Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 41


__ADS_3

"Benar, paman. Liu Hong adalah seorang pendekar yang lihai juga. Ia adalah murid dari Ban tok, si majikan Pulau Ular." jawab Hua Li.


  


"Majikan Pulau Ular?" tanya Sin Yang yang penasaran.


"Memang benar, paman." jawab Hua Li yang meyakinkan.


 "Ah, tentu Liu Hong itu lihai sekali karena dulu pun gurunya itu disegani para tokoh persilatan. Ceritamu semakin menarik, nona Hua. Maka lanjutkanlah!" seru Sin Yang.


Kemudian Hua Li melanjutkan ceritanya tentang tindakan Lim Bao yang menyerang Liu Hong'dan memaksa dia dan Liu Ceng untuk membantu mereka menemukan letak penyimpanan harta karun menurut petunjuk peta. Karena keselamatan Liu Hong yang terancam, terpaksa dia dan Liu Ceng memenuhi permintaan ini dan mereka berdua membantu Lim Bao untuk mencari harta karun itu.


"Akhirnya kami menemukan tempat penyimpanan harta karun itu dan dapat mengeluarkan peti harta karun. Dan saat ini harta b ucap Hua Li.


 "Ah, celaka!" seru Sin Lin yang merasa cemas.


 "Sayang sekali harta karun Kerajaan Sung itu terjatuh ke tangan jahanam itu!" lanjut seru Sin Lan yang menggerutu.


"Benarkah harta karun itu terjatuh ke tangan Lim Bao, nona Hua?" tanya Sin Yang dengan nada kecewa.


 "Tidak, paman. Ketika peta harta karun itu dibuka, tidak ada sepotong pun harta benda, yang ada hanya dua buah huruf di dasar peti itu yang berbunyi Anda belum beruntung." jawab Hua Li.


"Ha ..ha....ha....!" Sin Lin terkekeh senang dan geli.


"Rasakan engkau, jahanam Lim Bao!" seru Sin Lan


Ah, mengapa peti itu kosong? Dan bagaimana engkau dan dua orang gadis itu dapat meloloskan diri, nona Hua?" tanya Sin Yang yang penasaran.


 "Selagiim Bao dan kawan-kawannya merasa kebingungan, kecewa dan marah-marah, saya dan Liu Ceng larikan diri dan sebelumnya membebaskan Liu Hong dari penjara, kemudian kami bertiga melarikan diri" kata Hua Li.

__ADS_1


 "Hemm, ceritamu menarik sekali, nona Hua. Kiranya engkau seorang pendekar yang selalu menentang para pembesar Mongol yang bertindak sewenang-wenang dan yang jahat. Engkau tidak mengecewakan menjadi puteri angkat pendekar Hua Tian! Juga Liu Hong murid Ban-tok dan Liu Ceng putera pendekar Liu Bok itu amat mengagumkan! Beruntunglah tanah air kita yang kini dikuasai penjajah Mongol memiliki pendekar-pendekar muda seperti kalian bertiga. Selama masih ada pendekar-pendekar pejuang seperti kalian, aku yakin, cepat atau lambat, tanah air dan bangsa pasti akan dapat dibebaskan dari cengkeraman pemberontak Mongol!" ucap panjang lebar Sin Yang.


"Ah, ayah selalu melarang kami untuk keluar dari Lembah Seribu Bunga sehingga kami tidak dapat membantu para pendekar pejuang menentang orang-orang jahat macam Lim Bao!" kata Sin Lin yangh merajuk.


 "Nona Hua, lalu bagaimana dengan harta karun itu? Kukira kalau harta itu dapat diberikan kepada para pejuang, akan besar sekali manfaatnya bagi perjuangan menentang penjajah Mongol," kata Sin Lan.


"Benar apa yang dikatakan Sin Lan, Nona Hua, lalu bagaimana dengan harta karun itu?" tanya Sin Yang yang penasaran..


 "Tidak ada yang tahu di mana adanya harta karun itu, Toanio. Semua orang hanya menduga bahwa harta karun itu tentu sudah ada yang mengambilnya." ucap Hua Li.


Sin Yang memegang dagunya dan mengangguk-anggukkan kepalanya.


 "Memang itu merupakan satu-satunya kemungkinan. Lalu apa yang hendak kau lakukan, nona Hua?" tanya Sin ayang yang penasaran.


