
Hok Cu meloncat dan melarikan diri ke laut, karena dirinya saat ini berada di tepi laut. Dan hanya itulah jalan satu-satunya.
"Mau lari ke mana kau? Ke laut? Ha ..ha....ha...! mana mungkin kau akan berdiam terus di lautan? Kesinilah manis dan mari kita bersenang-senang!" seru Siang Koan yang menertawakan Hok Cu, lalu mengejar gadis itu.
Hok Cu tidak peduli dan melihat betapa pemuda itu terus mengejarnya, ia pun lalu melarikan diri terus ke laut yang semakin dalam lalu ia pun berenang dan menyelam.
Sebagai seorang putera saudagar sekaligus bajak laut, tentu saja Siang Koan juga pandai berenang. Akan tetapi kepandaiannya dalam hal renang ini biasa-biasa saja, seperti orang biasa. Dibandingkan dengan Hok Cu, tentu saja dia kalah jauh.
Akan tetapi dia tidak tahu bahwa gadis itu adalah seorang ahli bermain dalam air yang amat pandai. Dia hanya tertawa dan menghadang di lautan yang agak pinggir, yang dalamnya hanya sebatas pinggangnya.
Setelah Hok Cu muncul kembali, pemuda itu tertawa bergelak.
"Ha...ha...ha....! Baiklah, akan aku lihat sampai berapa lama kau dapat bertahan di situ. Tahu tidak kalau air laut pasang begini, ikan-ikan hiu biasanya suka bermain-main ke tepi pantai? Awas, jangan-jangan kakimu yang mungil itu akan lenyap sebuah dicaplok hiu, nona manis!" seru Siang Koan yang masih dengan tawanya.
Berdebar rasa jantung di dada Hok Cu dengan ucapan pemuda itu, jika bukan sekedar menakut-nakutinya saja. Kalau sampai benar terjadi ada ikan-ikan hiu bermain-main di situ, celakalah ia.
Kemudian gadis itu mencari akal untuk mengalahkan pemuda yang nakal dan lihai itu, dan tiba-tiba ia menjerit.
"Aduh kakiku...! ah, kakiku yang kanan kejang... !" seru dalam hati Hok Cu yang mana dia menyelam dan muncul kembali dengan terengah-engah.
Raut wajahnya menunjukkan kesakitan. Tadinya, Siang Koan hanya mentertawakannya saja, mengira gadis itu berpura-pura.
Akan tetapi melihat betapa gadis itu gelagapan minum air laut, dan mukanya terbelalak ketakutan, tenggelam timbul, dia menjadi khawatir karena dia tahu bahwa kejang kaki pada saat berenang di laut amatlah berbahaya.
Apalagi kalau kekejangan itu menjalar ke perut. Dia melemparkan pakaian kering yang dipegangnya dan tanpa mebuka sepatunya atau jubahnya lagi, pemuda yang mengkhawatirkan gadis yang dicintainya itu tenggelam, lalu berlari ke depan dan meloncat ke dalam gulungan ombak dan berenang secepatnya menuju ke arah gadis yang mulai hanya agak ke tengah itu.
"Nona manis...! Pertahankan dengan kedua lenganmu agar tubuhmu tidak sampai tenggelam!" teriak Siang Koan yang memperingatkan Hok Cu.
"Tekuk pergelangan kakimu ke atas sekuat tenaga! jangan khawatir, aku datang menolongmu!" seru Siang Koan.
''Kakak! Cepatlah, aku tidak kuat lagi!" terdengar suara gadis itu yang memohon. Besarlah rasa hati Siang Koan mendengar gadis itu menyebutnya Kakak.
__ADS_1
Dengan penuh semangat Siang Koan memperepat renangnya menuju ke arah gadis yang tenggelam timbul itu.
Ketika dia sudah tiba dekat, tangannya menjangkau untuk menangkap lengan Hok Cu.
Akan tetapi tiba-tiba saja tubuh Hok Cu tenggelam dan lenyap! Tentu saja Siang Koan Tek menjadi gugup dan dia pun cepat menyelam untuk mencari gadis itu.
