Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 192


__ADS_3

Guru Hok Cu itu teringat ketika muridnya itu pernah menentang akan dikorbankannya dua orang muda, maka siapa lagi kalau bukan muridnya yang kini menghalangi hendaknya dan membebaskan dua orang muda itu.


Malam tadi ia pun sudah melakukan pengejaran, akan tetapi karena malam gelap, ia pun menunda pengejarannya sampai keesokan harinya. Bersama Lui Seng ia melakukan pengejaran secepatnya.


Tidak sukar bagi dua orang datuk yang berpengalaman ini untuk menemukan jejak langkah tiga orang itu dan mengejar secepatnya sehingga akhirnya mereka dapat menyusul Hok Cu bersama dua orang muda yang hendak dibebaskannya.


"Hok Cu, apakah kau hendak melawan dan memusuhi gurumu diri? kau membakar gudang dan membawa lari dua orang tawananku kau hendak menentang aku, ya?" bentak Mo Li yang marah sekali dan pandang matanya kepada muridnya yang biasanya penuh kasih sayang itu kini panas membakar, penuh kebencian.


Hok Cu tahu itu,tapi ia tidak berdaya. Yang dikhawatirkannya terjadi dan ia menyesal sekali kenapa dua orang yang coba ditolongnya itu demikian lemah sehingga tidak mampu berlari cepat, dan ia pun melirik ke arah biksu gendut itu penuh sesal, seolah-olah sinar matanya menyalahkan biksu itu yang menghambat pelariannya.


Mau tak mau Hok Cu harus menghadapi gurunya, dan dia siap untuk menerima hukuman apapun juga tanpa takut.


"Aku tidak menentang guru, akan tetapi aku menentang tindakan guru yang terbujuk orang jahat dan kejam, yaitu dia itu!" seru Hok Cu seraya menuding ke arah Lui Seng..Tanpa sadar guru membunuhi orang-orang muda tanpa dosa secara tidak tahu malu. Aku hanya ingin mencegah guru untuk tidak melakukan kekejian seperti itu, karena itu aku sengaja membakar gudang dan mencoba melarikan korban-korban ini. Sebab, kalau membujuk guru dengan kata-kata halus tentu akan percuma saja!" jelas Hok Cu dengan panjang.


 "Hok Cu! Selama lima tahun lebih aku mendidikmu, merawatmu seperti anak sendiri, dan inikah balasanmu kepadaku? Apakah kau sudah bosan hidup? Kau ingin melihat aku membunuhmu!" seru .o Li yang geram sekali.


"Jangan kau bunuh Mo Li, sayang kalau dibunuh. Serahkan saja padaku dan aku dapat menjinakkan anak manis inil" seru Lui Seng sambil menyeringai dan memandang Hok Cu dengan sinar mata yang amat dibenci gadis itu.


"Guru aku lebih suka seratus kali kau bunuh dari pada menyerah kepada iblis busuk itu!" bentak Hok Cu sambil memandang kepada Lui Seng dengan kedua mata penuh kebencian.


Hok Cu amat membenci Lui Seng karena orang itulah yang telah merusak gurunya, membuat gurunya menjadi seorang yang amat kejam. Memang tadinya ia pun tidak dapat mengatakan bahwa gurunya seorang baik baik, akan tetapi setelah gurunya menjadi pengikut Lui Seng, menjadi penyembah patung sesembahan. Yang membuat gurunya menjadi semakin kejam.


"Keparat!" maki Mo Li pada muridnya.


"Seekor anjing pun akan memiliki kesetiaan kalau diberi makan setiap hari, akan tetapi engkau, yang kuperlakukan sebagai anak sendiri dan murid, kini malah hendak menentang aku. Engkau lebih rendah daripada seekor anjing! Lui Seng, kuserahkan ia padamu!" seru Mo Li.


Mendengar ucapan gurunya itu, Hok Cu menjadi marah bukan main. Bukan marah oleh makian itu, melainkan marah karena ia diserahkan kepada pria yang amat dibencinya itu.


"Ha...ha...ha...! Terima kasih Mo Li!" seru Lui Seng dengan girangnya seraya menatap Hok Cu dengan beringas.

