong!
__ADS_1
Laki-laki tinggi kurus itu mengerutkan alis, matanya memandang beringas dan dia mengeluarkan dua potong perak itu dari dalam guci, dan mengamatinya.
"Kalian kira aku datang untuk mengemis? Aku bukan mengemis!" seru laki-laki itu yang lalu menekan dua potong perak itu ke atas meja kayu tebal dan potongan perak itu melesak masuk ke dalam kayu sampai rata dengan permukaan meja.
Melihat ini, para pegawai menjadi panik dan pengurus toko menjadi pucat mukanya. Akan tetapi, bagaimanapun juga, mereka adalah pegawai-pegawai dari seorang ahli silat yang terkenal, maka biarpun mereka tidak pandai silat, hati mereka cukup besar. Pengurus itu lalu memberi hormat pula.
"Aih, Sobat yang baik. Kalau memang kurang, biarlah kami tambah lagi. Berapa yang kaubutuhkan, pendekar?" tanya pegawai yang berani tadi.
"Penuhi guci ini dengan perak!" kata laki-laki itu adalah seorang jagoan besar dari Taigoan yang amat terkenal di dunia perilatan terutama sekali senjatanya berupa cambuk ekor sembilan dan cakar harimaunya.
Dialah seorang di antara mereka yang pernah memperebutkan anak naga di pusaran maut Sungai Kuning , akan tetapi telah gagal karena "anak naga" itu jatuh ke tangan Han Beng dan Hok Cu, dan Liu Bhok Ki.
Sebagian besar darah anak naga itu disedot dan diminum oleh Han Beng, sebagian lagi oleh Hok Cu, dan kepalanya dimakan oleh Hua Li sehingga dapat menyembuhkan luka beracun yang dideritanya.
Gan Lok adalah seorang jagoan, sebetulnya bukan seorang yang pekerjaannya merampok atau mencuri. Sama sekali tidak. Dia menganggap dirinya seorang pendekar yang ditakuti dan dia tidak mau melakukan pekerjaan rendah sehingga dia akan dicap perampok, pencuri atau penjahat.
Sekarang ini, dia membutuhkan banyak uang karena dia sudah merasa tua dan, ingin mengundurkan diri, hidup berkecukupan dengan uang yang dalam jumlahnya yang besar.
Kesempatan baik ini tidak disia-siakan dan pada pagi hari itu dia pun muncul di toko milik keluarga Sang dan menuntut uang sumbangan yang amat banyak.
Mendengar bahwa orang itu menuntut sumbangan perak seguci penuh, semua pegawai di toko itu terbelalak. Pengurus itu pun menjadi pucat wajahnya, dan maklumlah dia bahwa orang ini memang datang untuk mencari gara-gara.
Mungkin kalau separuh isi toko dijual, belum tentu bisa memenuhi guci itu dengan perak. Jumlah yang amat besar, cukup untuk modal berdagang sedikitnya tentu akan muat lima ratus tail.
"Aih, Sobat yang baik! Harap jangan main-main! Mana mungkin kami memberi sedekah sebanyak itu? Kami tidak mempunyai perak sebanyak itu!" kata pegawai yang tadi berani menghadapi Gan Lok.
Gan Lok mengerutkan alisnya dan suaranya terdengar marah penuh ancaman.
"Kalian ini pegawai-pegawai yang tidak tahu apa-apa, jangan banyak cerewet lagi. Penuhi guci ini dengan perak. Kalau kalian tidak memilikinya, panggil keluar Sang Cu . Dia yang harus memenuhi guci ini dengan perak murni, atau kalau tidak, toko ini akan kuhancurkan!" ancam Gan Lok.
__ADS_1
Mendengar ucapan ini, seorang pegawai muda yang pernah belajar silat menjadi marah. Dia berusia dua puluh lima tahun, tubuhnya tinggi besar dan dia memiliki tenaga tiga kali orang biasa.
Dia baru saja datang melaksanakan tugas luar dan mendengan ucapan itu, dia menjadi marah sekali.
"Hem, kau ini sungguh kurang ajar! Mana ada aturan orang minta-minta sumbangan melebihi rampok seperti itu? Hayo pergi kau!" seru pegawai baru itu.
Gan Lok mengerutkan alisnya dan suaranya terdengar marah penuh ancaman.
""Hem, engkau ini sungguh kurang ajar! Mana ada aturan orang minta-minta sumbangan melebihi rampok seperti itu? Hayo pergi kau!" bentak pegawai muda itu.
"Hemmm, kalau aku tidak mau pergi sebelum guci ini dipenuhi dengan perak, kau mau apa!" seru Gan Lok tersenyum mengejek, memperlihatkan giginya yang sudah banyak rusak.
"Aku.......akan melemparkanmu keluar seperti ini...!" seru Pegawwi muda itu menggerakkan dua lengannya yang besar dan berotot untuk menangkap pundak laki-laki tua yang tinggi kurus itu.
Gan Lok tidak mengelak sehingga kedua pundaknya dicengkeram pemuda itu yang mengerahkan tenaga untuk mengangkat tubuhnya dan dilemparkan keluar.
Akan tetapi, terjadi keanehan, sedikit pun tubuh yang tinggi kurus itu tidak bergerak walaupun Si Pemuda Tinggi Besar sudah mengerahkan semua tenaganya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1
... ...
... ...