Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 212


__ADS_3

Hong Lan yang kini sudah duduk bersila, berhadapan dengan gurunya, menganggukkan kepala dan mendengarkan penuh perhatian.


"Kau memang selama ini menjadi murid yang amat taat dan baik sekali. Kurang lebih dua puluh enam tahun yang lalu, serombongan bangsawan Nepal bertamasya di dekat perbatasan Nepal dan Tibet. Perwira bersama isteri dan puterinya, berburu binatang sambil berpesiar di daerah pegunungan yang kaya akan binatang buruan itu. Tentu saja perwira itu tidak takut karena ada pasukan pengawal yang dua losin banyaknya menjaga keselamatan dia dan anak isterinya." cerita Beng Cu, dan Hong Lan menyimaknya.


"Tapi pada malam harinya, ketika rombongan itu berhenti dan membuat perkemahan di luar hutan dengan membuat api unggun dan dijaga oleh pasukan pengawal. Tiba-tiba mereka diserang oleh segerombolan perampok yang melepaskan panah api. Tentu saja para pengawal menjadi panik. Terjadilah pertempuran di malam gelap, diterangi oleh sinar api unggun dan api yang membakar perkemahan. Dalam kekacauan itu, para pengawal yang dipimpin oleh perwira itu mengadakan perlawanan mati-matian dan akhirnya gerombolan perampok itu dapat dihalau dan mereka melarikan diri dalam hutan." sambung cerita Beng Cu.


"Apa yang terjadi selanjutnya? Apakah mereka selamat?" tanya Hong Lan yang penasaran.


"Tidak dapat dibayangkan betapa kagetnya perwira itu ketika mendapat kenyataan bahwa dalam keributan itu, anak perempuannya sedang dewasa telah lenyap! Dia mengerahkan pasukan pengawalnya untuk mencari, akan tetapi sia-sia saja karena hutan itu amat luasnya. Isterinya juga tidak dapat mengatakan ke mana adanya anak gadisnya. Dalam keributan itu isteri perwira ketakutan dan bersembunyi saja di dalam tenda. Sebaliknya, gadis itu ingin membantu ayahnya, membawa pedang dan keluar dari tenda. Lalu lenyap tanpa meninggalkan jejak!" jawab Beng Cu dengan panjang lebar.


"Apakah gadis itu dilarikan oleh para perampok itu guru?" tanya Hong Lan yang mencoba menebak.


"Iya, dan ternyata bahwa gerombolan perampok itu menyerang rombongan perwira Nepal bukan untuk merampok harta benda, melainkan memang untuk menculik gadis itu. Sudah sejak memasuki hutan, rombongan itu di ikuti oleh sepasang mata kepala perampok yang tergila-gila melihat kecantikan gadis Nepal itu. Gadis itu meronta dan melawan mati-matian, namun apa dayanya menghadapi para perampok yang bertubuh raksasa? Akhirnya ia menerima nasib dan menjadi isteri kepala perampok dengan terpaksa." jawab Beng Cu yang mengakhiri ceritanya dengan puji-pujian kepada gadis yang diculik kepala perampok itu.


Hong Lan yang sejak tadi mendengarkan penuh perhatian, merasa kecewa, rupanya yang diceritakan oleh gurunya sebuah dongeng sederhana.


Tentang seorang gadis Nepal yang diculik kepala rampok dan dipaksa menjadi isterinya. Akan tetapi dia seorang murid yang baik, tidak mau mengecewakan hati gurunya dan dia berlagak amat tertarik oleh cerita itu.


"Aduh, betapa senangnya kepala rampok itu, guru! Gadis cantik jelita memang tentu saja jauh lebih berharga daripada segala macam harta. Lalu akhirnya bagaimana, guru? Apakah gadis itu akhirnya mau menjadi seorang isteri yang membalas cinta suaminya?" tanya Hong Lan yang penasaran.


"Ha...ha...ha....!"


Beng Cu tertawa bergelak sehingga tubuhnya yang tinggi besar terguncang, mukanya yang seperti singa nampak menyeramkan sekali.

