Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 211


__ADS_3

Han Beng dengan semangat memberi hormat delapan kali sebagai tanda pengangkatan guru dan malam itu juga guru dan murid ini melanjutkan perjalanan menuju ke Thai-san.


...****...


Di tempat yang lain, ada seorang pemuda yang menangis sambil berlutut di depan kakek raksasa hitam yang duduk bersila di depannya, dalam sebuah pondok dibawah rumpunnya bambu.


Pemuda itu berusia kurang lebih dua puluh lima tahun. Tubuhnya sedang dadanya bidang dan wajahnya yang putih itu nampak tampan dan lembut. Rambutnya disisir rapi, dan pakaian yang seperti seorang pelajar itu pun terbuat dari sutera halus, rapi dan mewah, seperti seorang pelajar dari kota.


Dia terlihat seperti putera seorang hartawan atau seorang bangsawan. Hal itu terlihat dari rambutnya yang rapi, pakaian yang bersih, sepatu yang mengkilap, dapat dilihat bahwa dia seorang pemuda yang pesolek.


Sikapnya yang lemah lembut, dan hidungnya yang besar mancung, bibirnya yang merah penuh gairah, matanya yang dapat memandang dengan sayu, sungguh pemuda ini memiliki daya tarik yang amat kuat bagi wanita pada umumnya.


"Guru.... ah, Guru.....! kenapa guru begitu begitu tega menyuruh murid pergi dari sini? Semua perintah guru telah murid lakukan. Latihan-latihan yang teramat berat, sampai-sampai mempertaruhkan nyawa sudah murid laksanakan dengan baik dan semua itu untuk mentaati perintah guru. Dan sekarang guru menyuruh murid pergi!" seru pemuda itu seraya menangis. Sungguh mengherankan sekali.


Pemuda itu demikian gagah dan perkasa, akan tetapi kini dapat menangis seperti seorang anak kecil.


"Hong Lan, hentikan tangismu itu!" kata Kakek Raksasa yang bersila di depannya.


"Kau tahu, semua yang kaulakukan itu bukan hanya untuk mentaati perintahku, melainkan demi kepentinganmu sendiri! Selama ini kau sudah aku gembleng sampai habis semua ilmuku kuberikan kepadamu, bahkan ku buka rahasia menghimpun tenaga rahasia dengan jalan bertapa, semua itu untukmu! Kini kau miliki tingkat kepandaian yang tidak kalah olehku!" sambung kakek raksasa itu dengan berseru.


Mendengar ini, seketika pemuda itu menghentikan tangisnya dan dia memandang kepada gurunya sambil tersenyum.


"Benarkah guru? Benarkah tingkat kepandaian murid sepadan dengan guru?'' tanya pemuda itu dengan sikap manja seperti anak kecil.


Kakek itu berusia enam puluh tahun. Tinggi besar seperti raksasa. Tubuh yang kokoh kuat itu berkulit hitam, rambutnya yang tebal dan awut-awutan dan masih hitam, brewok di mukanya seperti singa persegi empat, dan matanya mencorong. Kakek ini bukan lain adalah Beng Cu.

__ADS_1


Setelah dikalahkan oleh Hek Bin dan anak buahnya dibasmi oleh Hek Bin. Kakek ini merasa kecewa, penasaran dan sakit hati sekali, akan tetapi, dia pun harus mengakui bahwa dia tidak akan mampu mengalahkan Hek Bin.


Maka untuk menghilangkan rasa malunya, dia melarikan diri dan bersembunyi di dalam pondoknya di Pegunungan Himalaya. Di tempat ini, dia bertemu dengan muridnya yang memang di suruh berlatih seorang diri di tempat sunyi itu.


Pemuda itu bernama Hong Lan. sendiri tidak tahu siapa ayah ibunya karena semenjak dia dapat mengingat tentang dirinya, dia sudah menjadi murid Beng Cu.


Gurunya itu hanya dikenalnya sebagai seorang kakek sakti yang bernama Beng Cu. Tadinya, dia dan gurunya tinggal di gua besar itu dan dia gembleng dengan berbagai ilmu. Guruya demikian sayang kepadanya sehingga bukan saja dia digembleng dengan ilmu silat, bahkan ketika dia berumur sepuluh tahun, dia diajak pergi ke sebuah dusun di kaki pegunungan, gurunya menyuruh dia mempelajari kesusastraan dari seorang sastrawan yang sedang mengasingkan diri.


