
Banyak air keluar dari mulut dan hidung pemuda itu sehingga perutnya yang tadinya menggembung menjadi kempis kembali.
Hok Cu mengamati sebentar pemuda itu masih bernapas, biarpun terengah-engah. Dia tidak akan mati, pikir Hok Cu dengan hati lega dan puas. Lega karena ia telah berhasil lolos dari gangguan pemuda itu, dan puas karena ia telah mampu membalas dan memberi hajaran tanpa harus membunuh pemuda ini.
Kemudian la segera mengambil pakaian keringnya dan dibelakang sebongkah batu besar, ia berganti pakaian. Ketika melihat bajunya yang robek di bagian dada dan karena pergulatan di lautan tadi robeknya menjadi semakin lebar sehingga nampak sebagian dadanya, wajahnya berubah merah dan ia menjadi marah kembali kepada Siang Koan.
Pemuda itu sungguh kurang ajar, pikirnya. Setelah ia berganti pakaian kering, teringat akan perbuatan pemuda itu yang hampir menelanjanginya, ia lalu menghampiri pemuda yang masih belum sadar betul itu, dan beberapa kali ia mencengkeram ke arah pakaian lalu merenggutnya.
Kemudian Hok Cu meninggalkan Siang Koan dalam keadaan hampir telanjang dan tengah pingsan di tempat itu.
Ketika Hok Cu pulang menuju ke kota Ceng-touw, ia harus melalui sebuah jalan yang sunyi dan berbukit. Tempat sunyi ini biasanya menjadi tempat berkumpul para nelayan untuk membetulkan jala dan menjemur jala. Hok Cu terus berjalan dengan tetap waspada.
Ia tidak tahu bahwa semenjak di pantai tadi, ada empat pasang mata yang menyaksikan semua yang terjadi, bahkan ketika ia berganti pakaian di belakang batu besar, empat pasang mata itu mengintainya dengan pandang mata penuh nafsu iblis.
Selagi Hok Cu berjalan santai di tempat yang sunyi itu, tiba-tiba nampak empat orang pemuda berloncatan dari balik sebuah gubuk.
Hok Cu mengerutkan alisnya ketika ia mengenal empat orang pemuda yang seperti juga Siang Koan, menjadi tamu dari gurunya. Tidak seperti Siang Koan yang datang bersama ayahnya, empat orang pemuda ini adalah murid-murid dari dua orang tokoh dunia persilatan yang juga terkenal dan menjadi rekan gurunya.
Ia malah sudah diperkenalkan dengan mereka dengan guru-guru mereka. Pemuda yang kurus kering dengan muka pucat berusia dua puluh tahun itu bernama San Bo, dan pemuda yang mukanya tampan akan tetapi bopeng itu bernama Tek Su. Mereka adalah murid dari Ban Sian, seorang tokoh dunia persilatan yang amat terkenal pula.
Ban Sian seolah-olah menjadi raja kecil, raja kaum sesat dan berkuasa di daerah Pegunungan Liong-san, di mana dia hidup sebagai seorang yang berkuasa dan kaya raya, dengan rumah gedung yang didirikannya di puncak sebuah bukit di pegunungan itu.
Dia berusia kurang lebih lima puluh tahun, tubuhnya tinggi besar seperti raksasa, dengan mata lebar mulut besar dan mukanya berbentuk segi empat.
Dua orang pemuda yang lain bernama Siok Boan, yang bertubuh gendut degan muka seperti kanak-kanak, dan Poa Kian yang pendek dengan hidung pendek pesek pula. Mereka ini murid dari Lui Seng yang berjuluk Golok Besar Penakluk Harimau, seorang berusia lima puluh tahun dan terkenal sebagai seorang perampok tunggal yang ditakuti.
Melihat empat orang pemuda ini tiba-tiba muncul dan menghadangnya, Hok Cu mengerutkan alisnya. Seperti juga Siang Koan, empat orang pemuda yang menjadi tamu gurunya ini bersikap amat manis kepadanya, terlalu manis bahkan menjilat-jilat dan jelas merayu, kadang-kadang kurang ajar.
