Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 207


__ADS_3

"Saudara-saudara mundurlah semua. Biarkan aku yang menghadapi bocah sombong ini!" seru Hai Jin yang usianya sudah tujuh puluh tahun.


Melihat majunya pembantu utama dari Beng Cu, perwira itu yang merasa jerih kepada Han Beng memberi isyarat kepada anak buahnya dan pasukan itu pun memundurkan diri dan keluar dari ruangan itu.


Pada saat ini kakek pendek itu sudah berhadapan dengan Han Beng. Melihat kakek ini, Han Beng merasa seperti sudah pernah melihatnya, akan tetapi dia lupa lagi entah kapan dan di mana.


"Anak muda," kata Beng Cu dengan sikap yang penuh wibawa.


"Kau ini orang yang masih muda sekali akan tetapi sudah berani lancang mencampuri urusan orang lain! Siapakah namamu dan siapa yang menyuruhmu menjadi mata-mata di sini?" sambung tanya Beng Cu.


"Ma'af ya, sungguh aku merasa heran sekali. Kau juga seorang pendekar tetapi setidaknya berpakaian sebagai seorang pendekar Akan tetapi kenapa kau ikut pula mengotori tanganmu, dengan mengatur rencana permusuhan antara para biksu dan para pendekar sendiri!" seru Han Beng.


"Perlu kalian ketahui, kalau tidak ada yang menyuruh aku! Akan tetapi aku tadi melihat ketika para pensekar-pendekar palsu sudah menghadang para biksu, maka aku mengikuti pendekar-pendekar palsu itu kesini." sambung kata Han Beng.


"Kerang ajar! Dasar pemuda yang besar mulut. Kau tidak tahu bahwa engkau berhadapan dengan Hai Jin! Hayo cepat kau berlutut dan minta ampun baru mungkin aku dapat mintakan ampun untukmu kepada Beng Cu!" seru Hai Jin dengan geram.


Tiba-tiba Han Beng teringat, jika gurunya pertamanya yaitu Hua Li yang pernah menceritakan kepadanya siapa-siapa saja para tokoh dunia persilatan yang ikut memperebutkan anak naga di Sungai Kuning, bahkan kemudian memperebutkan dia dan Hok Cu karena dia dan Hok Cu telah menghisap darah anak naga.


Dan menurut guru yang pertama itu, di antara para tokoh dunia persilatan itu terdapat yang bernama Hai Jin dan kini dia mengingat dia dan peristiwa itu.


"Ah, kiranya pendekar adalah petualang yang dimana pun selalu mengejar keuntungan itu! Rupanya kita saling bertemu, pendekar! kurang lebih sepuluh atau sebelas tahun yang lalu, di tepi pusaran maut Sungai Kuning!" seru Han Beng.


Pendekar tua itu mengerutkan alisnya dan ia memandang dengan sinar mata penuh penasaran. Lalu dia menuding dengan telunjuk kirinya, sedangkan tangan kanan meraba gagang samurainya.


"Bagus! Kiranya engkau bocah penghisap darah naga itu, ho...ho...ho...! sungguh kebetulan sekali aku semakin tua dan membutuhkan sekali darahmu untuk obat kuat dan panjang umur!" seru Hai Jin dengan ciri khas tawanya.

__ADS_1


"Aha, jadi itukah bocah yang pernah kau ceritakan kepadaku, Hai Jin? Kalau begitu, tangkaplah dia untukku!" seru Beng Cu secara tiba-tiba dengan gembiranya, karena dia sudah mendengar cerita pembantunya itu tentang perebutan mustika dan darah naga di Sungai Kuning.


Maka setelah mendengar bahwa pemuda itu adalah anak yang menghisap darah naga, tentu saja dia tertarik sekali.


Hai Jin mengerutkan alisnya dan ingin dia menampar mulut sendiri. Kenapa dia membuka rahasia itu di depan Beng Cu.


"Beng Cu, aku....aku sudah tua dan loyo, amat membutuhkan darahnya..." ucap Hai Jin yang belum selesai, namun sudah di potong oleh Beng Cu.


