
Mereka tiba ditempat tadi, dimana Hua Li masih dikeroyok banyak orang.
Gadis berpakaian serba putih itu mengamuk dan biarpun para tokoh dunia persilatan mulai mengeroyoknya dengan senjata di tangan, Hua Li melawan hanya untuk menjaga diri dan melindungi Han Beng saja.
Dengan menggunakan ranting pohon, dia menghalau semua senjata, merobohkan beberapa orang tanpa bermaksud membunuh mereka.
Tiba-tiba terdengar suara ketawa merdu.
"Hi....hi...hi...! kalian ini semua adalah orang-orang dunia persilatan yang tolol. Lihat baik-baik, anak laki-laki itu telah terluka oleh kuku tanganku. Dia sudah keracunan dan siapa pun yang mendapatkan dia, hanya akan melihat dia mati dengan daging dan darah yang membusuk. Darahnya tidak ada gunanya lagi bagi siapapun juga. Hanya aku yang dapat mengobatinya. Untuk apa kalian masih memperebutkan dia!" seru Mo Li.
Mendengar ini, semua orang tertegun dan menahan senjata mereka. Kalau benar apa yang dikatakan wanita iblis itu, maka memang tidak ada gunanya memiliki bocah itu.
Lagi pula mereka tadi memang melihat Kian Beng ditampar oleh wanita iblis itu. Demikian pula dengan Hua Li yang menjadi tertegun, lalu dia menghampiri Kian Beng.
Gadis itu melihat memang ada bekas tapak tangan menghitam di leher anak itu, dan ada guratan kuku yang lebih hitam lagi, wanita iblis itu tidak berbohong.
Akan tetapi, dia merasa semakin kasihan kepada Kian Beng dan bermaksud untuk menolongnya, dan untuk berusaha mencarikan obatnya kalau benar anak itu terancam racun maut.
Maka, dia lalu mengangkat tubuh Kian Beng dan hendak memapahnya dan bocah itu membuka mata.
"Jangan takut, rangkul leherku kuat-kuat dan aku akan melindungimu dari mereka." bisik Hua Li.
Kian beng memang sudah menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Hua Li semenjak dia melihat gadis ini diatas perahu. Tadi dia melihat pada saat gadis pendekar ini membelanya mati-matian maka dia pun menurut saja, dan dia merangkul pundak dan leher gadis pendekar itu.
Sambil memutar rantingnya, Hua Li hendak melarikan Han Beng, akan tetapi para tokoh dunia persilatan tidak membiarkan dia lolos begitu saja.
Mereka ini menghadang dan mengepung sehingga kembali terjadi perkelahian sambil memapah tubuh Kian Beng. Bocah ini tidak tinggal diam.
Biarpun dia dipapah, kedua tangannya tidak mau tinggal diam dan setiap kali ada lawan yang dekat, dia berusaha memukul dengan kedua tangannya yang masih mengeluarkan hawa panas.
Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa bergelak.
"Ha...ha...ha..! Sungguh lucu sekali! kalian ini pendekar tapi seperti anjing-anjing kelaparan yang memperebutkan tulang! karena nafsu yang menyala-nyala lupa akan kegagahan sehingga main keroyok seperti ini! Sungguh tidak tahu malu dan aku tidak boleh membiarkan begitu saja!" seru suara laki-laki yang mengandung tenaga dalam yang luar biasa.
__ADS_1
Lenyaplah suara ini digantikan munculnya seorang laki-laki tua yang pakaiannya penuh tambalan, bertubuh tinggi kurus seperti orang kurang makan, namun wajahnya selalu gembira dan tangananya memegang sebatang tongkat butut.
Begitu dia muncul, dia mengobat-abaitkan tongkat bututnya, menghantam sana-sini dan orang-orang yang mengeroyok Hua Li menjadi kacau balau.
Tongkat butut ini lihai bukan main. Ke mana pun menyambar, sukar dielakkan atau ditangkis karena gerakannya memukul dan biarpun ditangkap, tongkat itu dapat menyelinap, luput dari tangkisan lawan namun tetap saja mengenai sasaran.
"Bagh...bugh...bagh...bugh...!"
