
Gadis itu kembali menghela napasnya panjang dan mengeluarkannya pelan-pelan.
"Kamu benar sekali, kakak Ceng. Mari kita lanjutkan perjalanan." kata Hua Li yang kemudian turun dari atas batu besar itu dan diikuti oleh Liu Ceng.
Mereka berdua lalu melanjutkan perjalanan menuju ke arah utara untuk mencari Liu Hong.
...****...
Sementara itu Yauw Lie duduk di atas akar pohon yang tersembul memanjang dari permukaan tanah di tepi hutan kecil dan Liu Hong duduk di sebelahnya.
Mereka berada di sebuah lereng yang tinggi dan pemandangan indah terbentang di bawah, depan mereka. Sejenak Liu Hong memperhatikan wajah Yauw Lie, wajah yang cantik jelita dan melihat rambut halus melingkar di leher yang putih halus itu, dia tidak dapat menahan gelora hatinya dan membelai rambut halus di leher gadis itu.
Yauw Lie menggelinjang dan menoleh kepada pemuda itu, tersenyum senang melihat betapa pandang mata pemuda itu penuh kasih sayang kepadanya.
"Adik Yauw, kamu sangat cantik jelita." ucap Liu Hong lirih dan mengulas senyum khasnya yang membuat Yauw Lie merasa senang bukan main.
Selama ini, sejak peristiwa di dalam gubuk di mana karena pengaruh obat perangsang Liu Hong menyerahkan diri kepada Yauw Lie, hubungan antara mereka berdua menjadi semakin mesra dan akrab.
Liu Hong selalu memperlihatkan sikap yang amat menyenangkan hatinya. Pemuda itu amat mencinta Yauw Lie, juga menghormatinya, sikapnya selalu sopan sehingga Yauw Lie pun semakin jatuh cinta.
Yauw Lie pun tersenyum dan di lain saat ia sudah menyandarkan kepalanya di bahu pemuda itu yang merangkulnya.
"Kakak Hong, katakan bahwa kau masih mencintaku," kata Yauw Lie.
"Adik Yauw, Kenapa kau berkata demikian? Kata masih mencinta itu menunjukkan seolah cintaku kepadamu belum hilang dan kelak akan hilang! Tidak, Adik Yauw aku bukan masih mencintamu, melainkan selama hidupku akan mencintamu, bahkan setelah mati kelak aku ingin selalu bersamamu." jelas Liu Hong yang mengusap dengan lembut kepala Yauw Lie.
Yauw Lie menghela napas dengan hati merasa bahagia sekali dan ia menyandarkan kepala di dada yang bidang itu dan memejamkan matanya. Bibirnya tersenyum manis.
"Adik, aku ingin engkau ikut bersamaku ke Pulau Ular menemui Ayah dan kedua orang Ibuku dan di sana dan kita langsungkan pernikahan di sana." kata Liu Hong.
"Kakak Hong, apakah engkau sungguh mencintaku?" tanya Yauw Lie yang meyakinkan dirinya.
Mendengar pertanyaan ini, Li Hong menegakkan diri dan memandang wajah pemuda itu dengan heran dan penasaran.
"Adik, kenapa engkau bertanya begitu? Bukankah aku telah menjadi suamimu walaupun hal itu belum diresmikan orang tuaku? Tentu saja aku mencintamu!" seru Liu Hong yang berusaha meyakinkan hati pujaan hatinya.
__ADS_1
"Kau akan tetap mencintaku walaupun andaikata aku orang macam apa, bangsa apa, golongan apa dan siapapun juga orang tuaku?" tanya Yauw Lie yang menatap wajah Liu Hong.
"Aneh-aneh saja pertanyaanmu ini, adik Yauw. Bukankah orang tuamu telah tiada?" balas tanya Liu Hong yang penasaran.
"Jawab dulu pertanyaanku tadi, kakak Hong, karena jawaban itu amat penting bagiku!" seru Yauw Lie yang sedikit memaksa.
"Baiklah, adik Yauw. Aku tetap mencintaimu walaupun kamu bangsa apa pun dan siapa pun orang tuamu. Aku telah menjadi isterimu dan selama hidupku aku akan tetap menjadi isterimu yang dicinta dan mencinta. Hanya kematian yang dapat memisahkan kita!" jawab Liu Hong dengan tegas.
"Kakak Hong......!"
Panggil Yauw Lie yang menatap dengan lembut wajah Liu Hong dan pemuda itu kemudian merangkulnya dan mencium dahi gadis itu dengan mesra.