Untuk keperluan muridnya, Beng Cu mendatangkan banyak orang pandai untuk mengajar muridnya. Sejak kecil pun muridnya itu disuruh menggunakan pakaian serba indah, pakaian pelajar dan sastrawan dan diajar pula berdandan diri sehingga selalu kelihatan gagah dan tampan seperti seorang putera bangsawan.


"Kau berdarah bangsawan, Hong Lan."


Hanya itulah keterangan yang selalu diberikan kepada muridnya kalau murid itu bertanya siapa orang tua. Ucapan ini mendatangkan kesan mendalam sehingga setelah dewasa, Hong Lan merasa bahwa dia seorang pemuda bangsawan, maka dia pun selalu ingin menyesuaikan diri dengan derajatnya dan lagaknya dia atur sehingga dia pantas menjadi seorang putera bangsawan seperti yang dia kenal dari bacaan kitab-kitab kesusastraan.


Setelah Hong Lan berusia dua puluh tiga tahun, dia telah menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah, memiliki banyak ilmu kepandaian, baik silat maupun sastra.


Dan dari hubungan ini, Hong Lan mulai mengenal bermacam kesenangan, di antaranya kesenangan hubungan dengan wanita.


Sejak menginjak usia belasan tahun saja dia telah diajak oleh teman-temannya untuk mendatangi wanita-wanita pelacur dan kesenangan ini kemudian menjadi kelemahan bagi Hong Lan.


Setelah dewasa selain tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah, juga menjadi seorang laki-laki pesolek dan cabul.


Hong Lan menjadi seorang pemuda yang mata ranjang yang tidak ketulungan lagi, setiap melihat wanita cantik yang agak lebih dari wanita biasa, berahinya akan timbul dan dia belum merasa puas kalau belum menundukkan wanita itu dan menyeretnya ke dalam pelukannya.


Jarang ada wanita yang mampu menolaknya, karena dia seorang pemuda yang tampan gagah perkasa, jantan, dan pandai sajak, pandai bernyanyi, pandai pula meniup suling, ahli merayu dan yang terakhir, royal dan banyak uang.

__ADS_1


Beng Cu tentu saja mengetahui akan kesukaan muridnya itu. Akan tetapi, dia sendiri seorang datuk yang sesat dan kesenangan seperti itu dianggapnya lumrah, bahkan dia merasa senang dan bangga mendengar betapa muridnya menjadi rebutan para perawan dusun dan kota.


Kesenangan seperti itu dianggapnya "menyehatkan" dan membuktikan bahwa Hong Lan benar-benar seorang 'laki-laki jantan. Dia tidak melarang atau menegur, bahkan tanpa malu-malu lagi dia mengajarkan semacam ilmu untuk menundukkan hati wanita.


Dalam bidang itu pun bagi Beng Cu terdapat ilmunya. Tentu saja Hong Lan menjadi semakin gila!


Dua tahun yang lalu, yaitu ketika Hong Lan berusia dua puluh tiga tahun, gurunya pergi meninggalkannya dan meninggalkan setumpuk latihan untuknya, latihan aneh-aneh untuk menghimpun kekuatan dan kesaktian.


Hong Lan yang memiliki kemauan keras dan keinginan uuk menjadi jagoan tanpa tanding, mlaksanakan semua petunjuk suhunya dan berlatih dengan amat tekunnya. Latihan yangmendekati ilmu hitam, yang amnt menyeramkan, seperti bertapa dalam tanah seperti mayat, di tanah kuburan, juga dilaksanakan sampai berhasil.


Maka ketika suhunya akhirnya muncul kembali, dua tahun kemudian, dia sudah menjadi seorang yang benar-benar lihai bukan main.


Akan tetapi, begitu gurunya datang dan memanggilnya lalu mengatakan bahwa sudah tiba saatnya bagi Hong Lan untuk meninggalkan tempat pertapa meninggalkan gurunya.


"Hong Lan, sekarang dengarlah baik-baik, aku akan bercerita kepadamu." kata Kakek yang bertubuh tinggi besar berkulit hitam itu.


Hong Lan yang kini sudah duduk bersila, berhadapan dengan gurunya, menganggukkan kepala dan mendengarkan penuh perhatian.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2