
Dia merasa betapa tubuhnya ringan dan seperti hendak terbang keatas, seluruh tubuh yang panas itu berdenyut-denyut tidak karuan, seolah-olah setiap saat dada, kepala dan perutnya akan meledak.
Mendengar ada langkah kaki ringan di sebelah kanannya, Kian Beng lalu menyerang ke kanan, memukul dengan kepalan tangan kanannya. Pukulan itu mengeluarkan angin yang mengandung hawa panas sekali.
Mo Li mengelak dari sambaran hawa panas itu dan dari samping ia menampar kearah leher Kian Beng.
"Plakk....!"
Tubuh Kian Beng terpelanting dan anak itu pun tak mampu bangkit kembali.
Tamparan Mo Li itu mengandung racun, dan memang disengajanya ia memukul anak itu terjatuh ke tangan orang lain, anak itu atau darahnya tidak dapat dipergunakan lagi karena mengandung racun maut.
Sebaliknya, ia tentu saja akan mampu melenyapkan pengaruh racun dari tubuh anak itu karena ia memiliki obat penawarnya.
Kian Beng yang tadinya sudah pening, kini mendadak merasa betapa tubuhnya lumpuh. Dia berusaha menggerakkan kaki tangannya, namun gagal dan dia membuka matanya, memandang kepada wanita cantik itu tanpa mampu bergerak lagi.
Ada terjadi keanehan di dalam tubuhnya. Kalau tadinya, tubuh itu seperti menggembung rasanya, seolah-olah kemasukan angin panas dan akan meledak, kini perlahan-lahan hawa panas itu berkurang seolah-olah tubuhnya mulai mengempis dan hawa panas yang berputaran cepat sekali ditubuhnya itu kini mulai agak tenang, ketika dia membuka kedua matanya, pandangannya tidak berkunang dan tidak kelihatan berputaran lagi.
Tiba-tiba rasa mual di perutnya juga hilang dan dia bahkan mulai merasakan suatu kenyamanan yang aneh, seolah-olah orang yang tadinya dipanggang terik matahari kini berteduh di bawah pohon yang rindang, dan menghirup hawa yang sejuk sekali.
Akan tetapi, dia masih belum mampu menggerakkan kaki tangannya yang seperti lumpuh. Ada rasa dingin yang hebat masuk ke tubuhnya melalui leher dan agaknya hawa dingin inilah yang membuat rasa panas di tubuhnya bekurang.
Telah terjadi sesuatu kebetulan yang berulang pada diri Kian Beng. Anak ini mestinya sudah tewas oleh gigitan ular Sungai Kuning, karena gigitan itu mengandung racun yang sangatlah kuat.
Rupanya hawa panas dahsyat yang amat kuat itu yang membuat setiap pukulan Kian Beng tidak dapat ditahan oleh seorang jagoan silat, juga mendatangkan bencana dan ancaman maut lain lagi.
Tubuhnya yang tidak terlatih itu, biarpun masih bersih, tidak kuat menahan kekuatan dahsyat di dalamnya dan Kian Beng terancam maut untuk kedua kalinya. Hal ini nampak ketika wajahnya berubah semakin merah lalu menghitam.
Tapi sama sekali diluar dugaan Mo Li bahwa racun dari kukunya yang sangat kuat dan mengandung hawa dingin, ternyata malah menyelamatkan nyawa Kian Beng.
__ADS_1
Racun dingin inilah yang mengurangi tekanan hawa panas di tubuh Kian Beng sehingga keadaan dalam tubuh anak itu menjadi seimbang. Dan sebaliknya, racun dingin ini pun kehilangan daya serangnya yang berbahaya karena bertemu dengan hawa panas itu.
Dengan demikian racun bertemu racun yang bertentangan itu kehilangan daya serangnya yang mematikan, bahkan sebaliknya dapat menjadi obat yang amat ampuh.
Melihat Kian Beng roboh dan lemas, para tokoh dunia persilatan menjadi girang dan mereka pun kini kembali berebut maju untuk dapat lebih dulu menangkap dan melarikan anak itu.
