
Mereka memang berjuluk Lima naga dari Bukit Hijau yang memang sudah terkenal sebagai jagoan-jagoan yang berkepandaian tinggi.
Sebetulnya, mereka bukanlah segolongan laki-laki rendah yang suka menggoda wanita, akan tetapi sekali ini mereka iseng karena melihat keadaan wanita itu yang juga luar biasa. Mereka sudah dapat menduga bahwa wanita ini bukan wanita sembarangan, dan memiliki kecantikan yang aneh, juga kemunculannya di situ seorang diri, maka hati mereka tertarik dan mereka mendekati untuk berkenalan dan sekedar iseng sambil menanti datangnya saat yang menegangkan dan mendebarkan hati itu.
Kini, wanita itu memaki mereka dan mengusir mereka begitu saja! Hal ini membuat wajah mereka berubah merah dan seorang tertua diantara mereka, yang kepalanya botak sampai hampir gundul, membentak.
"Heh, perempuan tak tahu diri! Tahukah kau siapa kami? Kami adalah Lima Naga dari Bukit Hijau dan kami menegurmu secara baik-baik. Bagaimana kau berani mencaci dan menghina kami? Apakah nyawamu sudah rangkap lima?" tegur salah satu laki-laki dari Lima Naga dari Bukit Hijau itu.
Wanita itu mempercepat kebutan kipasnya pada leher, seolah-olah ia semakin gerah.
"Sekali lagi bicara, kau akan mampus!" kata wanita itu dengan sinis.
Melihat sikap wanita itu, empat orang diantara Lima Naga dari Bukit Merah agaknya menjadi gentar juga. mereka tahu bahwa di dunia persilatan ada suatu hal yang harus mereka perhatikan, yaitu harus berhati-hati, apabila berhadapan dengan orang yang kelihatannya lemah. Karena yang nampaknya lemah ini juteru amat berbahaya. Kalau mereka ini sudah berani berkeliaran di dunia persilatan, berarti bahwa mereka tentu sudah memiliki tingkat tinggi dalam ilmu silat.
"Sudahlah, mari kita pergi saja," ajak empat orang itu kepada sudara tertua mereka.
Akan tetapi si Botak itu masih penasaran. Dia dihina di depan adik-adiknya, bahkan diluar kedai itu sudah berkumpul banyak orang yang ikut pula mendengar ketika dia diancam tadi. Sekali lagi bicara, dia akan mampus.
"Tidak!" seru laki-laki botak itu ketika empat saudara berusaha membujuknya untuk pergi.
"Ia telah menghinaku! Wanita ini harus berlutut minta maaf, atau setidaknya ia harus mau memberi ciuman satu kali kepadaku, baru aku mau membebaskn dan memaafkannya!" lanjut seru laki-laki bidak itu.
Wanita itu menghentikan gerakan kipasnya, dan kini ia tidak lagi melirik, melainkan memandang langsung kepada si botak, dan ia pun tersenyum.
Wajahnya nampak lebih muda lagi, deretan gigi putih seperti mutiara nampak dan jilatan lidah merah muda pada bibir merah mengisaratkan tantangan yang panas.
"Aku lebih suka mencium daripada minta maaf," katanya dengan suara lembut, mulut tersenyum akan tetapi matanya mengeluarkan sinar dingin.
__ADS_1
Empat orang Naga dari Bukit Merak itu menjadi bengong. Mereka tadinya sudah mengkuatrkan kalau-kalau wanita itu akan melakukan penyerangan kepada Kakak tertua mereka, tidak tahunya wanita itu malah menyatakan bersedia untuk mencium kakak tertua mereka itu, yang tentu saja membuat mereka saling pandang dan menyeringai.
Si botak tersenyum bangga. Dia rasa menang dan mengira bahwa wanita cantik itu gentar menghadapinya, maka untuk menyombongkan kemenangannya diapun lalu menghampiri wanita itu.
"Marilah, manis, beri ciuman sekali kepadaku dan kau akan kami anggap sahabat baik! he...he...he....!" seru laki-laki botak itu seraya terkekeh.