__ADS_1
Mengingat akan pengalamannya yang baru saja mengancam keselamatannya, Hok Cu yang tidak ingin pula mengalami hal tidak enak di tempat sunyi itu, lalu tersenyum manis dan menegur mereka lebih dulu.
"Selamat pagi para kakak! hendak pergi ke manakah?" sapa Hok Cu dengan ramah.
Dalam pandangan mata empat orang pemuda ini, mereka yang masih teringat akan penglihatan tadi seolah-olah gadis itu berdiri di depan mereka tanpa pakaian.
"Adik Hok Cu, kau tampak segar dan cantik jelita, juga rambutmu masih basah. Dari manakah kau?" tanya Siok Boan sambil tersenyum simpul.
Biarpun hatinya mendongkol oleh puji-pujian yang sifatnya merayu ini, namun Giok Cu menahan sabar dan ia pun menjawab, suaranya masih lincah dan manja.
Digerakkannya kepalanya agar rambut yang terurai basah itu pindah ke atas pundak bagian depan, terjuntai panjang sampai ke perutnya, kemudian jari-jari tangannya mempermainkan ujung rambut yang halus itu.
"Aku baru pulang dari mandi di laut. Kalian hendak ke manakah?" tanya Hok Cu yang menatap satu persatu dari empat pemuda itu.
"Mandi di laut? Dengan siapakah, nona Manis?" tanya San Bo yang kurus kering dan mukanya pucat seperti orang berpenyakitan, bahkan kakinya melangkah maju mendekat. Melihat ini Giok Cu melangkah mundur, seolah tak disengaja.
"Dengan siapa? Tentu saja seorang diri, dengan siapa lagi?" jawab Hok Cu dan empat orang itu tertawa bersama dan Giok Cu memandang dengan alis semakin berkerut.
"Kenapa kalian tertawa?" tanya Ho Cu yang mulai marah.
"Ha....ha....ha....!" suara tawa Tek Su yang tampan akan tetapi bopeng itu.
"Kau mandi sendiri saja, adik manis? bagus, lalu siapa itu pemuda yang bergelut denganmu di lautan sampai hampir mampus dan yang kau telanjangi tadi? Sesudah itu kau berganti pakaian di belakang batu besar?" tanya laki-laki itu yang tentu saja membuat wajah Hok Cu berubah memerah.
"Kalian...! kalian melihat itu semuanya!" seru Hok Cu dengan geram.
"Kami pun ingin kau telanjangi juga adik cantik!' goda San Bo.
__ADS_1
"Ternyata tubuhmu, wow.....! Aduh hai...! Ha...ha...ha...!" lanjut goda Tek Su.
"Kurang ajar...! bedebah kalian semuanya...!" bentak Hok Cu yang entah dari mana datangnya tenaga dalam yang dahsyat keluar dari tubuhnya.
Dengan sekali putaran keempat laki-laki itu terhempas ke belakang dan jatuh ke tanah.
Dan ketika keempat laki-laki itu kembali hendak bangkit, sekali lagi Hok Cu melakukan putaran itu, dan keempat laki-laki itu kembali terhempas. Pada akhirnya mereka semua tak sadarkan diri.
Kemudian Hok Cu dengan jurus meringankan tubuh yang dimilikinya, melesat dengan cepat meninggalkan tempat itu.
Satu jam kemudian keempat laki-laki itu siuman dan bangkit dari posisi mereka. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan sesuai tujuan semula, yaitu ke kota Ceng-touw.
Ketika mereka tiba di hutan terakhir, dekat dengan kota Ceng-touw, hutan yang kecil saja namun sunyi, terdengar lagi suara San Bo yang mengeluh.
"Saudara Siok Boan, harap kau jangan bersikap pelit seperti itu. Gadis ini tidak urung akan dikorbankan, kenapa tidak boleh kami pinjam sebentar saja?" tanya San Bo yang menghentikan langkahnya.
"Benar sekali! Sayang ia dikorbankan begitu saja, biarkan kami berdua menikmatinya kalau kalian berdua tidak mau!" seru Tek Su yang mukanya bopeng mendukung saudara seperguruannya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...