__ADS_1


"Kau Lui Seng keparat jahanam! kau hanya akan dapat menjamahku setelah aku menjadi mayat!" bentak Hok Cu dan kemudian dia memasang kuda-kuda dan siap untuk melawan Lui Seng secara mati-matian.


"Ha...ha...ha...!"


Lui Seng tersenyum gembira. Hatinya girang bukan main. Sudah lama dia tergila-gila kepada gadis remaja yang bagaikan setangkai bunga sedang mulai mekar ini.


Akan tetapi, dia tidak berani karena gadis itu murid Mo Li, dan sekarang, dalam kemarahannya Mo Li telah menyerahkan gadis itu kepadanya.


"Hok Cu, kau cantik dan segar bagaikan seekor kuda betina liar yang amat berharga untuk ditundukkan, kau akan menjadi kudaku yang cantik yang jinak, yang penurut akan tetapi juga kudaku yang kuat dan liar! Ha....ha....ha....! manis, pandanglah aku. Aku bukan musuhmu, aku sahabat baikmu dengan niat hati yang baik. Senyumlah padaku dan jangan memusuhi aku, sayang...!" racau Lui Seng yangencoba merayu Hok Cu.


Suaranya mengandung getaran aneh dan sungguh luar biasa sekali. Tarikan wajah yang penuh kebencian itu perlahan-lahan lenyap dari muka Hok Cu.


Pandang matanya berubah sedikit demi sedikit, menjadi redup seperti api mulai kehabisan minyak, dan mulutnya mulai tersenyum.


"Amithaba...!"


"Kekuasaan iblis selalu ada saja di mana-mana mengganggu kehidupan manusia. Nona Kecil, mundur lah!" seru Biksu tua itu yang tiba-tiba saja, seolah-olah kepala Hok Cu disiram air dingin.


Hok Cu sadar akan keadaannya dan ia terkejut sekali. Pada saat itu, tangan Lui Seng sudah dijulurkan untuk menangkapnya akan tetapi mendadak tubuh Hok Cu tertarik kebelakang.


Kiranya tangan hwesio bermuka hitam telah mencengkeram leher bajunya dan menarik tubuh Hok Cu ke belakang.


"Nona, engkau jagalah baik-baik ke dua orang muda itu, dan biarkan saya yang akan menghadapi mereka yang sesat ini!" seru Biksu tua itu.


Hok Cu bukan seorang gadis remaja yang bodoh. Ia tahu bahwa Biksu muka itam itu tentu seorang yang sakti, dan Ia sadar pula bahwa kalau ia maju serang diri, ia tidak akan mampu menandingi gurunya sendiri dan Lui Seng.


Tentu saja, secara aneh ia sudah hampir tertawan. Karena itu, ia pun cepat menghampiri dua orang muda yang masih berlutut, dan ia pun berdiri di belakang mereka, siap melindungi mereka.


Matanya memandang ke arah hwesio muka hitam dan dua orang calon lawannya dengan hati berdebar tegang. Ia maklum benar betapa lihainya gurunya, juga betapa lihainya Lui Seng.

__ADS_1


"Mampukah biksu tua renta muka hitam itu menandingi guru dan Lui Seng?" gumam dalam hati Hok Cu.


Melihat Biksu tua renta bermuka hitam itu berani melindungi Hok Cu dan menentang mereka, Lui Seng mengerutkan alisnya.


Lui Seng melangkah maju menghadapi Biksu itu, dan Mo Li mendiamkannya saja. Karena dia hendak melihat dulu sampai di mana kekuatan biksu tua renta itu.


Lui Seng juga ingin menghadapi Biksu itu dengan perbantahan dan ilmu sihir, maka begitu berhadapan dekat dengan Biksu itu.


Kemudian Lui Seng menegur biksu tua itu dengan suara lantang.


"Hei kau biksu dari kuil manakah, dan tahukah kau siapakah kami berdua ini?"


"Perlu kau ketahui kalau aku Lui Seng dan dia Mo Li, mohon biksu bisa memperkenalkan diri kepada kami!" sambung Lui Seng seraya mengarahkan tangan kanannya pada Mo Li, sebagai petunjuk.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...


... ...


   

__ADS_1


__ADS_2