"Saya bermaksud pergi ke Thai-san dan menyelidikinya. Karena dibawah tulisan anda belum beruntung itu juga ada tulisan Thai San." ucap Hua Li.


"Hemm, setahuku yang berada di sana hanyalah aliran Perguruan Silat Thai-sani yang diketuai Patriak Thio Kong. Dia memang lihai sekali, juga dibantu dua orang adik seperguruan yang terkenal dengan sebutan sepasang Pedang Sakti dari Thai-san. Akan tetapi, aku sangsi apakah pendekar-pendekar di Thai-san itu mau melakukan pencurian. Thai-san adalah sebuah pegunungan yang besar dan luas, memiliki ratusan buah bukit dengan puncak masing-masing. Di sana tentu terdapat banyak pertapa berilmu tinggi yang mengasingkan diri atau bertapa." jelas Sin Yang.


"Ayah, aku ingin mencari harta karun itu di Thai-san!" tiba-tiba Sin Lin berseru kepada ayahnya.


 "Aku akan menemani adik Lin, ayah!" kata pula Sin Lan.


 "Kami berdua telah belajar silat dari ayah selama bertahun-tahun. Sekaranglah saatnya memanfaatkan ilmu itu. Kami juga ingin membantu para pejuang." ucap Sin Lin.


Sin Yang menghela napas panjang.


 "Kalau kalian berdua pergi, laIu bagaimana aku dapat hidup tenang seorang diri di sini? Sin Lan dan Sin Lin, bukannya aku melarang kalian pergi membantu para pendekar menentang penjajah Mongol, akan tetapi walaupun kalian pernah belajar silat dan sudah menguasai ilmu bela diri yang cukup kuat, kalian sama sekali belum berpengalaman. Di luar sana terdapat banyak orang jahat yang bukan saja memiliki ilmu kepandaian tinggi, akan tetapi terutama sekali yang berwatak curang dan penuh muslihat licik dan jahat. Bagaimana hatiku dapat tenang melepas kalian pergi mengembara?" ucap sin Yang yang merasa khawatir.


 "Ayah, di sini ada Nona Hua Giok yang sudah berpengalaman dan memiliki ilmu kepandaian tinggi. Dia tentu tidak keberatan kalau kami berdua membantunya mencari harta karun ltu. Nona Hua, apakah engkau berkeberatan kalau kami melakukan perjalanan bersama dan membantumu mencari harta Kerajaan Sung itu?" tanya Sin Lin yang menatap Hua Li dengan penuh harap.

__ADS_1


Tentu saja Hua Li tidak dapat menolak dan tidak berani mengatakan tidak mau atau keberatan. Jawaban demikian akan tampak sama sekali tidak sopan. Maka, walaupun dalam hatinya dia merasa ragu untuk melakukan perjalanan bersama dua orang gadis kembar itu, terpaksa dia menjawab.


 "Tentu saja aku tidak merasa keberatan, saudara Lin." ucap Hua Li yang menghela napasnya.


 "Nah, benar kan, Ayah! Kalau kami pergi bersama nona Hua, tentu ayah tidak akan merasa khawatir lagi, bukan?" desak Sin Lin.


"Adik Lin, jangan mendesak Ayah. Kalau ayah tidak setuju, kita tidak akan pergi," kata Sin Lan yang seolah bersikap sebagai pengendali adiknya itu..


"Tentu saja, kakak Lan! Kalau ayah percaya bahwa nona Hua pasti akan melindungi kita, dan kita sendiri pun mampu membela diri, tentu ayah menyetujui keinginan kita untuk berbakti kepada tanah air dan bangsa!" kata Sin Lin dengan gembira, lalu disambungnya dan sekali ini tiba-tiba suaranya terdengar sedih, bahkan seperti hendak menangis.


 "Akan tetapi kalau ayah tidak percaya kepada kita dan kepada Nona Hua, dan melarang kami pergi, biarlah kami akan menaati kehendak ayah, tidak akan meninggalkan Lembah Seribu Bunga ini sampai tua......" lanjut ucap Sin Lin yang belum selesai bicara, Sin Yang telah menahan tawanya dan tersenyum sambil memandang Sin Lin.


"Anak nakal! Macam-macam saja akalmu! Tidak perlu engkau merayu seperti itu, aku tentu akan mempertimbangkan semua keinginan kalian berdua......" ucap Sin Yang gemas.


  


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...


   "

__ADS_1


__ADS_2