"Bahagia sekali hatiku mendengar jawabanmu, menjadikanmu kekasih dan calon isterimu!" seru Yauw Lie.
"Akan tetapi, mengapa engkau bertanya seperti itu, kakak Hong?" lanjut tanya Yauw Lie yang penasaran.
"Tentu saja, adik Yauw. Aku ingin hidup denganmu sebagai suami isteri yang diresmikan orang tua. Akan tetapi tidak sekarang."kata Yauw Lie.
"Adik, apakah engkau ingin mencari harta karun itu lebih dulu?" tanya Liu Hong yang penasaran.
"kakak Hong, aku minta maaf kepadamu, sesungguhnya aku berbohong ketika mengatakan bahwa orang tuaku telah meninggal dunia. Sebenarnya, Ayah Ibuku masih hidup. Karena itu, urusan pernikahan, untuk meminangmu maksudku, harus dilakukan oleh orang tuaku kepada orang tuamu." jelas Yauw Lie.
"Ah, bagus sekali! Aku ikut girang bahwa ayah ibumu masih ada, adik. Siapakah mereka dan di mana mereka tinggal? Mari kita menghadap mereka, adik!" seru Liu Hong dengan mengulas senyumnya.
Yauw Lie menggelengkan kepalanya.
"Bersabarlah, kelak kamu pasti akan mengetahui dan yakinlah bahwa mereka akan menikahkan kita secara resmi, kakak Hong cinta dan percaya padaku, bukan? Aku berjanji, setelah selesai urusanku di sini, kakak Hong pasti akan kuajak menemui orang tuaku!" kata Yauw Lie yang menatap Liu Hong.
Sedangkan Liu Hong dengan terpaksa menganggukkan kepala walaupun hatinya merasa penasaran dan heran sekali. Ia tidak ingin memaksa dan, membikin kekasihnya menjadi tidak senang.
Tiba-tiba Yauw Lie melompat tangan kirinya meraih ke kantung senjata rahasianya dan cepat ia mengambil beberapa batang Jarum Racun Hitam yang menjadi senjata rahasianya yang ampuh. Akan tetapi Liu Hong menangkap lengannya.
"Tenang, adik Yauw. Jangan sampai salah menyerang!" seru Liu Hong dengan kedua matanya yang tetap waspada memandang ke arah jajaran pohon besar darimana ia tadi mendengar gerakan orang.
Muncul lima orang yang memiliki gerakan ringan, berpakaian seperti petani biasa namun sikap mereka gagah berwibawa. Lima orang itu dengan gesit berlompatan ke depan Yauw Lie dan tiba-tiba mereka menjatuhkan diri berlutut di depan gadis itu dengan sikap hormat sekali.
__ADS_1
"Hemm, ada kepentingan apa kalian menghadap tanpa dipanggil?" tanya Yauw Lie dengan memandang tajam dan mengerutkan sepasang alisnya..
Seorang di antara lima orang itu, yang bertubuh tinggi kurus, berusia sekitar empat puluh tahun, berkata setelah menempelkan dahi ke atas tanah.
"Mohon beribu ampun, tuan putri. Karena ada berita penting sekali, maka hamba berlima memberanikan diri menghadap tanpa dipanggil. Ampunkan kalau kami mengganggu." kata orang itu dengan ketakutan.
"Cepat katakan! Ada berita penting apakah itu!" seru Yauw Lie yang membuat Liu Hong sangat penasaran.
"Ada berita bahwa harta karun telah ditemukan oleh Panglima Lim Bai dan pasukannya. Kini mereka sedang bergerak membawa harta karun turun gunung, di sebelah selatan lereng sana." jawab orang itu seraya menunjuk ke arah lereng tak jauh dari situ.
"Hemm, bayangi dan selidiki, kerahkan pasukan untuk membayangi dan jangan lepaskan mereka!" perintah Yauw Lie.
"Baik, tuan putri. Hamba mohon pamit!" balas kelima orang itu dengan menjura hormat pada Yauw Lie.
"Sekarang pergilah!" seru Yauw Lie dan ke lima orang itu melompat dan lenyap di antara pohon-pohon dalam hutan.
LiubHong masih berdiri terbelalak. Matanya terbuka lebar-lebar menatap wajah Yauw Lie dan mulutnya ternganga. Ia seolah telah berubah menjadi patung saking kaget dan herannya. Ia merasa seperti bermimpi.
"Apa adik Yauw seorang putri raja?" gumam dalam hati Liu Hong yang belum percaya dengan yang dia lihat dan dengarkan.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
... ...
__ADS_1