"Bodoh! Darah itu kini telah menjadi banyak setelah dia dewasa, lebih dari cukup untuk kita berdua!" seru Beng Cu dengan geram.


Hai jin merasa terhibur juga. Ucapan itu menyatakan bahwa dia tentu akan mendapat bagian dari darah pemuda ini yang amat dia butuhkan. Maka terdengar suara berdesing dibarengi sinar berkilat menyilaukan mata ketika dia mencabut pedang samurai dari belakang punggungnya.


Han Beng sejak tadi sudah menyadari sepenuhnya bahwa dia memasuki tempat berbahaya. Oleh karena itu, ketika dia masuk tadi, dia sudah mematahkan sepotong dahan pohon sebagai tongkat untuk dipakai sebagai senjata.


Dengan potongan kayu sebesar lengan itu di tangan, dia bersikap tenang.


"Bocah sombong, aku membutuhkan darahmu!" seru Hai Jin yang kemudian menggerakkan pedangnya. Pedang itu panjang dan melengkung dan Hai Jin mempergunakan kedua tangan untuk memegang gagangnya dan menyerang.


Serangannya itu cepat dan kuat bukan main. Sungguh aneh permainan pedangnya itu, menggunakan kedua tangan. Akan tetapi, ketika Han Beng mengelak, pedang itu sudah datang lagi menyambar dari arah yang berlawanan.


Ternyata biarpun dia mempergunakan dua tangan, namun gerakan pedang itu tidak kalah cepatnya seperti kalau digerakkan oleh satu tangan saja.


Han Beng segera mengelak lagi sambil mulai memainkan tongkatnya. Dia telah mempelajari ilmu tongkat dari guru keduanya yang dinamakan "Tongkat Dewa Mabuk".


Tongkat di tangannya menyambar kacau, ringan gerakan miring dan kadang-kadang seperti tidak akan mengenai sasaran akan tetapi dengan gerakan menyerong itu ujung tongkat mengancam jalan darah yang berbahaya di tubuh lawan.

__ADS_1


Hai Jin sangat terkejut dan cepat memutar pedangnya untuk membabat tongkat yang hanya terbuat dari dahan pohon itu agar patah-patah. Namun, gerakan tongkat itu aneh sekali dan selain dapat menghindarkan setiap bacokan untuk disusul dengan pukulan atau totokan tongkat.


Hai Jin merasa penasaran dan dia memutar pedang semakin cepat sehingga nampaklah gulungan sinar pedang yang putih kemilauan, menyambar-nyambar dengan bunyi berdesing-desing.


Namun Han Beng selalu dapat mengelak dan tongkatnya yang sederhana berubah menjadi gulungan sinar hijau.


Semula pada dahan itu masih menempel beberapa lembar daun. Dan kini daun-daun itu sudah rontok, akan tetapi sebelum rontok, sudah berkesempatan untuk lebih dulu menyambar kearah tubuh Hai Jin.


Dua helai daun tadi telah menyambar dan menampar kedua pipi kakek itu. Hanya daun terbang, akan tetapi karena mengandung tenaga kuat, maka kedua pipi itu menjadi merah sekali.


Sementara itu Hai Jin memang amat hebat dengan pedang samurainya. Namun, dia sudah terlalu tua untuk berkelahi dalam waktu lama. Sebentar saja, tubuhnya sudah basah dengan keringat dan napasnya mulai terengah-engah.


Melihat keadaan pembantunya itu, diam-diam Beng Cu terkejut juga. Dia mengenal kepandaian kakek pendek itu yang cukup lihai. Akan tetapi melawan pemuda ini, belum juga dua puluh jurus lamanya, Hai Jin sudah terdesak dan terengah-engah.


"Bocah sombong, lihat seranganku!" Beng Cu dengan membentak.


Kakek tinggi besar hitam seperti raksasa itu sudah meloncat kedalam medan pertempuran, kedua lengannya diayun dan angin menyambar ke arah Han Beng yang pada saat itu sedang menahan pedang samurai lawan dengan tongkatnya.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2