Wanita itu tidak menjawab, melainkan mengembangkan kedua lengannya dan bangkit, lalu melangkah maju menyambut pria botak itu. mereka saling rangkul dan didepan banyak orang yang nonton dengan gembira, ada yang cekikikan ada pula yang menahan ketawanya, wanita cantik itu lalu mencium mulut si botak dengan mulutnya.
Ciuman itu mesra dan mengeluarkan bunyi, bahkan si pria botak merasa betapa wanita itu menjulurkan lidahnya, seperti lidah ular memasuki mulutnya.
Akan tetapi, suara cekikikan dan ketawa para penonton seketika terhenti ketika wanita itu melepaskan rangkulanya dan melangkah mundur.
Tiba-tiba pria botak itu terhuyung-huyung sambil berseru,
"Aduh..... aduh.....!"
Akan tetapi, pria itu terhuyung lalu terpelanting roboh tertelentang dan semua orang terkejut melihat betapa pria botak itu telah mati dengan mata melotot dan muka menghitam, bahkan kedua bibirnya membengkak besar.
Kalau orang-orang lain terkejut dan ngeri, empat orang sute dari si botak menjadi terkejut dan marah bukan main melihat kakak tetua mereka tewas setelah berciuman dengan wanita itu. mereka segera mencabut pedang dan kini mereka menyerbu wanita yang masih berdiri sambil tersenyum mengejek itu.
"Siluman betina mampuslah!" bentak mereka.
Akan tetapi, kini wanita cantik itu menyambut serbuan mereka dengan gerakan kedua lengannya yang cepat meluncur seprti dua batang anak panah terlepas dari busurnya, juga lengan itu seperti dua ekor ular. Tubuh wanita itu berkelebat diantara sambaran empat batang pedang dan terdengarlah teriakan-teriakan kesakitan disusul robohnya empat orang itu secara berturut-turut.
Sulit diikuti dengan pandang mata dan sukar pula mengetahui mengapa empat orang itu roboh. Akan tetapi mereka roboh untuk tidak bangkit kembali, dengan muka berubah menghitam dan membengkak, dan ternyata mereka berempat itu sudah tewas semuanya.
Setelah membunuh lima orang itu, dengan tenang sekali wanita cantik ini melemparkan mata uang keatas meja, lalu meninggalkan kedai itu dengan langkah tenang, lenggangnya menarik sekali, membuat kedua pinggulnya menari-nari di balik celana sutera yang ketat.
__ADS_1
Semua orang dengan cepat minggir memberi jalan kepada wanita itu dan ketika ia lewat, terciumlah bau harum yang menyengat hidung, harum bercampur amis, seperti bau ular.
Seorang diantara para penonton, seorang tokoh duniai persilatan yang berpengalaman, berbisik kepada temannya.
"Ia adalah si iblis betina Selasa Racun...".!"seru salah seorang penonton dan terdengar oleh penonton lain dan mereka pun bergidik.
Nama Iblis Betina Selaksa Racun tentu sudah pernah didengar karena nama ini terkenal di dunia persilatan. Iblis Betina Selasa Racun adalah seorang pendekar aliran hitam yang amat terkenal karena kelihaiannya, juga karena kekejamannya.
Terbukti kekejamannya ketika dengan mudah saja ia membunuh si Botak tadi hanya karena ia digoda.
Kian Si dan Hok Gi yang tadinya hendak membeli makanan di kedai itu dan menjadi penontin, tentu saja terkejut dan muka mereka pucat sekali.
Baru tadi mereka menyaksikan perkelahian diatas perahu-perahu itu dan melihat maut menyeret belasan orang, dan kini di depan mata mereka.
Demikian dekatnya, mereka melihat lima orang tewas dengan muka menghitam dan membengkak, mata melotot, dibunuh oleh seorang wanaita cantik.
Tentu saja nyali mereka seperti terbang melayang dan tanpa banyak cakap lagi keduanya meninggalkan tempat itu dengan muka pucat dan keduanya gemetaran.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...