__ADS_1


"Ha....ha...ha....! aku Beng Cu memang bukan seorang laki-laki yang haus wanita, akan tetapi sekali aku jatuh cinta dan menundukkan seorang wanita tentu bertekuk lutut dan menyerah sebulatnya, Ha...ha...ha...!" seru Beng Cu.


"Wah, kiranya Suhu sendirikah kepala perampok itu?" tanya Hong Lan yang menyadari siapa yang diceritakan oleh gurunya itu dan Beng Cu tersenyum lebar


"Dua puluh enam tahun yang lalu masih muda, seorang laki-laki yang gagah dan menarik walaupun ilmu kepandaianku belum berapa tinggi. Puteri bangsawan Nepal itu menyerah, menjadi istriku. Aku benar-benar jatuh cinta padanya, ia pun agaknya dapat membalas cintaku, akan tetapi....." Dan tiba-tiba saja kakek raksasa bermuka singa itu menangis menggerung-gerung seperti orang gila.


Hong San hanya memandang saja dan tidak menegur, akan tetapi dia merasa semakin tertarik.


"Apakah yang telah terjadi, guru? Dan dimana istri guru sekarang?" tanya Hong Lan yang penasaran.


Seperti juga ketika mulai, secara tiba-tiba saja Beng Cu menghentikan tangisnya dan kini sepasang mata yang lebar dan besar itu melototinya memandang kepada muridnya dengan sinar mata penuh kemarahan mencorong dari sepasang mata yang kemerahan itu


"la sudah mati! Ahhh, ia sudah mati ketika melahirkan kau, keparat! Karena itu aku harus membunuhmu untuk menebus dosamu yang menyebabkan kematian orang yang kukasihi!" seru Beng Cu yang tiba-tiba saja menyerang dengan terkaman seperti seekor singa yang sedang marah.


Dengan cepat dia melempar tubuh ke belakang dan tubuhnya berjung balik membuat salto sampai lima kali barulah dia berhasil melepaskan diri serangkaian serangan yang dilakukan gurunya dengan dahsyat.


Serangan kakek raksasa itu merupakan serangan maut yang mengarah nyawanya! Dengan muka agak pucat dan mata mencorong marah Hong San berseru.


"Guru, apakah guru sudah gila?"


Kakek itu menjawab dengan serangan yang lebih hebat lagi. Tubuhnya meliuk-liuk, kedua tangannya membentuk cakar naga, matanya seperti bernyala dan mulutnya yang terbuka itu mengeluarkan suara mendesis panjang dan ada uap tipis keluar dari mulutnya, yang mengandung hawa panas.


Kemudian, dia mengeluarkan suara parau seperti suara burung gagak dan tubuhnya condong kedepan, kedua tangan yang membentuk cakar itu bergerak-gerak seperti menggaruk-garuk atau mencakar ke depan.

__ADS_1


Hong Lan mengerutkan alisnya, karena gurunya telah mengeluarkan jurus andalannya. Sebuah jurus silat tangan kosong yang paling dahsyat dari gurunya, dia maklum bahwa dia tidak akan mungkin dapat menyelamatkan diri kalau menggunakan ilmu silat lain, maka dia meniru gerakan gurunya, tubuhnya meliuk-liuk dan kedua tangannya membenntuk cakar naga, mulutnya mendesir mengeluarkan hawa panas.


Pemuda itu bersiap dengan jurus seperti itu pula, karena dia juga menguasai jurus itu pula.


"Keparat...! Kau adalah pembunuh isteriku tercintaku. Sudah lama kutunggu saat ini. Kau harus mampus di tanganku!" bentak Beng Cu dengan suara lantang.


Hong San tersenyum mengejek, matanya berkilat.


"Hm, coba saja kalau kau mampu!" seru Hong Lan yang diam-diam dia pun merasa penasaran bukan main.


Orang ini adalah gurunya, bahkan mengaku sebagai ayah kandung, akan tetapi kini bersikeras hendak membunuhnya.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2