
Dia sendiri mengajak para pembantunya untuk melarikan diri ke luar dari pekarangan perguruan Elang Sakti itu, masuk ke dalam pasukan yang masih berada di luar.
Para Murid perguruan Elang Sakti tidak berani mengejar karena jumlah pasukan yang berada di luar banyak sekali, sedangkan jumlah mereka yang kurang lebih enam puluh orang itu kini sudah berkurang, karena ada beberapa orang murid yang terluka, bahkan ada yang tewas, dalam pertempuran itu.
Mereka lalu mengurus jasad Ketua Thian Cu yang sudah menjadi arang, juga mengurus saudara-saudara yang tewas, dan merawat mereka yang terluka. Dan mereka tetap waspada dengan kemungkinan yang terjadi.
Rupanya panglima Ciong tidak tinggal diam, dia mundur hanya untuk mengatur siasat karena dia tahu betapa lihainya orang-orang perguruan Elang Sakti.
Kalau dia menyerbu dalam, akan sukar dapat mengalahkan para pendekar itu. Bertempur secara kucing-kucingan begitu tidak akan menang, karena dia tidak dapat mengerahkan pasukan untuk mengeroyok seperti kalau bertempur di tempat terbuka.
Jalan satu-satunya adalah memancing murid perguruan Elang Sakti dengan memaksa mereka keluar. Dan hal itu hanya dapat dilakukan dengan api, yang artinya membakar perguruan Elang Sakti.
"Siapkan barisan panah berapi!" teriak panglima Ciong.
Dan para pembantunya segera mereka persiapkan barisan panah berapi. Setelah mengatur pasukannya, panglima Ciong yang merupakan seorang ahli siasat perang itu lalu mengadakan penyerbuan.
Kali ini yang menyerbu perguruan Elang Sakti adalah anak panah-anak panah dan diantaranya banyak anak panah berapi. Sementara itu, para perwira mengepung di luar perguruan Elang Sakti.
Siasat mereka berhasil dengan baik, karena dalam waktu singkat perguruan Elang Sakti itu terbakar.
Tentu saja para murid perguruan Elang Sakti tidak mungkin dapat tinggal terus di dalam perguruan, dan mereka juga berusaha memadamkan kebakaran-kebakaran itu.
Namun mereka kalah cepat oleh api yang mulai berkobar besar di segala jurusan. Para murid itu menjadi kacau balau dan terpaksa berlarian keluar untuk menyelamatkan diri. Ketika mereka berada di luar, mereka disambut oleh pasukan pemerintah yang mengeroyok mereka.
Dan pada saat ini terjadilah pertempuran mati-matian antara para murid perguruan Elang Sakti yang membela diri untuk mempertahankan hidup mereka, dengan pasukan kerajaan yang dipimpin oleh panglima Ciong.
__ADS_1
Karena jumlah musuh yang terlalu banyak, namun para murid perguruan Elang Sakti ini sudah terlampau jeri sehingga kebanyakan di antara mereka menjadi nekat untuk bertempur sampai mati.
Ketika pendekar tua Hek Bin dan Pek Ji yang berlarian ke perguruan Elang Sakti mendahului yang lainnya, mereka berdua bertemu dengan Lie Koan dan lima orang adik seperguruqnnya.
Enam orang murid utama perguruan Elang Sakti ini dalam keadaan luka parah dan mereka segera menjatuhkan diri berlutut ketika mereka melihat pendekar tua Hek Bin yang mereka tahu adalah kakak seperguruan dan juga sahabat dari mendiang ketua Thian Cu.
"Kakak guru, malapetaka menimpa perguruan Elang Sakti!" seru Lie Koan Tek dengan keringat bercucuran bercampur air mata dan darah dari luka di lehernya.
Pendekar Tua Hek Bin mengangkat kepalanya memandang ke puncak bukit. Api berkobar besar di puncak sana dan dia dapat menduga apa yang terjadi.
"Oh, Tuhan! Perguruan Elang Sakti terbakar! Apa yang telah terjadi?" tanya Pendekar Tua Hek Bin yang merasa khawatir.