Terdengar suara bak-bik-buk karena ada saja punggung, pinggul atau kaki orang yang kena gebuk.
Melihat munculnya kakek berpakaian pengemis ini, Hua Li menjadi senang.
"Ketua, terima kasih atas bantuanmu!" katanya sambil memutar rantingnya semakin cepat untuk mencari jalan keluar.
"Ha ..ha ..ha...! pendekar kecapi, begitu muncul engkau menggegerkan dunia persilatan! kau tahu, tidak ada pohon tak berbunga, tidak ada perbuatan tanpa pamrih! Ha...ha...ha ..!" seru laki-laki itu.
Sambil menangkisi senjata para pengeroyok dengan rantingnya, Hua Li mengerutkan alisnya. Betapa bodohnya dia mengira bahwa Ketua Pengemis ini mau membantunya tanpa pamrih.
"Apa mau-mu Kwe Ong!" seru Hua Li
Hua Li mengenal baik dengan ketua Pengemis itu yang amat terkenal karena dia berhasil merajai semua perkumpulan pengemis, termasuk perkumpulan pengemis tongkat merah dan dapat mencegah para pengemis menjadi penjahat-penjahat.
Kwe Ong juga memberi bimbingan kepada para pengemis, sehingga banyak diantara mereka itu yang dapat kembali ke masyarakat sebagai orang-orang berguna. Bahkan semenjak dia menjadi ketua pengemis, bermunculanlah pengemis-pengemis yang lihai dan berjiwa pendekar.
"Baiklah, aku berjanji!" seru Hua Li.
"Ha...ha...ha...! janji seorang pendekar kecapi takkan berubah walaupun langit runtuh dan bumi kiamat! Nah, bawalah pergi anak itu, biar aku yang menghadapi mereka ini!" lanjut seru Hua Li.
Melihat majunya ketua pengemis yang membantu Hua Li, orang-orang dunia persilatan menjadi jerih dan mereka pun tidak mempunyai harapan lagi untuk merampas Kian Beng, apalagi mendengar ucapan Mo Li bahwa darah anak itu telah keracunan hebat oleh kuku tangan iblis betina itu.
Mereka pun mundur, bahkan sebagian besar dari mereka pergi, ada pula yang merawat teman yang terluka dalam pertempuran tadi.
Mo Li yang masih merasa penasaran, sambil memondong Hok Cu, melompat dan hendak mengejar Hua Li.
__ADS_1
"Mau lari kemana kau? Serahkan dulu bocah itu kepadaku!" bentaknya, dan begitu kipasnya mengebut, ada belasan batang jarum hitam beracun menyambar ke arah Hua Li dan Kwe Ong.
Dengan cepat Hua Li memutar ranting pohonya dan melompat ke samping, demikian pula Kwe Ong yang terkekeh dan tongkat bututnya memukul kesana-sini meruntuhkan semua jarum hitam yang mengarah padanya.
"He..he...he...! Iblis betina selaksa racun, kini semakin cantik akan tetapi juga semakin beracun dan kejam! He...he...he...., orang lain hanya berambut pada kepala dan beberapa tempat lagi di luar tubuh, akan tetapi agaknya kau lain, di dalam hatimu juga berbulu, berambut. Kau ini suka membunuh orang seperti membunuh semut saja!" seru Kwe Ong diantara suara terkekehnya.
"Pengemis busuk, kau juga akan kubunuh!" bentak Mo Li dengan geramnya.
Ia mengenal ketua pengemis ini yang amat lihai, maka kini ia menyerang dengan gencar-gencarnya mengerahkan seluruh tenaganya.
Pedangnya menyambar dengan dahsyat dan ketika Kwe Ong meloncat jauh kebelakang, dari kipasnya menyambar sinar hitam dengan cepat sekali.
Ketua pengemis Kwe Ong memutar tongkat butut dan mengelak, akan tetapi tiba-tiba tubuhnya terguling, jatuh miring di atas tanah. Ternyata ada satu dua batang jarum beracun yang mengenai tubuhnya, maka dia pun tak mampu bangkit kembali.
"Huh...!"
Mo Li mendengus dan mencibir. Kiranya hanya sekian saja kelihaian orang yang disebut ketua Pengemis itu.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1