Pada saat itu, dia merasa betapa kakinya ada yang menangkap dan tubuhnya ditarik dengan kuat sekali ke bawah.
Di dalam air, Siang Koan hanya melihat bayangan yang panjang. Jantungnya berdebar tegang. Bayangannya akan ada ikan hiu yang menggigit kedua kakinya.
"Anehnya tidak ada rasa nyeri dan dia berusaha melepaskan tangkapan itu dengan mengguncang-guncang kedua kakinya.
Sia-sia belaka, tangkapan atau gigitan yang tidak nyeri itu tidak terlepas dan biarpun dia berusaha untuk menggunakan kedua lengan agar tubuhnya timbul kembali ke atas, usahanya juga gagal.
Apa pun yang telah menangkap kedua kakinya itu ternyata amat kuat dan tubuhnya terus ditahan sehingga tidak dapat naik ke atas.
Siang Koan menduga sambil menahan senyum, siapa lagi kalau bukan Hok Cu yang Bermain-main dengan dia. Gadis itu tadi tentu hanya pura-pura dan menjebaknya. Kini gadis itu memegangi kedua kakinya dan menahannya di bawah air.
Akan tetapi dia tidak khawatir, jika harus menahan napas di dalam air karena gadis itu pun sama saja. Dan tentu ia akan lebih kuat bertahan dibandingkan gadis itu.
Dia pun menahan napasnya, mengharapkan gadis itu akan cepat melepaskan kakinya karena tentu gadis itu tidak kuat bertahan terlalu lama dan akan melepaskan kakinya untuk muncul kepermukaan air dan bernapas.
Akan tetapi sekali ini, perhitungan Siang Koan meleset. Sampai lama sekali gadis itu belum juga mau melepaskan kakinya dan sudah menahan napas sampai dadanya terasa hampir meledak.
Dia tidak kuat lagi menahan dan saking takutnya mati kehabisan napas di dalam air, dia meronta sepenuh tenaga. Rontaannya ini berhasil.
Sebelah kakinya lepas dan dia pun menendang dengan kaki yang bebas itu ke arah tangan yang masih memegangi kaki yang ke dua. Akhirnya, pada saat terakhir di mana dia sudah terpaksa menelan air, kedua kakinya terlepas dan dia pun meluncur atas.
Begitu kepalanya tersembul keluar dari permukaan air, dalam keadaan hampir pingsan Siang Koan menghirup napas terengah-engah, dadanya nyeri. Dia tidak tahu bahwa Hok Cu juga menyembulkan kepala di belakangnya.
Gadis itu menghirup napas, tidak terengah-engah seperti Siang Koan, dan Hok Cu menyelam kembali dengan wajahnya tersenyum, matanya berkilat-kilat.
__ADS_1
"Ehhh, auuuppp....!"
Tubuh Siang Koan kembali terbetot ke dalam air. Dia meronta sekuat tenaga, kakinya terlepas dari pegangan Hok Cu, mukanya tersembul lagi dan dia gelagapan, bernapas dan tak dapat dihindarkan lagi ada laut memasuki perutnya.
"Eh, jangan nona manis....!" terima Siang Koan, akan tetapi kembali tubuhnya diseret ke bawah.
Terjadilah pergulatan di dalam air. Siang Koan berusaha muncul kembali, dan Hok Cu berusaha menyeretnya ke bawah.
Siang Koan gelagapan, beberapa kali dia minum air laut dan berusaha untuk melawan. Namun gadis itu sungguh lincah sekali di dalam air, seperti seekor ikan saja.
Tenaga Siang Koan makin lama semakin lemah akhirnya dia pun pingsan. Diseretnya tubuh pemuda yang pingsan itu ke tepi.
Hok Cu menyeretnya dengan menjambak rambutnya dan membiarkan muka pemuda itu terapung menengadah. Setelah tiba di pantai, sampai berada di atas pasir pantai lalu ditelungkupkan dan diinjak punggung bagian perut pemuda itu.
Banyak air keluar dari mulut dan hidung pemuda itu sehingga perutnya yang tadinya menggembung menjadi kempis kembali.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1