Sebagian dari mereka ada yang lari untuk menubruk dan melarikan Hok Cu. Akan tetapi, Hua Li sudah meloncat kedepan dan tangan kakinya bergerak cepat dan menyerang mereka yang hendak memperebutkan Kian Beng.
Tiga orang terlempar ke belakang terkena tendangan kaki Hua Li secara beruntun yang menandakan dia sedang marah sekali.
"Dasar kalian manusia-manusia seperti iblis!" bentak Hua Li dengan geram.
"Kalian menjadi kejam dan jahat oleh dorongan nafsu ingin memperoleh darah anak naga. Tidakkah kalian melihat betapa anak ini menderita dan keracunan hebat!" lanjut seru pendekar kecapi itu yang wajahnya sudah memerah.
"He...he...he..! pendekar kecapi, jangan berlagak menjadi pendekar budiman! kau sendiripun memperebutkan anak naga dan tentu kau menginginkan pula darah anak itu!" seru Mo Li yang terkekeh dan menatap Hua Li dengan tajam.
"Iblis betina selaksa racun!" seru Hua Li yang menyebut julukan wanita itu.
"Aku sama sekali tidak menginginkan darah anak ini, melainkan hendak melindunginya karena dikeroyok oleh jagoan-jagoan dunia persilatan yang tidak tahu malu!" lanjut seru Hua Li seraya melirik ke arah para pendekar-pendekar dari dunia persilatan, terutama aliran hitam itu.
"Bohong!" seru Mo Li yang juga melirik kepada semua tokoh yang mengepung tempat itu.
"Siapa yang tidak tahu bahwa tadi kau telah pula menelan mustika naga itu!" seru Mo Li yang menatap Hua Li dengan tajam.
"Memang benar, akan tetapi aku hanya ingin melindungi anak ini karena dialah yang tadi memberikan anak naga itu kepadaku." kata Hua Li yang membela diri.
Mendengar hal ini, para tokoh dunia persilata sudah menerjang lagi dan disambut oleh pendekar kecapi ini dengan jurus-jurus tangan kosongnya.
Kini pendekar kecapi yang dikeroyok, akan tetapi dia memang hebat bukan main, ilmu silatnya tinggi dan tenaga dalamnya yang sukar dilawan. Sehingga banyak diantara para pengeroyok itu roboh oleh pukulan atau tendangan kakinya.
__ADS_1
Seorang pendekar dunia hitam yang masih muda, usianya kurang lebih dua puluh lima tahun, bertubuh pendek kate dan jubahnya berwarna kuning, di punggungnya terdapat sebuah pedang yang panjang, meloncat kearah Hok Cu dan cepat sekali tangannya menyambar tubuh anak itu dan dibawanya lari.
"Hei keparat, kembalikan bocah itu kepadaku!" seru Mo Li dengan gerakan tubuhnya yang ringan bagaikan seekor burung wallet, Mo Li sudah berlari mengejar. Ia melihat Kian Beng masih lumpuh sedangkan Hua Li dikeroyok banyak orang.
Dia memperkirakan bahwa tidak akan ada yang mampu melarikan Kian Beng, maka lebih dulu ia harus merampas anak perempuan itu lebih dahulu. Mo Li tidak akan membiarkan siapapun melarikan dua orang anak itu yang akan dibawanya semua.
Pendekar aliran hitam yang melarikan Hok Cu itu pun memiliki jurus meringankan tubuh yang tinggi, karena itu dia lari dengan cepat dan hebat.
Dia adalah Tung Hai, seorang pendekar aliran hitam yang ditugaskan oleh gurunya untuk mendapatkan anak Naga di sungai Kuning.
Sebagai seorang tokoh dunia persilatan tentu saja Tung Hai ingin mendapatkan anak naga karena mematuhi mandat gurunya. Dia membutuhkan mustika dan darah naga karena menurut dongeng, satu diantara khasiat darah naga dan mustika naga itu adalah memperpanjang usia.
Tung Hai ditugaskan oleh gurunya, karena gurunya sudah berusia tujuh puluh tahun dan merasa betapa usia tua menggerogoti tubuhnya dan kekuatannya. Karena itu, dia ingin sekali mempermuda gurunya dan memperpanjang usianya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1