"Perguruan diserbu pasukan pemerintah yang jumlahnya besar dan dikepalai oleh panglima Ciong! Dimana dia yang ditemani seorang pendeta yang melaporkan bahwa kami adalah para pemberontak!" jelas Lie Koan yang memandang kepada Pek Ji dengan mata melotot penuh kemarahan
.
"Jangan membenci saudara Pek Ji, orang muda yang gagah. Karena baru saja pertikaian antara para pendekar aliran hitam dan para murid perguruan Elang Sakti sudah dapat dilerai dan didamaikan, berkat Kebijaksanaan saudara Pek Ji ini. Segala permusuhan antara kedua pihak mulai sekarang harus dilenyapkan!" seru Pendekar tua Hek Bin pada saat melihat sikap murid utama itu pada Pendekar Tua Pek Ji.
"Tapi kakak ketua! kebakaran perguruan Elang Sakti ini akibat serbuan pasukan pemerintah adalah karena hasutan mereka itu!" seru Lie Koan dengan geram.
"Jika itu benar demikian, kalian tidak boleh lalu memusuhi semua pendeta dan pendekar aliran hitam. Karena kesalahan seseorang tidak boleh dijadikan alasan untuk membenci semua golongannya. Itu tidak adil namanya. Kesalahan seseorang adalah tanggung jawab orang itu sendiri, bukan tanggung jawab pasukannya, atau golongannya, atau sukunya, atau bangsanya. Kau lihat, itu para saudaramu datang bersama dengan para pendekar aliran hitam yang dimana mereka hendak membantu perguruan Elang Sakti." jelas pendekar tua Hek Bin.
Rombongan wakil ketua Thian Gi bersama para muridnya dan para pendekar aliran hitam yang tadinya menjadi musuh, datang ke perguruan Elang Sakti untuk membantu mereka.
"Lie Koan, apa yang terjadi Kenapa perguruan kita terbakar dan di mana saudaraku Ketua Thian Cu?" tanya wakil ketua Thian Gi dengan wajah yang khawatir.
__ADS_1
"Celaka kakak guru!" seru Lie Koan dan lima orang adik seperguruannya itu yang menangis.
"Perguruan dibakar, kami diserbu pasukan yang dipimpin oleh panglima Ciong dan ketua....ketua telah tewas membakar dirinya ...."
Kata Lie Koan dengan suara sedih lalu menceritakan semua yang terjadi.
"Jadi hanya kami berenam yang sempat lolos agaknya semua saudara kita telah tewas." kata Lie Koan yang menutup ceritanya dengan suara lirih.
"Oh, Tuhan...!" seru wakil ketua Thian Gi yang terbelalak, mukanya pucat sekali dan dia duduk bersimpuh dan menangis sejadi-jadinya.
Setelah wakil ketua Thian Gi itu berhenti menangis, Lie Koan lalu menceritakan tentang pesan terakhir ketua Thian Cu bahwa semua murid perguruan Elang Sakti tidak boleh memberontak, karena mereka adalah pendekar-pendekar yang menentang kejahatan dan membela rakyat jelata yang terrtindas.
"Betapa bijaksananya mendiang ketua Thian Cu. Saya s3nang mendengar kebijaksanaannya itu di saat terakhir hidupnya. Karena segala sesuatu sudah ada yang mengatur, sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Dan apa pun yang terjadi, semua itu sudah menurut garisnya yang benar,baik dan sempurna, walaupun akal budi kadang-kadang mengherankan semua itu. Jalan pikiran dan akal budi kita sama sekali tidak mampu untuk menjenguk inti dari arti yang paling meneluri dari setiap persoalan. Kita haya melihat kulitnya saja, luarnya saja dan kadang-kadang merasa betapa jangal dan tidak adilnya peristiwa yang terjadi. Kalau kita mampu menerima segala sesuatu, mengembalikan kepada kebijaksanaan dan kekuasaan Yang Maha Kuasa, maka tidak ada permasalahan apa pun juga," kata pendekar tua Hek Bin.
"Apa yang dikatakan oleh sahabatku si pendekar tua Hek Bin ini memang tepat sekali." kata pendekar tua Pek Ji yang menatap sahabatnya si pendekar tua Hek Bin.
... .~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...